Kepercayaan wanita hadir ketika ia sudah berani menceritakan masalah kehidupannya.
Sudah beberapa bulan aku telah melewati kisah yg takkan pernah aku lupakan. Kisah tentang bagaimana diriku berusaha menjadi laki-laki yg bisa dipercayai oleh kekasihku. Usaha-usaha itu tentu pada suatu waktu akan kita petik nikmatnya, menunggu ‘waktu’ itulah yg hanya perlu bersabar dan berkorban. Adakalanya laki-laki mengalah dan pada suatu kejadian tertentu atau hal yg membutuhkan sifat bijak, laki-laki harus tegas mengatakan TIDAK atau IYA. Setelah jam pelajaran berakhir, aku mengajak Lisa berjalan-jalan ke tempat yg ia suka.
Aku: sekarang masih jam 10. Kita jalan yuk?
Lisa: mau jalan ke mana mas?
Aku: terserah kamu, ke tempat yg kamu suka aja, (jawaban ini membuat laki-laki kurang wibawa, tetapi jika diperhatikan dengan seksama, jawaban seperti inilah yg menjadikan wanita mempunyai peran penting dalam memutuskan)
Lisa: ya udah, yuk kita beli bakmie di tempat kesukaanku.
Aku: di mana itu?
Lisa: ada di daerah Panti, mas pasti suka deh, kalau nggak suka ntar aku boleh dilamar deh.
Aku: wah sepertinya aku mulai tidak suka deh.
Lisa: yah mas, kan masih kuliah masa udah mau dilamar.
Aku: lah ya makanya, masa kamu bilangnya dilamar, yg lain donk.
Lisa: terserah mas Fatah deh, maunya gimana, yang penting aku makannya enak.
Aku: gimana kalau orang tuaku aja yg ngelamar?
Lisa: lah kan sama aja itu mas, hadddeehh (sedikit senyum manis) yuk ahh berangkat keburu masuk kuliah ntar jam set4.
Aku: ya udah ayyukk berangkat.
Lisa: mas, yg nyetir sepedanya aku ya? Aku bisa sepeda cowok kok.
Aku: arrgrrhh jangan lah, ntar aku malah meluk kamu, kan masih belum muhrim, nanti kalau sudah sah ya. 😉
Lisa: pokoknya nanti aku yg nyetir.
Aku: (langsung pergi ke parkiran mengambil sepeda putihku) tunggu sini ya!
…. .Diperjalanan kami menceritakan pengalaman hidup, ada sukanya dan ada dukanya, terkadang sedih, banyak senangnya, terkadang melawan orang tua eh malah kena batunya, sering lupa waktu jadi makin tambah ketinggalan. Dan banyak sekali cerita yg menjadikan kami menjadi semakin dewasa.
……tiba di tempat bakmie, Lisa membuka pembicaraan denganku tentang hal yg dihadapinya saat ini.
Lisa: mas aku mau bercerita, boleh? (Inilah awal dia mempercayaiku setelah beberapa bulan berjalan bersama)
Aku: lah kenapa harus minta ijin? Silahkan saja, aku senang jika kau terbuka denganku, tidak ada rahasia diantara kita.
Lisa: arggh kayak judul lagu itu, tidak ada rahasia diantara kita, bagus itu lagunya, kadang-kadang aku mendengarkan lagu itu kalau pas lagi nyantai, ada liriknya paling aku suka juga.. (terpotong)
Aku: jadi cerita nggak nih? (Memotong pembicaraan Lisa)
Lisa: habisnya mas Fatah bilang itu sih.
Aku: iya aku juga suka lagu itu, kisah tentang seorang laki-laki yang sangat mencintai wanitanya meski sudah pernah menikah, dan juga laki-laki itu…(terpotong)
Lisa: jadi cerita nggak nih?
Aku: hhahhaha (terbahak) iya Monggo cerita.
Lisa: jadi begini mas Fatah…(terhenti)
Pak B (bakmie): mas mbak jadi mesen?
Aku: ehh ada bapak, iya beginilah pak kalau sudah sayang lupa kalau ada orang.
Pak B: ngomong-ngomong itu lagu jangan ada rahasia diantara kita, saya juga suka lagu itu mas.
Lisa: (berfikir sejenak, terhenti berbicara, termenung, sunyi) pak bakmienya dua ya, satunya jangan terlalu sedap.
Aku: iya nih pak, mesen bakmienya 2, yg saya tidak usah sambel ya pak (mengakhiri pembicaraan kang B)
Pak B: ouh iya mas mbak, akan segera saya buatkan (meninggalkan kami berdua)
Aku: nah sekarang kamu mau cerita apa?
Lisa: (menundukkan kepala) bagaimana kalau aku dijodohkan dengan orang lain?
Aku: selama dia baik untukmu dan jua keluargamu, aku tidak ragu sedikitpun, (jawaban paling tegas selama aku hidup). (Meski ada sedikit rasa sedih)
Lisa: tapi aku cinta sama mas Fatah.
Aku: orang tua tau yg terbaik untuk kita (jawaban ini musyrik karena yg paling tau yg terbaik hanya Allah Swt.)
Lisa: kalau misalkan aku tidak mau bagaimana? Apa mas Fatah akan berani datang ke rumahku untuk memintaku?
Aku: aku juga tidak tahu, apa yg harus aku lakukan, tapi jika memang itu yg kamu mau, Akan aku lakukan (jawaban bijak ke dua)
Lisa: kalau gitu aku mau mas Fatah bawa cincin yg asli dari Papua ya, aku maunya 10 biji.
Aku: lahhhhh,,, jauh bener, udah gitu biayanya mahal, arrgghhhh kamu bercanda aja deh, ini cerita serius apa hanya bercanda?
Lisa: horreee aku berhasil, mas Fatah sedih kan denger ceritanya?
Aku: yeeee biasa aja kali, masih banyak perempuan lain (jawaban paling tidak bijak seumur hidupku)
Lisa: kalau gitu aku bener minta dijodohkan agghhh ke ortuku.
Aku: yahhhh jangan gitu lah, nanti aku sedih beneran, mau tanggung jawab kalau aku nangis di sini, nanti aku bilang ke Pak B aku cubit,, hayyoooo..
Lisa: jodohnya tapi mas Fatah.
Aku: Amiiinn Ya Rabb.
……setelah kami selesai makan bakmie, kami menuju ke kampus untuk matakuliah sore, namun aku hendak ingin menunaikan ibadah sholat sebelum kami kuliah.
…… setibanya aku dipertigaan jalan aku hendak ingin berbelok arah menuju salah satu masjid, namun kejadian yg tak terduga mendatangi kami.
Aku: (sedang berkendara) mas masih mau sholat dulu ya, kamu juga sholat?
Lisa: aku lagi halangan mas. Mas nya aja dah ya, jangan lupa doakan kita. Ehmmm ehmm.
Aku: iyalah pasti, nggak pernah aku lupakan itu. Ngomong-ngomong kamu nggak mau makan nasi? (Sambil menoleh ke arah belakang)
Lisa: Mas Awwwwwaaaasssssss….
Duuuuuaaaabbbbbbbbrrrrraaakkkkkk….
To be continued.
