Tidak apa-apa untuk istirahat

Sejak aku bisa naik motor sendiri, tak terhitung sudah berapa kilometer jalan yang aku lalui. Dan di antara banyaknya rute perjalanan yang sudah aku lalui, aku sering terpaksa berhenti saat lampu lalu lintas berwarna merah. Tak jarang, keberadaan lampu lalu lintas yang menghambat perjalananku menuju kampus atau gereja — -apalagi kalau aku sedang berpacu dengan waktu — -membuatku menggerutu. Ingin rasanya menerobos lampu merah itu, tapi aku takut mati tertabrak kendaraan yang melintas. Tapi, setelah puluhan atau bahkan mungkin ratusan kali berhenti di lampu merah, aku mulai menyadari bahwa keberadaan lampu lalu lintas ini cukup menguntungkan bagi pengguna jalan sepertiku.
Secara teknis, lampu lalu lintas berguna untuk mengatur ketertiban jalan raya. Coba bayangkan kalau setiap kendaraan yang saling berpacu di jalan raya menuju tujuan masing-masing, tidak diatur oleh lampu lalu lintas? Jalanan tentu akan semrawut dan akan ada banyak sekali kecelakaan yang terjadi. Meskipun tidak dapat dipungkiri, kecelakaan tidak bisa dihindari sekalipun sudah ada lampu lalu lintas yang terpasang. Tetapi setidaknya, lampu lalu lintas meminimalisir terjadinya kecelakaan lalu lintas.
Bagiku sebagai pengguna jalan, lampu lalu lintas “memaksaku” berhenti sejenak dari panjangnya perjalanan yang harus aku lalui. Ini sangat terasa manfaatnya ketika aku kuliah. Jarak dari rumahku ke kampus luar biasa jauhnya, hingga kadang aku lelah sendiri setiap berangkat atau pulang kuliah. Dan aku bersyukur, karena dengan adanya lampu lalu lintas, aku bisa berhenti sejenak setidaknya kurang lebih satu menit untuk memulihkan tenagaku.
Hidup ini pun, sama halnya dengan rute perjalanan yang harus kita lalui agar bisa sampai di tujuan yang kita kehendaki. Kita pasti memiliki keinginan agar bisa cepat sampai tujuan tanpa halangan dan rintangan. Setiap dari kita, termasuk aku, ingin cepat mencapai garis akhir, dan untuk itu kita akan terus bekerja keras hingga mendapatkan hasil yang memuaskan. Tapi kadang kita lupa untuk berhenti sejenak, untuk beristirahat, karena kita berpikir berhenti sebentar saja akan menghambat proses yang sedang kita kerjakan.
Dulu, bahkan hingga sekarang, aku adalah tipikal orang yang ingin segala sesuatunya cepat selesai. Semakin cepat selesai sebuah pekerjaan, semakin cepat pula bagiku untuk beristirahat. Tapi tak jarang, apa yang aku kerjakan bukanlah sesuatu yang aku sukai, dan hal itu membuatku merasa pekerjaan itu cukup berat untuk aku kerjakan. Aku jadi tidak maksimal bekerja karena pikiranku hanya terpusat pada hasil akhir. Pada akhirnya, hasilnya pun tidak maksimal. Aku kecewa dan menyalahkan diri sendiri.
Lalu, aku teringat pada lampu lalu lintas yang terkadang “memaksaku” berhenti sejenak, membuatku beristirahat dari lelahnya naik sepeda motor yang harus selalu fokus di jalan. Ketika aku mulai mengganti pola pikirku, dari yang semula menganggap lampu lalu lintas sebagai penghambat perjalanan menjadi sebuah media untuk beristirahat, aku pun juga mulai bisa lebih “lunak” terhadap diriku sendiri.
Aku tidak lagi merasa bersalah setiap ingin beristirahat sejenak di sela-sela pekerjaanku. Entah itu untuk ke kamar kecil, minum kopi, atau scrolling media sosial. Aku tidak lagi terfokus pada hasil akhir, tapi lebih menikmati proses. Pada akhirnya aku menyadari bahwa yang penting itu bukan bagaimana akhir perjalanan kita, tapi bagaimana kita menikmati perjalanan itu detik demi detik, jengkal demi jengkal, hari demi hari.
Setiap kali aku melakukan perjalanan terutama kalau menggunakan kendaraan umum, aku selalu menyempatkan diri untuk mengamati kanan dan kiri jalan yang aku lalui. Kalau naik motor aku memang tidak bisa toleh kanan kiri kecuali kalau mau menyeberang rel kereta api, tapi ketika naik mobil, aku lebih suka melihat ke jalanan daripada melihat layar handphone. Aku menikmati perjalanan dengan melihat dunia sekitarku. Aku suka memperhatikan bagaimana pohon-pohon di pinggir jalan seolah terbang ke belakang kalau kendaraan yang aku naiki melintasinya dengan cepat. Aku suka memperhatikan para pedagang kaki lima yang bersiap membuka warungnya, interaksi mereka dengan pembeli yang mampir untuk membeli dagangan mereka, para manusia-manusia yang berdiri atau duduk di halte untuk menunggu bus, tukang ojek yang mangkal menunggu penumpang, dan berbagai macam hal unik yang tidak bisa aku temui di benda canggih pipih bernama smartphone yang hampir nyaris membuatku kecanduan.
Begitu juga halnya ketika aku berhenti sejenak di lampu lalu lintas. Rasanya aneh sekaligus menyenangkan: berhenti di sebuah titik bersama dengan orang-orang lain yang tidak saling mengenal, persamaan kami hanyalah menunggu lampu merah berganti warna menjadi kuning lalu hijau, lalu ketika lampu hijau itu menyala kami memacu kendaraan masing-masing menuju tujuan yang berbeda-beda. Hal sederhana itu cukup menyadarkanku bahwa aku tidak sendirian di dunia ini.
Tak peduli seberapa panjang perjalanan yang harus aku tempuh, aku memang perlu berhenti sejenak di “lampu lalu lintas”. Untuk memulihkan tenaga, untuk membangkitkan kembali semangat yang hampir pudar, untuk bertukar kabar dengan teman, dan yang terpenting adalah untuk mengapresiasi diri sendiri.
It’s okay to break. Tidak apa-apa untuk istirahat. Asal kamu ingat untuk kembali melangkah.
