“Saya tak bisa komentar karena tidak tahu bagaimana keadaan sebenarnya.” Mudah saja, jajanlah ke sana! Berbincang dengan mereka. Mereka mudah menceritakan segala.
Hardikku pada mereka yang masih menanyakan apa kabar peraturan.
Yulida Rachma
32

Setelah membaca komentar mama sita, saya mulai mencoba menerka sedikit. Mungkin soal kepemilikan lahan, mungkin soal sejarah mereka siapa yang lebih dulu di sana, mungkin soal kepentingan siapa yang berputar di sana, mungkin soal peraturan yang berlaku dan pelanggaran yang mana, di bagian mana mereka merasa dirugikan (lebih seringnya hak mencari nafkah). Dan kemungkinan soal2 lain.

Ya, mungkin juga pantaslah untuk tak bisa bersikap. Karena proses berfikir belum selesai. Data dianggap tidak ada, tidak valid, dsb, dst. Kalau aku bertindak atas nurani. Yang kemudian akan kucari logikanya. Karena semua logika bisa saja dibuat. Tinggal kamu mau pilih yang mana.

Mungkin para pemimpin itu memikirkan itu. Atau memikirkan kuasa, harkat, martabat diri dan label. Aku tak tahu. Yang aku tahu beberapa tidak. Maaf, aku hanya kesal dengan semua carut marut ini. Maaf jadi panjang.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.