Catatan Kecil Malam Lebaran

Setelah memutuskan tidak pulang kampung, lebaran kali ini saya habiskan di warung kopi. Entah apa yang saya pikirkan. Suara takbir terdengar bersahutan bersamaan dengan Peta Langit, Larung Melancholic Bitch di telinga saya.

Saya pikir Tuhan telah menyumpal langit sehingga saya benar-benar muak dengan segala hal dan mengutuk sana-sini. Bukan, bukan karena tak pulang kampung dan tak bisa berkumpul bersama keluarga. Lagi pula, saya bersama keluarga baru di sini. Bukan, bukan karena itu. Sungguh.

Bagaimanapun Idul Adha tak pernah lepas dari hewan kurban dan pengorbanan. Tentang Ibrahim dan Ismail kecil. Tentang sesembahan dan hamba-hamba yang dihantui ujian melalui mimpi-mimpi. Saya tidak akan lupa cerita yang dikisahkan guru ngaji saya, bagaimana Ismail rela dirinya disembelih oleh ayahnya, sebagai ujian bagi hamba-hamba yang setia.

Tentu saya juga tak akan lupa cerita pengorbanan Qabil dan Habil. Pengorbanan pertama, pengorbanan sebelum munculnya kata berkorban. Bercerita tentang pengorbanan yang ditolak dan berbuntut pada pembunuhan Habil.

Barangkali bukan kebetulan malam lebaran ini saya sedang membaca ulang novel Kain karya Jose Saramago.

Saya akan mengulas buku ini lainkali.

Karena iman, Habel telah mempersembahkan kepada Allah korban yang lebih baik dari Kain (Qabil). Dengan jalan itu ia memperoleh kesaksian kepadanya, bahwa ia benar, karena Allah berkenan akan persembahannya itu dan karena iman pula ia masih berbicara sesudah ia mati”. (Kitab Omong Kosong).
Like what you read? Give Zaim Yunus a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.