nol. nol. satu. tiga.

Monolog Dini Hari

Bagaimana kabarmu hari ini?
Lelah.
Seperti biasa.
Aneh, bahkan di saat matamu terus terkatup seharian?
Tapi terus terjaga di saat dunia tertidur.
Agar yang melihat hanya aku dan kesendirianku.
Ah,
Ingin rasanya kembali ke saat itu.
Saat yang mana?
Yang mana saja asal bukan saat ini.
Memangnya ada apa?
Tidak ada apa-apa.
Jawaban klasik.
Memang.
Lagipula siapa yang peduli?
Yang mereka inginkan hanya cerita segar untuk diperbincangkan.
Terlalu berlebihan, cobalah dulu.
Tidak mau.
Aku bukanlah dungu yang sudi berkali-kali percaya setelah khianat.
Sedikit banyak yang kulihat,
masih ada percikan api di hidupmu.
Jadi mari coba untuk berbahagia.
Tidak bisa.
Kini euforia hanyalah sebatas angin lalu
yang terlewat tanpa dikenang.
Kalau pura-pura bahagia?
Sulit.
Pisauku sudah patah mengukir senyum.
Bagaimana dengan bermimpi?
Tidak, tapi entahlah.
Karena mimpi bagiku cuma
sesuatu yang kubualkan sebagai alasan
agar tidak jadi mati hari ini.
Ha.
Hahaha!
Kalau begitu,
tunggu apa lagi?
Ayo mati sama-sama.
.
.
.
Tidak mau.
Kenapa?
Aku belum selesai.
Masih ada sepasang sayap
yang belum kuterbangkan.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Zahwa W.’s story.