Lagu BTS Membuatku Mencintai Diriku Sendiri

Pada pertengahan tahun 2014, ada seorang kakak tingkat yang membuatku jatuh cinta. Perasaan itu berawal dari rasa nyaman yang aku dapatkan setiap kali mengobrol dengannya melalui pesan singkat. Aku merasa cocok dengannya dalam beberapa hal. Di usiaku yang masih sangat muda kala itu (19 tahun), aku pikir aku telah menemukan sosok yang tepat untuk aku jadikan pacar. Begitulah aku berharap kelak aku bisa berpacaran dengannya.
Tapi, yang namanya kehidupan memang tidak seindah drama Korea. Seiring waktu yang berjalan, aku menyadari bahwa sesungguhnya kakak tingkat yang aku cintai itu justru sedang mengincar teman dekatku. Aku mendapat suatu firasat bahwa dia mendekatiku hanya untuk mengorek informasi lebih jauh tentang teman dekatku. Apapun motif tersembunyi yang dia miliki, aku tidak pernah tahu. Yang aku tahu adalah cintaku bertepuk sebelah tangan.
Meski bukan kali pertama aku mengalami patah hati, tapi kala itu hatiku benar-benar hancur. Aku terlanjur berharap bisa memilikinya, aku terlanjur yakin bahwa dia adalah sosok pria idaman yang aku cari selama ini. Aku bahkan telah menghancurkan harga diriku sebagai perempuan dengan menyatakan perasaanku kepadanya, yang jelas saja tidak dia terima.
Butuh waktu lama untuk bangkit dari luka itu. Minggu berganti bulan, bahkan dua hingga tiga tahun berlalu, tapi aku masih belum bisa melupakan rasa sakit itu. Sejak kejadian itu aku berpikir bahwa aku memang perempuan yang tidak layak dicintai. Kenyataannya, teman dekatku yang dicintainya memang lebih cantik dan lebih baik dariku. Pokoknya lebih dari segalanya. Aku tidak ada apa-apanya dibandingkan dengannya. Kala itu, aku hanyalah mahasiswi biasa yang terlalu pendiam untuk mendapatkan banyak teman, aku tidak aktif di berbagai macam organisasi, aku canggung berada dekat dengan laki-laki (ada suatu trauma yang membuatku takut untuk dekat dengan laki-laki, bahkan sekadar jalan melewati segerombolan laki-laki).
Karena kakak tingkatku itu mendekatiku terlebih dulu, bahkan memberikanku sebuah kenyamanan yang secara tidak langsung menjadi obat bagi rasa trauma yang aku alami sejak SMA; tentu saja aku berharap banyak kepadanya. Harapan berbanding lurus dengan rasa sakit yang akan kita terima. Jadi, ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapanku, rasa sakit yang aku rasakan saat itu begitu besar hingga aku menyalahkan diriku sendiri.
Aku tidak pernah menyalahkannya karena menolak cintaku. Selama bertahun-tahun aku terus menerus menyalahkan diriku sendiri karena terlalu mudah terbawa perasaan. Gampang baper, kalau kata anak muda jaman sekarang. Kira-kira hingga tahun lalu, aku selalu berpikir bahwa rasa sakit yang aku terima adalah suatu hal yang memang pantas aku dapatkan. Yang lebih parah adalah aku masih saja berharap bahwa suatu hari nanti, kakak tingkatku itu akan kembali kepadaku. Padahal jika aku menggunakan akal sehatku, dia jelas-jelas bukanlah orang yang tepat untukku. Tidak sekali dua kali teman dekatku menyadarkanku bahwa masih banyak laki-laki lain yang jauh lebih baik darinya. Yang lebih pantas aku cintai. Yang lebih pantas aku rindukan.
Hingga pada akhirnya, di satu titik aku tersadar bahwa selama ini aku salah. Justru dengan menyalahkan diriku sendiri, aku menyakiti diriku sendiri. Aku tersadar bahwa dengan menyalahkan diriku sendiri, sama saja dengan aku tidak lagi mencintai diriku sendiri. Patah hati adalah suatu resiko ketika kita mencintai seseorang. Aku pernah membaca bahwa ketika kita mencintai seseorang, tak cukup hanya dengan berharap cinta kita akan dibalas; kita juga harus siap dengan resiko cinta kita ditolak. Aku melupakan hal itu ketika bertemu dengannya di tahun 2014.
Aku tidak menampik bahwa aku telah terlalu baper kala itu. Bisa jadi itu adalah salah satu kesalahanku yang membuatku sakit sendiri. Bertahun-tahun aku membenci diriku sendiri, bukan karena dia telah menolak cintaku, tapi karena aku tidak mau mengakui kesalahanku sendiri.
Titik yang membuatku tersadar adalah ketika BTS (grup asal Korea Selatan yang sangat aku idolakan), mengeluarkan serial album bertajuk “Love Yourself”. Sejak mereka merilis serial tersebut pada tahun 2017, mereka selalu gencar menyebarkan kampanye untuk mencintai diri sendiri, baik itu melalui kampanye bersama UNICEF (kampanye “Love Myself”) ataupun melalui lagu-lagu mereka sendiri. Tanpa aku sadari, melalui kampanye itu aku mulai bisa memaafkan diriku sendiri. Aku mulai bisa menerima kesalahanku di masa lalu. Aku mulai bisa menerima kenyataan bahwa cintaku ditolak itu adalah suatu hal yang wajar.
Di tahun 2018, dalam album terakhir dari serial “Love Yourself”, yaitu “Love Yourself: Answer”, terdapat lagu solo Jin yang berjudul “Epiphany”. Lagu itu akhirnya benar-benar membuatku tersadar bahwa selama ini aku belum bisa mencintai diriku sendiri. Upayaku untuk bisa menjadi wanita ideal untuk kakak tingkat yang aku cintai, berbagai macam usaha yang telah aku lakukan agar cintaku dibalas, justru membuatku kehilangan jati diriku sendiri. Aku tersadar bahwa sudah saatnya aku kembali mencintai diriku sendiri. Meskipun secara fisik aku tidak cantik, tapi masih ada hal lain yang bisa dibanggakan dari diriku.
Sekarang, aku masih dalam proses untuk belajar mencintai diriku sendiri. Memang tidak mudah, tapi aku yakin suatu saat nanti aku akan benar-benar sukses mencintai diriku seutuhnya. Aku tak lagi malu atau sakit setiap kali mengenang masa lalu, terutama kenangan dari tahun 2014 itu. Aku menerima itu sebagai suatu bagian dari sejarah hidupku.
Seperti lirik bagian Jimin di lagu “Answer: Love Myself” : “Bahkan luka yang terbentuk dari kesalahanku adalah rasi bintangku sendiri.” Luka yang pernah aku dapatkan dari masa lalu, justru menjadi rasi bintang yang indah yang hanya aku yang punya.
