Perempuan.

Karena Perempuan ingin Dimengerti

Perenunganku malam ini dimulai dengan beberapa pertaanyaan.

  1. Ada apa dengan wanita itu? Apa bedanya dengan lelaki? Haruskah di bedakan atau malah disamakan?
  2. Apakah perempuan modern lebih mengenal dirinya dari pada perempuan di fajar sejarah manusia?
  3. Di manakah tempat perempuan seharusnya? Apakah tempat perempuan modern sekarang sudah benar? sudah layak?
  4. Akhir-akhir ini selalu terdengar dari berbagai sudut tentang feminisme, gerakan khusus untuk perempuan, kenapa tidak ada gerakan khusus untuk laki-laki?

Aku akan mencoba memberikan opiniku tentang semua pertanyaanku. Mungkin akan aneh mengapa aku menanyakan hal itu padahal akunya sendiri perempuan. Tapi bukankah kita di ciptakan di dunia ini meski sudah diberi suatu identitas (sebagai manusia, anak dari A, beragama B, dsb) tetap ingin mencari jati diri untuk membedakan kita dengan manusia lain? Hal normal seperti ini, bukankah menarik bila dipertanyakan untuk hal yang lebih global? Bahkan ada hadist yang mengatakan, “Kenalilah dirimu maka kau akan mengenal Tuhan-Mu?” Jangan tanyakan hadist ini sahih atau tidak, sanadnya bagaimana. Tanyakan pada Gilang Pangestu PL 14, mungkin dia bisa menjawab. wallahualam.

P.s: Yang aku ungkapkan di sini perempuan pada umumnya. Karena aku bukan perempuan pada umumnya..

Pertama

Coba kita tengok dalam keseharian kita. Ada kolom khusus perempuan dalam koran. Ada majalah khusus perempuan. Ada grup line yang isinya khusus perempuan. Kalau ke kamar mandi, sukanya bergerombol. ke mana minta ditemenin. Rasanya ngga afdol kalau cuma sendirian. Kenapa? Just because. Karena memang perempuan seperti itu. Itu seperti menanyakan kenapa jerapah makan daun. Atau kenapa kamu akan berhenti di depan toko buku, dan kamu melihat komik favoritmu telah terbit.

Lalu, perempuan menurutku tak bisa sama sekali disamakan dengan perempuan. Dalam hal apapun. Tanpa terkecuali. Kenapa harus disamakan? Memang derajat lelaki lebih rendah atau lebih tinggi dibanding perempuan? Aku rasa, entah harkat, martabat, derajat, atau apapun itu namanya antara perempuan dan lelaki adalah sama. Aku sangat suka quotes ini.

“Mereka, perempuan itu adalah pakaian bagi kamu, dan begitu pula kamu para lelaki adalah pakaian bagi perempuannya.”

Begitu manis, ya? Seperti guna pakaian yang diciptakan untuk melindungi tubuh dari sengat matahari, dingin, badai. Itulah fungsi adanya perbedaan gender. Mereka memiliki fungsi tersendiri dan saling berguna satu sama lain. Di sini terlihat juga bahwa perempuan dan lelaki itu setara, bukan sama. Maka, jangan samakan. Adil bukan berarti memberikan setiap aspek, porsi yang sama besar antara perempuan dan laki-laki, bukan? Karena perempuan bisa menahan sakit lebih besar dari laki-laki, dan kita lebih pemaaf, lemah lembut, memiliki perasaan antar manusia lebih, bukankah perempuan lebih keren? Hohohoo

Btw, quotesnya ngambil dari QS. al-Baqarah [2]:187.

Kedua

Orang banyak berfikit perempuan yang hebat adalah wanita karir. Menjadi wanita terhormat yang disegani. Seperti tokoh-tokoh perempuan di drama The Great Queen Seon Dok. Drama yang diambil di dinasti Shilla — salah satu dinasti jaya Korea Selatan. Di dinasti ini, wanita bisa menduduki kursi strategis dalam kerajaan. Disamping karena mereka juga menganut matrilineal juga ajaran konfusius belum memiliki pengaruh sampai abad 15. Saat itu perempuan bisa menjadi bupati, penasehat, bahkan ratu. Yea, kamu harus memiliki wawasan yang luas, orang yang luwes tapi tegas, puitis dan rasional sehingga semua orang akan mendengarkan apa yang kamu katakan. Dalam film ini adalah Mi Shil yang menjadi wanita sekeren itu. Tapi akhirnya, anaknya satu-satunya, Bi Dam, berdiri melawan ibunya dan berakhir tanpa bisa bersanding dengan wanita yang dia kasihi. It just tear my heart into 200 apart.

