KH Abi Syujak: Pejuang Dan Pendiri NU Sumenep

(sumber foto/lontarmadura.com)

Sebagai penduduk asli Kabupaten Sumenep dan dilahirkan dari keluarga yang berNU, saya memiliki rasa penasaran cukup kuat. Ini berkaitan dengan prinsip Ke NU an saya dan keluarga. Mengingat basis warga Nahdliyyin di Kabupaten yang berjuluk Kota Keris ini cukup besar. Tetapi ada satu hal yang membikin saya penasaran dan harus mencari tahu "Siapa pembawa gerbong NU pertama kali ke Sumenep"?.

Berpuluh-puluh tahun lamanya tidak pernah terfikirkan untuk menelisik sejarah ringkas seputar NU di Sumenep. Dan baru ngeh setelah usia menginjak 26 tahun. Tapi bukan soal. Sebelum usia terlampau menua, mungkin oleh waktu masih diberi kesempatan mencari tahu sejarah terdahulu, khususnya pendiri NU Sumenep. Baiklah..

Bermula Pada masa penjajahan VOC (1648-1672) di Kabupaten Sumenep muncul kelompok gerakan separatis yang menentang keras sistem yang dibawa belanda ke bumi Sumenep. Semua rakyat bersatu menyatukan tekad mengusir penjajah. Gerakan pemberontakan dimana-mana. Mulai dari kalangan rakyat biasa, santri hingga kiyai ikut ambil bagian berjuang. Ditengah kecamuk dan perlawanan sengit tersebut muncul seorang kiyai bernama KH Abi Syujak. Kiyai kharismatik ini memimpin langsung pejuang dari kalangan santri. Ia menjadi benteng di garda terdepan melawan kompeni. KH Abi Syujak merupakan tokoh penting dalam sejarah perjuangan di Kabupaten Sumenep. Beliau dilahirkan di Dusun Banasokon, Desa Kebonagung, Kecamatan Kota Sumenep pada tahun 1885 M. Beliau putra dari KH Jamaluddin dan Nyai Shalihah. Jika dirunut, masih ada keturunan dari Sunan Giri. Persisnya, Kakek dari KH Abi Syujak bernama Kiyai Anjuk, Prajjan Sampang merupakan Putra dari Kiai Abdul Allam, Keturunan keempat dari Sunan Giri (Lontarmadura.com).

Selain dikenal sebagai pejuang, KH Abi Syujak tercatat sebagai pendiri NU pertama di Kabupaten paling ujung timur pulau Madura. Semasa hidupnya, Beliau Pernah nyantri ke Syaikhona Mohammad Kholil Bangkalan dan pernah nyantri di Pesantren Loteng Sarsore, Karang Duwak, Sumenep. Ia juga pernah nyantri ke Raden Ario Abdul Ghani Atmowijoyo. Selepas menuntut ilmu ini, beliau mendirikan Pondok pesantren. Pesantren yang didirikan tersebut memiliki dwi fungsi. Selain sebagai tempat menimba ilmu, pesantren tersebut dibuat markas tempat para pejuang berkonsolidasi. lokasi pesantren juga sangat strategis. Berada diatas bukit. KH Abi Syujak Wafat Pada Tahun 1948 dan makamkan di Puncak Bukti Banasokon.