Sekolah Hurung Bagian 1

“Lantai Bumi Di Hantam Beton”

Pemerintah Indonesia memberikan prioritas yang tinggi kepada pembangunan infrastruktur di Indonesia. Pada APBN 2015, anggaran infrastruktur pun meningkat drastis menjadi Rp 290,3 T. Angka tersebut naik sekitar Rp 84 T dibandingkan APBN 2014. Bahkan dalam APBN 2016, pemerintah menargetkan anggaran infrastruktur lebih tinggi sebesar 313,5 T meski pada tahun 2015, sumber dana untuk anggaran infrastruktur, yaitu pajak dan PNPB jatuh. Maka, untuk mendapatkan dana, diberlakukanlah tiga kebijakan: pengampunan pajak (Tax Amnesty), Pemotongan anggaran dan penambahan utang. Diharapkan pembangunan infrastuktur dapat meningkatkan ekonomi Indonesia agar semakin tinggi. Dikalkulasikan apabila infrastruktur semakin baik, pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mencapai 7–8 persen per tahun. Karena infrastruktur yang tidak memadai menjadikan biaya logistik menjadi salah satu yang tertinggi di dunia dan menjadikan daya saing Indonesia rendah. Pemerintah telah menetapkan sejumlah target ambisius yang direncanakan tercapai. Salah satunya adalah proyek KCIC (Kereta Cepat Indonesia China) dengan jalur Jakarta-Bandung. Proyek yang bekerjasama dengan China itu direncanakan akan melewati beberapa stasiun, yaitu: Stasiun Gambir, Stasiun Manggarai, Stasiun Halim, Stasiun Karawang, Stasiun Walini dan berakhir di Stasiun Gedebage. Setiap stasiun akan dijadikan pembangunan sentra ekonomi baru. Seperti Karawang dibangun untuk menjadi Kota Industri, Walini sebagai pusat pendidikan dan agrowisata, dan Bandung sebagai Kota Teknopolis

Dalam proses pembangunan yang dilakukan, dibentuk konsorsium BUMN yang terdiri dari WIKA, KAI, Jasa Marga, dan PTPN VIII yang bernama PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI). Presiden mengeluarkan Perpres 107/2015 yang secara tegas mengatakan bahwa pemerintah tidak menjamin proyek ini secara finansial. Sehingga ditandatangani JV Agreement antara PSBI dan China Railway untuk membangun KCIC dengan sistem business to business. Kini KCIC telah memasuki tahap pembangunan. Hal ini termuat dalam Keputusan Direktur Jenderal Perkeretaapian Nomor HK.601/SK.05/DJKA/3/16 tentang Pemberian Izin Pembangunan Prasarana Perkeretaapian Umum untuk Trase Jalur Kereta Api Cepat Jakarta dan Bandung Segmen CK 95+000 sampai CK 100+000.

Pada tanggal 28–30 Mei bersama Akar Rumput, dan SOSPOL KM ITB melakukan Ekspedisi trase KCIC yang di sekitar Stasiun Walini. Walini merupakan Kota Baru yang akan dibangun oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat di Cikalong Wetan dengan fasilitas dari KCIC berupa terminal terpadu, 6600 unit apartemen, 2200 kamar hotel bisnis, 3080 kamar hotel ekonomi, 2.208.000 m2 perkantoran, 4049.280 m2 lahan komersial, dan 200 ha lahan perumahan. Dari 11.293 Ha yang dimiliki Walini akan dipakai lebih dari 850 Ha untuk proyek KCIC. Padahal dalam Peraturan Daerah No 1 Tahun 2008 tentang Kawasan Bandung Utara, Kecamatan Cikalong Wetan ditetapan sebagai daerah yang pembangunannya harus dibatasi sesuai pasal 4 yang mengatakan bahwa KBU berfungsi sebagi daerah tangkapan air, peresap dan pengalir air bagi daerah bawahnya (Bandung).

Dalam era pembangunan infrastruktur yang diagungkan dalam era kepemimpinan Presiden Joko Widodo, akan ada harga yang harus dibayar. Termasuk alam yang akan ditutupi oleh beton yang akan menjadikan hujan langsung menyentuh lantai bumi. Dengan demikian, koefisien limpasan tanah akan semakin tinggi dan tentu hal ini akan berdampak tak langsung terhadap kehidupan yang ada di dalam dan disekitarnya yang mengandalkan KBU untuk mendapatkan pasokan air bersih. Di sisi lain, monografi Walini baik dari aspek pendidikan, kesehatan, demografi, dan beberapa hal lainnya belum memenuhi kualifikasi dijadikan sebagai basis kota pendidikan dan agrowisata. Bagaimana bisa sebuah wilayah dijadikan kota pendidikan ketika 4774 orang dari 8384 tidak tamat SD? Bukankah lebih baik memperbaiki pandangan yang mengatakan perlu uang 100 juta untuk bisa sekolah? Atau pikiran untuk apa kuliah agar bisa bekerja sedangkan anak SMA saja sudah bisa bekerja di pabrik?

Tapi sungguh. Jangan katakan mereka pemalas karena tidak berusaha mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Mereka bahkan bangun saat ayam pertama berkokok, satu jam sebelum shubuh. Seharian mengurus kebun orang lain, atau ada juga yang mengurus kebun di samping-belakang rumah. Tapi masih juga memikirkan hiasan di jalan desa untuk menyambut 17 Agustus.

Saat itu aku memikirkan, dan mengerti bagaimana penduduk ini ekonominya semakin miskin dan semakin miskin dan penduduk kota yang kaya secara ekonomi akan bertambah kaya. Lalu, ketika kereta cepat akan menghantam tanah Panglejar nanti, kekayaan budaya dan keterikatan sosial mereka akan semakin miskin juga. Jika KCIC yang sudah diprediksi tidak akan selesai itu terus berjalan dan memakan korban tanah bumi ini terus dan terus, bukan hanya air yang tak bisa digunakan lagi kurasa. Tapi juga psikologi ruang dan manusia, yang kemudian hanya akan menambah enigma dalam pikiran kita. Kenapa tak habis pikir pemerintah melakukan ini?