Tarian Hujan

Pembasuh Luka, Pembangkit Kenangan

Ada seorang anak kecil berumur 12 tahun yang tinggal di sebuah kota bernama Hinterland. Rambutnya merah karena terkena sinar matahari dan sedikit ikal. Kulitnya gelap. Katanya, ia jarang mandi. Sekedar catatan, baginya ‘sering’ adalah dua hari sekali. Namanya sangat keren, Kasumba Megantara. Dia punya dua kepribadian yang berbeda. Kadang dia seperti kuda perang yang mengamuk seenaknya, tapi terkadang dia lembut seperti bunga sakura yang jatuh pada musim semi. Mengapa aku mengatakan seperti itu? Karena pertemuan pertamaku dengan pangeran kecil ini begitu menempel di ingatanku.

Sore itu bukan hari yang cerah sejujurnya. Angin begitu kencang, petir dan gemuruh bergantian berlomba suara. Aku berada sedang berteduh di bawah tenda yang sebenarnya ada beberapa lubang di atasnya. Tapi apa peduli? Ini seribu lebih baik dari pada terkena air hujan. Lalu anak itu yang entah dari mana datangnya, bertanya. “Kenapa orang-orang takut dengan hujan?” katanya sambil melihat orang-orang yang berlarian menembus hujan menuju tempat yang teduh. Dia tidak ada bekas terkena air hujan, hanya cipratan dari tanah. Aku mengerutkan dahiku. Apakah anak ini sedang bertanya dengan dirinya sendiri, atau bertanya pada orang-orang yang ada di sekitarnya? Tapi sepertinya orang-orang sibuk dengan mereka sendiri dan kelompok masing-masing.

Ketika dia menoleh padaku, datanglah gelombang bingungku yang kedua. Haruskah aku menjawab atau diam saja? Lalu datang gelombang-gelombang lain. Haruskah aku menjawab dengan lelucon atau serius? Lalu serius yang seperti apa agar seumuran dia mengerti? Tapi bukankah anak kecil zaman sekarang lebih pintar dari pada zaman dahulu. Sepupu kecilku saja sudah tahu siapa itu awkarin padahal aku nonton videonya saja belum pernah. Wasemeleh.

“Memangnya hujan salah apa? Apa dia jahat?” Matanya berkilat-kilat. Antara amarah dan kekecewaan yang terkumpul menjadi satu. Seakan ia akan berada di garda terdepan yang akan menjadi haters si hujan. Ini sangat langka, aku seperti melihat seorang pemikir kelas tinggi atau bisa juga seorang pemuda putus cinta. Tapi apapun yang membuatnya berkata seperti itu, aku rasa ia akan melakukan apapun. Seperti kuda hitam di area perang.

“Kenapa kamu berfikir seperti itu?”

“Aku merasa hujan itu seperti kami. Hujan dijauhi oleh semua orang. Orang-orang takut terkena kami. Padahal kami ada di semua tempat. Orang-orang tak akan bisa menjauhi kami. Akan terus bertemu.”

“Orang-orang takut bersentuhan dengan hujan karena mereka takut akan sakit. Karena hujan bersama dengan angin yang meniupkan hawa dingin.”

“Aku tidak takut terkena air hujan. Dulu kami sering bermain hujan bersama.”

“Kami?”

“Iya. Aku dan teman-temanku.” Raut mukanya tiba-tiba berubah. Aura di sekelilingnya memburuk, dingin. Apakah karena efek hujan?

“Lalu di mana temanmu yang lain? Kenapa sekarang engga main hujan? Apa sekarang mereka tidak suka bermain hujan?” Matanya tetap lurus ke depan. Ia terdiam cukup lama.

Hujan perlahan berhenti. Tetapi gerimis masih menari-nari di udara. Angin tidak lagi berhembus sekencang tadi, tapi dinginnya masih menyeruak

“Mereka tidak mungkin tidak suka hujan. Mungkin di tempat lain mereka akan melakukan ritual yang sama denganku.”

“Ritual?”

“Ya, mau aku tunjukkan?” tanpa mendengar jawabanku, ia berlari menuju tengah lapangan. Hujan yang awalnya sudah mulai reda, mendadak kembali menderas. Aku meneriakinya agar kembali ke tenda. Tapi sepertinya ia tak mendengar, karena suara hujan yang menghujam bumi lebih keras. Tapi sepertinya, ia tak mau dihentikan. Ia seakan menari di bawah hujaman air hujan, berlenggak lenggok ke sana ke mari. Lalu diakhiri dengan tangannya yang direntangkan, diam di tengah lapanga. Seakan membiarkan hujan menyampaikan pesan kepada teman-temannya di jauh sana, aku masih di sini.

Hujan perlahan berhenti, aku melihat semburat pelangi di atas kepala bocah itu. Aku berlari ke arahnya.

“Hei, siapa namamu?”

“Kasumba, Kasumba Megantara.” Aku tersenyum dan bertepuk tangan untuknya.

“Tarian hujanmu bagus sekali, Kasumba.” Dia tersenyum lebar. Wah, wah. Lihat anak ini. Dia memang anak kecil. Senyum polos khas anak kecil yang membuatmu tenang. Seperti kelopak bunga sakura yang jatuh dari pohonnya.

“Pulang sana, mandi gih. Yuk, aku anter.”

Tiba-tiba pundakku ditepuk. Seorang perempuan berambut panjang menghampiriku. “Hei, yul. Dari tadi kamu bicara sendiri dan berlari terus ketawa-ketiwi. Kamu baik-baik aja kan?” Aku menatapnya heran.

“Kau pikir aku gila apa? Aku itu lagi — ” Aku menengok ke arah Kasumba tapi ia sudah tidak ada di sana. Aku terdiam.

“Kayaknya kamu mesti pulang deh. Kelamaan di sini bisa-bisa bikin kamu gila beneran.” Aku masih mencari-cari kemana jejak anak itu pergi. Tapi aku hanya menemukan genangan air dan puing-puing rumah.

“Eh?” Aku masih setengah sadar. Aku kembali ke dalam tenda dan berfikir kembali. Tidak, waktu itu aku tidak bisa berfikir selain yasudahlah dengan semua. Tapi kemudian, meski itu imajinasi, aku rasa semua orang di sini adalah Kasumba. Yang merasa seperti hujan, di jauhi, dan tidak di sukai karena sering membuat banjir. Tapi bukan hujan yang membuat kota banjir. Tapi karena sebagian besar tanah sudah tertutup beton, atau karena saluran air yang buruk. Hujan hanya mengikuti fitrah mereka, yang mengalir dari tinggi ke rendah juga menempati lalu memenuhi ruang. Jika ada massa jenis yang lebih berat, ia akan menenggelamkannya dan apabila massa jenisnya lebih rendah, ia akan mengangkatnya. Dalam hal kota, siapa yang menjadi beton dan membuat banjir?

Aku rasa jawabannya ada di ujian esok hari.

Yuls.
Hari ke 283 , Minggu ke 41, Kuartal Pertama, 2016