Intinya, kita tak bisa mengklarifikasikan perempuan menurut periode waktu. Karena perempuan yang katanya hanya suka duduk di dapur itu, bisa membuat kosmetik sendiri, membuat obat sendiri, memasak masakan lebih enak dan banyak dari warung manapun. Plus, i dont have that much data kalau rerata perempuan era itu. Juga, sorry to say, aku bukan perempuan modern. aku perempuan milineum. Modern kan saat revolusi industri. Thats so long time ago. #ngeles

Tiga

Aku dengar, kelompok Hippies menentang dan tidak suka adat yang menyebutkan perempuan harus di dapur, membersihkan rumah, dan tidak melakukan pekerjaan yang memerlukan otot. Lalu lelaki mencari bahan makanan dan memperbaiki fasilitas. Sekumpulan manusia ini, yang juga terdiri perempuan dan lelaki yang kuat, memutuskan memisahkan diri mendirikan kemah-kemah atau sejenisnya. Tapi kemudian, perempuan kembali yang memasak bersih-bersih sedangkan lelaki memperbaiki.

Selama kita senang dengan apa yang kita lakukan, meski dikata orang “hanya” menjadi ibu rumah tangga itu layak. Menjadi ketua wisuda terpusat seperti Andirana Kumalasari SI ’14 misalnya, kalau dia punya kapabilitas. Yaudah. Jadi ratu suatu negara seperti di Inggris, kalau rakyatnya percaya dan mau mendengarkan dia, layaklah dia.

Tapi memang, tidak semua perempuan memiliki kesempatan ini. Ada yang tidak seberuntung itu untuk mengetahui hak yang ia miliki atau memiliki pilihan yang menyenangkan untuk diambil hingga memutuskan untuk lebih memilih suara terbanyak di sekitar lingkungan mereka. Diperlukan generasi pertama yang membuka jalan di lingkaran-lingkaran mereka.

Ada satu hak yang suka diperdebatkan. Soal bagaimana cara berpakaian. Ada yang mengatakan perempuan memiliki hak untuk berpakaian seperti apapun. Untuk memakai yang minim, itu adalah hak mereka. Karena itu hal yang mereka anggap wajar. Tapi bagiku itu adalah eksploitasi terhadap tubuh perempuan itu sendiri. Menurutku, tubuh memiliki hak mereka untuk dilindungi dari jalanan berpolusi, terik matahari, dinginnya malam. Bukan di ekspos dan dikonsumsi keindahannya untuk orang banyak. Kalau itu menurut kalian menjadikan perempuan terhormat, kalian pasti sedang kerasukan — entah nafsu atau setan.

Keempat

Ada feminisme, kenapa tidak ada maskulinisme? Padahal ada suami-suami takut istri, dkk. Kenapa? Tanya aja para lelaki. I dunno. Tapi kurasa mereka selalu ingin terlihat mandiri. 
“Aku bisa menyelasaikan semua ini sendiri.”
“Biarkan aku menyelasaikan masalahku dengan caraku sendiri.”
Bau-baunya seperti itu. Wahaha.


Terakhir nih, pernah denger ngga, “Mau digimanain juga, sekali kita wanita, ngga bisa diubah. Udah kodratnya gini.”
Awalnya aku ngerasa itu kayak nunjukin, wanita emang selemah itu ya? Tapi kemudian, kodrat kita, seperti jadi yang mengandung 9 bulan dan melahirkan ngga akan bisa berpindah jadi kodrat lelaki. (Jangan terlalu kemakan logika film, plis) juga kodrat turunan lain seperti biasa merasa sakit di tiap bulan, sifat keibuan yang membuat seorang ibu rela berkorban seharga nyawa untuk orang yang dikasihinya.

Kok jadi baper ya, pengen balik ke rumah.

Hmm