Fluida, 2
Aku tak merasa diburu atau terburu, meski hari lalu senantiasa membuatku ragu. Seluruh pemaklumanku menyapukan kiasan di langit sore, mengarsir tipis wajah lelahmu. Setidaknya kita seperjalanan. Kita tertawa sebelum kepastian-kepastian saling membatalkan. Kau selalu bercerita tentang angka dan rumus dalam perhitungan melelahkan. Kau catat pergerakan rahasia dalam free body diagram. Aku diam saja, tak habis pikir ternyata senja bisa berpindah di mata seorang perempuan. Bahasa kehilangan kuasa di hadapan tatapan matamu. Kecemasan dosa menghilang entah kemana. Malam meringkus kita lewat banyak tetapi. Sesekali kuceritakan keberanian yang tak pernah lingsir dari mereka yang berambut gondrong. Keberanian yang senantiasa tidak pernah menerka-nerka, ”hari esok sebaiknya kita menggunakan ketakutan yang mana?”.
Surabaya, 2017
