Organ yang Bergerombol
Ketika kita sebagai bangsa yang bernegara dan beragama, selalu di dapati kita sendiri menjadi dilema untuk memilih mana jalur yang cocok bagi kita, menjumpai beberapa kawan yang memutuskan untuk ber-organ terdapat beberapa alasan yang menjadikan mereka harus mengikuti organ tersebut, dari yang hanya ikut ikutan agar dilihat keren, menjadi kendaraan untuk memperbaiki CV (curriculum vitae), atau memang benar benar masuk sebagai salah satu aktifis pergerakan, jika kita melihat secara pragmatis organ sendiri mempunyai daya tarik yang sangat kuat ketika kita sebagai mahasiswa aktif, tidak bisa dipungkiri, ketika kita hidup di Indonesia banyak kita temui bahwa sistematika indonesia sendiri dibentuk oleh punggawa punggawa aktifis pergerakan, dari Akbar Tanjung, Mahbub Junaidi, Fahri Hamzah, dan juga Anas Urbaningrum.
Organ sendiri sebagai bentuk kawah candradimuka bagi mahasiswa mahasiswa, dalam orientasinya organ ekstra mahasiswa membentuk pribadi mahasiswa sebagai bentukan visi dan misi mereka, ini adalah menjadi sikap dan tradisi bagi semua organ yang ada, tidak dalam perspektif yang kecil, tapi dalam tujuan yang sangat besar, agar sama sama bisa membentuk generasi Indonesia menjadi lebih baik, mengantarkan mereka menjadi tokoh tokoh dengan semangat juang, namun kenyataanya sekarang apakah semangat yang dibangun oleh organ organ tersebut masih berorientasi dalam jalan yang sama?
Dinamika yang dibangun di setiap kampus sekarang sangatlah berbeda, ya! tidak bisa kiranya kita menutup mata, kaca citra mahasiswa sudah mulai menurun sejak tergulingnya orde baru, gaya semangat juang sudah luntur, kearifan sebagai penyambung lidah masyarakat sudah tumpul, gaya berfikir sudah praktis dan terjerembab pada kajian kajian bagaimana kita bisa mendominasi sebuah sistem, lalu bagaimana cara mahasiswa bisa membedakan mana berproses pada poros mahasiswa dan mana gaya bersistematika secara profesional.
Semuanya tergantung dari mahasiswa itu sendiri, mana jalan yang ia akan pilih untuk berjuang, karena penentuan hidup manusia hanya terletak pada ambisi dan keinginan manusia tersebut, pertanyaannya adalah mengapa hari ini mahasiswa semakin surut dan berbeda? Kita adalah anak zaman, dimana kita akan hidup di zaman yang telah melahirkan kita, zaman tidak akan berhenti, kemajuan teknologi-pun takkan terhenti, semakin mudah saja kita hidup namun tidak mudah untuk menjalaninya, lalu apakah kita akan mati ditelan zaman? atau mati melawannya? kita tak bisa menyalahkan keadaan, yang hadirnya begini yang harus kita hadapi, sebetulnya saya juga tidak setuju jika mahasiswa itu di kotak kotakkan atau dibenturkan, karena mereka hanyalah hasil dari apa yang mereka perbuat, proses yang mereka lakukan berbeda beda, untuk berkehidupan yang lebih baik kadang berfikir secara pragmatis itu perlu namun itu terlalu subjektif. Maka mana-kah yang benar?
Benar dan salah adalah relatif, ketika anda percaya akan Tuhan maka dari sana-lah kebenaran sejati itu ada, namun kita sebagai manusia mempunyai akal yang dituntut untuk adil dalam menggunakannya, lalu pemaknaan adil sendiri mempunyai arti dari beberapa perspektif, karena adil menurut kamu belum tentu adil menurut yang lain.
Disinilah krisis kepentingan terjadi, ketika adil dalam benak satu golongan seperti mementingkan suatu golongan sendiri maka itu menjadi polemik yang harus di sejajarkan dengan keinginan pribadi masing masing, sangatlah tidak etis kiranya jika mahasiswa hanya bisa mengkritik untuk memenuhi isi kantong mereka.
Maka dari itu poros yang dibentuk oleh organ organ ini sangatlah dibutuhkan untuk membentuk suatu keadilan sejati, tidak hanya sebagai bentuk penunjang kepentingan mereka, namun untuk kepentingan masyarakat, jika pedoman mahasiswa adalah sebagai penyambung lidah rakyat, maka mahasiswa harus tau betul apa yang diartikan sebagai keadilan.
Egosentris harus dihapuskan, dan mencoba memahami gejala yang ada dengan tidak berfikir bahwa bisa dimasukkan dalam kepentingan pribadi, mahasiswa harus kuat untuk berbicara secara independen, bergerombol untuk membuat suatu kekuatan yang padu, demi menjalankan asas demokrasi.