Yusron Aloy
Sep 1, 2018 · 2 min read

Bersikaplah Layaknya Merpati

Beberapa kali saya temui tentang perbandingan. Ada mereka yang cantik terkadang membosankan, ada mereka yang jelek terkadang menyenangkan. Saya tak habis fikir mengapa kuasalitas itu seperti mengunyah permen karet ditengah suhu yang dingin. Ada hal yang percuma meski aktifitas keduanya saling mengatupkan bibir. Jangan-jangan tuhan mau main-main. Baiklah..


Halusinasi manusia kadang lebih dulu dari proses penciptaannya. Mereka lupa bahwa pangkal-ujung warna itu hitam dan putih. Mestinya ini dipahami sebagai jalan tengah dalam memilih. Tidak mungkin, misalnya, akan lari dari keduanya. Kau tidak boleh takut menjadi bias diantara kegagalan memahami kehidupan. Saya anjurkan untuk berkaca pada batok kelapa di belakang rumahmu. Apa pasal? Katak tidak akan sehingar peluru diujung meriam bila kehidupan mereka tidak diusik. Ini sebagai pemahaman awal dari proses berfikir panjang. Konklusinya, jadikanlah makna kelebihan sebagai satu-satunya benteng pertahananmu di depan orang lain. Minimal, jangan menggunakan akal tanpa mengompromikan dengan perasaan dan situasi.


Saya bukan tidak menerima kelebihan dan kekurangan orang lain. Warna itu terlalu indah untuk didustakan. Tetapi bila dibenturkan dengan proses manusia bersosial, itu sangat tidak elegan. Satu contoh kasus, kadang kita dituntut untuk memahami sesuatu-yang itu-jauh dari nalar sehat kita. Tak sedikit orang yang dituntut mengerti pada sesuatu yang ia benci. Dalam keadaan tertekanpun ia terus memaksa akal sehat memahami yang rancu. Ini sebuah fragmen yang tidak ada dalam kamus penciptaan manusia. Bolehlah tuhan membekali mereka dengan separangkat sifat, sikap, dan watak. Namu jika ditarik pada pola konsep “lita’arofu” Jelas sangat bertentangan. Dasar dari konsep ini menekankan terhadap sikap “saling mengenali”;Tak memilih kasta, status sosial, bahkan jenis kelamin. Mengenal berarti mengetahui dan menerima sesuatu yang dikenal. Jangan lupa, satu hal penting yakni berusaha menyenangkan. Orang kadang lupa bahwa konsep manusia bersosial itu bukan hanya sebatas “kenal”. Tuhan itu tidak menganjurkan itu. Lebih dari itu, tuhan menyisipkan kata “saling” diantara muatan kata “mengenal”. Ini sebagai bukti penguatan tentang sikap elegan terhadap lawan bicaranya__katakanlah kalau punya pasangan, iya, ke pasangannya. Tetapi justru manusia terkadang kehilangan corak pemahamannya. Entah terbawa arus atau karena pola hidupnya yang serba meninggikan kenyamanan, yang jelas, itu tidak ada dalam rentetan proses manusia menjadi bijak. Manusia banyak lupa tentang dua arah tuhan menciptakan sesuatu. Malah kadang acuh pada satu arah lainnya. Dipahami atau tidak, pada akhirnya, Manusia selalu ingin dimengerti. Mereka lupa bahwa pengertian yang dimengerti itu tidak hanya selesai pada satu definisi. Maka dari itu, putih tidak selalu bicara kesucian, hitam tidak menawarkan kejahatan. Bersikaplah layaknya merpati yang setia dengan tuannya.