Biru

Tentang semburat langit ungu

Zahra Khairunnisa
Sep 6, 2018 · 2 min read

Dalam alunan nyala terang di sisi timur. Kau menyapa pada pelupuk yang menganga, mengganggu kotak ilusi yang terbersit dalam emosi. Kala itu, aku hanya tersunyi sambil menyimpan sendiri bait-bait puisi yang tak pernah kumengerti. Untaian rasa memang kadang suka bercanda, menggandrungi seluruh utopia, atas dasar makna dan pula nestapa.

Dalam redup biru, sejatinya aku ingin menggerutu;

Tunggu aku, kali saja kita bertemu, di persimpangan jalan yang tak kunjung semu.

Aku bukanlah dongeng khayal di siang bolong, pun cerita pengantar dalam alam tidurmu hingga fajar menyongsong. Aku adalah aku yang tak pernah ingin menyekutu didalam tumpukkan kertas usangmu akan sentimen yang kian lalu. Jangan sandingkan aku dengan embun pagi yang hinggap diantara musim semi. Yang hangat namun berseri. Jangan pula sandingkan aku dengan semerbak aroma tubuhmu yang menghiasi sudut ruangan itu. Mendekatpun aku tak mau.

Sila bertamu pada hamparan samudera biru, yang terpancar dalam sorot tajam kedua matamu. Jangan lupa diketuk dahulu, agar tidak kembali tersesat dalam labirin khayalmu.

Mari bertamu, siapatahu kau menyapa lebih dulu.

Aku tak sengaja menoleh pada tumpukan sajak yang kusimpan rapih dipojok ruangan, bait pertama mengata bahwa rasa hanya sebatas retorika belaka. Pun bagiku terlalu abstrak untuk dituangkan dalam untaian berbentuk kata. Terlebih lagi direkonstruksi dalam lembaran tipis karya sastra. Aku bahkan berpikir dua kali jika kamu mengatas nama rasa dalam balut adidaya. Mengeja pun kumasih terbata-bata, dalam hingar bingar urutan aksara.

Ah terus saja bergurau dengan rasa, aku juga tak akan bertanya.

Aku sendiri kerap termenung, duduk disisi jalan beralas pundi-pundi samar bayang abumu selagi tersipu. Bersikukuh atas renungan angan palsu yang kuterbangkan sendiri lebih dulu. Aku bukan manusia bodoh yang haus akan jeritan atensi yang kian pilu. Juga irama jiwa yang bahkan tak pernah padu.

Dalam alunan nyala terang di sisi timur, sejatinya aku ingin menyapamu dibalik perdu. Disisi lain, aku tidak rela membiarkan rasaku terbungkus dalam balutan angkasa biru.

Untuk itu;

Teruslah melihat malam setelah senja;

merasa dalam cakrawala;

hingga purnama kian menyempurna.


-Zahra, yang tersimpan dalam draft #tulisanzahra

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade