OPM (Om Primus) #01 : Sekolah Sungai Karang Mumus

Seharian ini Om Primus hanya duduk-duduk dirumah. Sikapnya yang tidak biasa membuat orang yang melihatnya menjadi heran. Karena penasaran, Yadi tetangganya yang paling kepo akhirnya bertanya.

Kok, nda pergi kerja Om,

Meliburkan diri, jawab Om Primus singkat.

Tentu saja Yadi tambah bingung sebab bukan tipe Om Primus untuk menjawab dengan malas-malasan begitu. Melihat muka Yadi seperti bingung, Om Primus sadar ada yang salah dengan sikapnya pagi ini.

Anu, ini, ada peringatan untuk tidak membuka komputer, terutama komputer jaringan. Takutnya nanti kena Malware, ujar Om Primus.

Ngeriknya Om. Malware apa itu om? tanya Yadi seolah-olah paham.

Ramsonware, ini menyandera data kita. Lalu minta tebusan agar datanya bisa diakses lagi,

Wuihm ngerik juga ya Om,

Nah, itu dia makanya ngapain ke kantor kalau nggak bisa buka komputer dan terhubung dengan jaringan,

Ah, om ini alasan saja. Oh, iya Om …. adikku mau ikut sekolah sungai, boleh nggak OM?

Boleh saja, semua orang boleh ikut, atau malahan harus ikut,

Tapi ngomong-omong, sekolah sungai itu apa Om, sekolahannya dimana, gurunya siapa lalu bagaimana tingkatannya. Kan sekolah itu setiap hari, ada kelasnya, ada pelajarannya, ada kelulusannya dan kemudian bisa melanjutkan kemana atau ijazahnya bisa dipakai untuk apa?

Wallah, kepanjangan pertanyaanmu. Intinya sekolah itu apa sih?. Kan belajar. Jadi kalau ada yang dipelajari, ada kegiatan belajar ya bisa dibilang sekolah kan. Soal kelasnya dimana, ya bisa saja dimana-mana, yang penting bisa untuk belajar,

Oh, begitu ya Om. Jadi sekolahnya di sungai, makanya diberi nama sekolah sungai?

Ya tidak selalu di sungai, tapi sungai salah satu tempat belajarnya. Sekolah sungai itu ya sekolah untuk belajar mengerti dan memahami sungai, agar kemudian orang yang belajar di sekolah sungai lalu merawat dan menjaga sungai,

Bicara soal sekolahan selalu menarik untuk Om Primus walau dulu sekolahnya tak genap. Tak genap bukan karena tak sanggup mengikuti pelajaran melainkan karena tak tahan dengan segala macam aturan.

Entah karena salah bacaan waktu kecil, akhirnya tertanam dalam diri Om Primus bahwa pendidikan itu harus membebaskan. Dan buat Om Primus waktu itu sekolah selalu tak mengembirakan, membuat dirinya jadi tertekan, karena selalu dinilai dengan angka-angka. Dan Om Primus selalu lebih suka bertanya ketimbang menjawab.

Sementara Yadi adalah anak muda produk sekolahan. Rajin tidak ketulungan, tak ada hal lain selain sekolah. Tingkat demi tingkat dilalui dengan rangking atas, beasiswa adalah langganannya.

Alhasil dia tak tahu hal lain selain pergi ke sekolah. Dan karena belum kunjung mendapat pekerjaan setelah menamatkan S1-nya, kini Yadi memilih untuk melanjutkan sekolahnya.

Berarti sekolah sungai ini bukan sekolah resmi ya Om?

Om Primus terhenyak.

Sekolah resmi apa tidak itu versi pemerintah, tapi sesungguhnya yang ada itu sekolah baik atau sekolah buruk,

Maksudnya Om?

Ya sekolah yang mengajarkan kebaikan dan sekolah yang mengajarkan keburukan,

Ah, Om ini aneh-aneh saja. Pantas Om bikin sekolahnya aneh, sekolah kok sekolah sungai,

Kali ini Om Primus mulai naik jin.

Kamu ini lahir disini, tahulah apa yang penting untuk kota ini?

Om, kan yang lebih lama disini. Menurut Om apa?

Nah, kamu ini seperti wayang, ditanya kok malah balik nanya, ya sudah menurut Om adalah sungai

Kok bisa Om?

Ya karena sungai adalah kehidupan, sungai adalah identitas kita tapi kini kita lupakan,

Oh gitu ya Om, jadi tujuan sekolah sungai apa Om?

Ya mengembalikan lagi budaya air kita, mengerti dan memahami air untuk kemudian menjaga dan merawat air,

Masak orang nggak ngerti dan nggak paham air?

Ya buktinya memang begitu. Buktinya air hujan kita sia-siakan, kita membuat air hujan tidak meresap ke dalam tanah, menutupi permukaan tanah dengan semen, membangun rumah sampai batas akhir tanah, menyempitkan got, mengambil ruang sungai, menghabisi bebukitan hijau, menimbun rawa dan kemudian menuduh hujan sebagai penyebab banjir,

Iya ya Om, sekarang orang sering bilang musim penghujan sebagai musim banjir,

Nah, itu hujan kan seharusnya jadi berkah karena hujan adalah induk dari segala air. Kalau nda ada hujan nda ada minuman dalam kemasan, kalau nda ada air hujan nda ada masakan berkuah, kalau nda ada hujan mati bisnis laundry,

Lho kok namanya nggak sekolah hujan Om?

Om Primus tertawa mendengar pertanyaan Yadi.

Ya kalau sekolah hujan, nanti berarti libur di musim kemarau, jawab Om Primus sekenanya.

Pondok Wiraguna, 17 Mei 2017
 @yustinus_esha

Yustinus Sapto Hardjanto — Founder SeSuKaMu (Sekolah Sungai Karang Mumus)

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.