Ruang Terbuka Hijau

Pembangunan ruang terbuka hijau sangatlah penting dan baik. Apalagi bila Pemkot mentarjetkan pembangunan ruang terbuka hijau sebesar dua puluh persen dari luas Kota Kediri. Bila tercapai, tentu amat bagus. Upaya memperbaiki lingkungan hidup dengan membangun ruang terbuka hijau sebesar dua puluh persen itulah yang menjadi penekanan penulis di sini.

Menjaga kualitas lingkungan hidup amatlah penting. Todaro (1999:406) menjelaskan bahwa kerusakan atau degradasi lingkungan dapat menyusutkan laju pembangunan ekonomi. Tidak ada gunanya pembangunan ekonomi berhasil manakala lingkungan hidup mengalami degradasi. Hal ini dapat difahami bahwa kerusakan/degradasi lingkungan akan menurunkan tingkat produktifitas sumber daya alam serta memunculkan berbagai macam masalah kesehatan dan gangguan kenyamanan hidup.

Dua puluh persen penduduk dunia paling miskin adalah kelompok yang pertama dan yang paling banyak menanggung beban kerusakan lingkungan. Pendek kata, rakyat miskinlah yang paling banyak menanggung akibatnya. Apalagi ada formula: tingkat degradasi lingkungan hidup berbanding lurus dengan pertumbuhan penduduk. Semakin tinggi lonjakan pertumbuhan penduduk maka semakin parah tingkat kerusakan lingkungan. Maka harus cermat betul dalam menghitung aspek kualitas lingkungan hidup.

Mutlak diperlukan suatu solusi untuk mengatasi hal ini. Salah satu solusinya adalah mengembalikan hakikat pembangunan ekonomi kepada konsep pembangunan ekonomi “yang sesungguhnya” yaitu suatu pencapaian pertumbuhan ekonomi secara berkesinambungan yang sekaligus ramah terhadap lingkungan (environmentally sustainable growth). Itulah definisi paling fundamental dari konsep “pembangunan ekonomi” itu sendiri. Ke arah itulah, mestinya pembangunan itu dikhidmatkan.

Pembangunan yang mengatasnamakan pembangunan ekonomi adalah omong kosong bila tidak berbanding lurus dengan semakin membaiknya kualitas lingkungan hidup. Sebaliknya, bila pembangunan ekonomi tetapi side effect-nya adalah menimbulkan kerusakan lingkungan hidup, maka itu bukan pembangunan namanya. Dengan kata lain, membangun tapi merusak itu bukan pembangunan yang sesungguhnya. Istilah kids zaman now : itu bukan pembangunan yang hakiki. Itulah yang memprihatinkan.

Tak ayal bila, para ahli ekonomi memasukkan kalkulasi dan variabel lingkungan hidup ke dalam setiap kebijakan pembangunan. Faktor lingkungan hidup harus menjadi bagian integral yang tidak terpisahkan dari bangunan konsep dan aplikasi nyata pembangunan ekonomi. Perspektif ini semoga tidak menjadi slogan kosong dalam pelaksanaan pembangunan di daerah.

Pandangan yang relatif menyeluruh mengenai berbagai masalah yang mempertautkan pembangunan ekonomi dengan masalah lingkungan hidup bisa dilihat dalam laporan World Bank, World Development Report,1992: Development and the Environment. Alangkah senangnya masyarakat jika setiap kebijakan ekonomi memperhitungkan aspek lingkungan hidup karena pada ujung-ujungnya nanti yang paling banyak menanggung akibat degradasi lingkungan adalah masyarakat, konstituen dan rakyat. Kita tidak mau kan bila rakyat menderita ?

Like what you read? Give Yusron a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.