Namaku Fatah, laki-laki yg menentang pacaran. Bukan karena aku tak mau, tapi karena ada larangan untuk itu. Menghabiskan waktu di kampus merupakan hal yg saat ini aku nikmatin. Belajar menjadi sarjana, belajar untuk menjadi laki-laki yg berpendidikan, yang paling penting belajar menjadi Seorang Laki-laki. Ada banyak laki-laki yg pengecut, ada pula laki-laki yg tak bisa bertanggung jawab, ada jugaaaa, laki-laki yg berani melakukan tetapi takut menjalankan. Ada banyak teman-temanku seperti itu sedangkan aku menghindar dari hal yg menurutku menakutkan jika aku menjadi yg seperti itu. Cerita pertama yg berkesan dalam hidupku tentang 'Kesadaran Laki-laki akan Dosa Besar Pacaran ’.

Aku punya seorang teman bernama Ahmad, pagi itu aku bersamanya sambil menikmati hidangan di rumahnya.

  • Fatah: Mad, sudah lama ya, kita tak liburan, kamu juga jarang mengajakku ke tempat wisata. Keseringanmu bersama pacarmu membuat pertemanan kita pecah.
  • Ahmad: wah sejak kapan jadi lebay gini, tapi ngomongin pacar, sebenarnya aku sudah putus beberapa bulan kemarin.
  • Fatah: lah kenapa? Kok aku baru tau. Kalau aku tau pasti aku ajak jalan bekas pacarmu itu.
  • Ahmad: kayak yg berani aja lu Tah! Wonk Deket sama cewek aja penakut.
  • Fatah: langsung cerita aja, gimana kok bisa putus gitu.
  • Ahmad: aku sayang sama dia, begitu pula dia kepadaku. Hanya saja dia memintaku untuk datang ke rumahnya bersama keluargaku.
  • Fatah: (memotong pembicaraan) loh kan bagus, artinya kamu bakal lepas dari dosa pacaran, menikah lebih cepat lebih baik dari pacaran lama tapi nikahnya sama orang lain.
  • Ahmad: haddeh ceritaku belum selesai udah lu potong tong! (Si Otong)
  • Fatah: Yee aku kan bener, ok lanjut!
  • Ahmad: suatu malam aku datang ke rumahnya untuk mengajaknya jalan-jalan. Ketika itu di rumahnya lagi sepi tidak ada orang tua ataupun siapapun.
  • Fatah: wah jangan-jangan setelah itu kamu dengan dia, ngelakuin…
  • Ahmad: (memotong pembicaraan) gua tampol juga lu, jangan ngeres gtu juga lah, walau aku pacaran tapi aku juga takut dengan dosa besar.
  • Fatah: wah temenku taubat. Ok lanjut!
  • Ahmad: nah memang dia ngajak yg seperti itu.
  • Fatah: (memotong pembicaraan) wooww uww uww Aww Woowww
  • Ahmad: tapi gua menolak Tah. Gini-gini juga imanku kuat. Setelah dia mengajakku seperti itu, ketika itu juga aku pulang tanpa pamit.
  • Fatah: “pikirku kan sudah tidak ada orang, syaitonnya juga sudah numpuk untuk ngajakkin kemurkaan, pasti bakal ngelakuin, eh malah prasangkaku buruk” (dalam benakku)
  • Ahmad: keesokan harinya aku putusin, aku tak mau berprasangka buruk tentangnya ketika belum pacaran denganku atau ketika dia berpacaran dengan orang lain.
  • Fatah: makanya aku bilang, tak usah lah yg namanya pacaran-pacaran, ta’aruf lebih baik, bernilai ibadah sekalipun tak jadi, terhindar dari fitnah, dan insyaallah Allah berikan jalan untuk hamba-Nya yg berusaha.
  • Ahmad: iya Tah, kali ini aku nggak bakal pacaran lagi, mudah-mudahan Allah bukakan pintu taubat untukku.
  • Fatah: Amin Ya Rabb.

Setelah aku berbincang-bincang dengannya kemudian aku pamit pulang (tapi setelah makan dari rumahnya…hhaahhaa). Mendengar cerita itu, aku semakin yakin untuk ta’arufan dengan seorang Akhwat, suatu hari nanti.