BUKBER = Ibadah Yang Salah Kaprah

“Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.” (QS. Al Baqarah 183)

Puasa adalah salah satu rukun Islam yang wajib dilaksanakan. Pada bulan Ramadhan, umat Islam diwajibkan berpuasa selama sebulan penuh (dihitung berdasarkan hisab atau perhitungan tanggal antara 29–30 hari).

Dalam menjalankan ibadah puasa, tentu banyak godaan yang harus dihadapi. Puasa bukan hanya sekedar menahan lapar dan haus, tapi juga menahan hawa nafsu, perkataan, perbuatan dari hal yang sia-sia.

Makna hakiki yang harus lahir dari ibadah puasa adalah ketika umat Islam yang beriman menjalankannya, dapat ikut merasakan saudara-saudara dari kaum dhuafa, fakir, miskin, musafir yang masih kurang berkecukupan kesehariannya untuk makan dan hidup. Ketika orang yang berpuasa mampu memaknai puasa sebenarnya, disitulah hikmah dari puasa itu dapat benar-benar menjadi pelajaran hidup.

Dari sebuah kegiatan puasa di bulan suci Ramadhan ada istilah Buka Bersama (bukber). Buka bersama atau bukber menjadi ajang silaturahmi antara keluarga, teman, tetangga, jamaah mesjid, jamaah pengajian dan kerabat untuk sama-sama menikmati saat-saat ketika berbuka puasa.

Namun bukber saat ini menjadi sebuah trend baru, bagi anak muda untuk bertemu, ajang reunian teman-teman SD, SMP, SMA atau teman kuliah yang mungkin (atau baru pisah) tidak berjumpa.

Makna kebersamaan yang harusnya terjalin dan mengandung manfaat, kini tak lagi seperti awal. Bukber dijadikan ajang pamer kesuksesan, pamer strata sosial, bahkan jadi ajang menunjukkan ketenaran. Esensi awal dari jalinan silaturahmi berubah jadi ajang berpongah diri.

Bayangkan saja, dahulu saat masih bersama mungkin ada yang merasa di bawah posisinya, ketika sukses disinilah jadi ajang promosi diri, bahwa dulu yang dianggap tidak punya apa-apa, kini sudah bisa berjaya.

Bukber juga dijadikan ajang pamer di dunia sosial. Kalau istilah sekarang untuk buat jeles mantan (mungkin saat bukber bawak pacar baru atau suami/istri yang lebih dari sang mantan) kasian ya si mantan, di banding-bandingin.

Sebenarnya tidak masalah jika kita membuat sebuah acara Buka bersama. Mungkin memang silaturahmi itu harus tetap dibangun. Hubungan dengan kawan lama harus tetap terjalin, karena hidup itu saling membutuhkan. Mungkin ketika kawan kita sudah banyak yang sukses dapat menjadi motivasi untuk bisa sukses juga atau bisa menjadi penolong untuk hal-hal yang baik. (Jangan dijadikan menolong hal yang berbau nepotisme).

Tapi maunya ketika melakukan kegiatan bukber maunya juga diisi dengan kegiatan yang positif pula. Salah satu contohnya bukber yang diisi kegiatan amal, membantu anak yatim, kaum dhuafa, buka bersama dengan memberikan takjil untuk saudara-saudara sesama umat. Atau jika dilakukan ditempat yang khusus (contohnya restoran, mall, tempat makan mahal, hmmm, sebenarnya gak harus mahal sih. Kan mau menimbulkan kebersamaan bukan acara undangan tamu kehormatan) haruslah ada kegiatan ibadahnya juga, seperti magrib berjamaah, ada tausyiahnya, isya dan tarawih berjamaah serta saling berbagi.

Nahh, sekarang itu bukber malah menjadi ibadah yang “salah kaprah”.

Mengapa????

Kegiatan ibadah yang harusnya kita tingkatkan pada bulan yang suci dan banyak tambahan amal, malah dengan buka bersama membuat tinggal ibadah-ibadah wajibnya. Banyak yang alasan bukber tidak ikut jamaah di mesjid, (padahal bisa juga jamaah di tempat bukber) atau kalau tidak bisa sendiri (walau sangat dianjurkan berjamaah).

Nah sekarang harusnya kita mulai instrospeksi diri (termasuk saya 😂) dipenghujung Ramadhan ini menjadi muhasabah diri bagi kita. Berbuat yang bermanfaat karena pasti banyak kebaikan yang kita dapatkan selain ganjaran pahala yang besar (insya Allah) jika kita lakukan dengan tulus dan ikhlas.

Marilah kita sama-sama merenungi kesalahan yang kita lakukan. Semoga Allah memberikan umur pada kita agar bisa kembali berjumpa dengan Ramadhan berikutnya. Ketika di tahun yang akan datang, kita gunakan momen bukber untuk sesuatu hal yang benar-benar banyak manfaatnya, bukan sekedar berjumpa kawan lama, tapi juga menghasilkan ukhwah yang berkualitas.

Semoga kita dapat menjadi pribadi yang lebih taqwa dan mampu menjadi Muslim yang memuliakan anak yatim, kaum dhuafa, serta saudara-saudara kita yang membutuhkan kita. Ingat dari harta yang kita miliki, ada hak saudara-saudara kita di dalamnya.

Semoga Allah berkahkan harta yang kita miliki agar dapat menjadi ladang amal buat kita. Amin..

Akhir kata, Saya Muhammad Yusuf mengucapkan

“Taqobballahu Minna Wamenkum
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1438 Hijiriah mohon maaf lahir dan batin.”

Salam takzim

(foto by Muhammad Yusuf)

© Juni 2017