Mimpi yang Terus Teringat Sehabis Bangun Tidur Sebelum Shubuh
Sekitar setengah jam yang lalu saya terbangun dari tidur dan masih ingat mimpi saya saat tidur tadi. sekarang sedang adzan Shubuh. Kali ini akan saya coba untuk menuliskan mimpi saya.
Jadi, seingat saya, saya sedang berjalan di suatu gang. Gang itu dapat dilewati mobil selebar Alphard. Saya sedang melangkah menuju jalan besar. Jika saya ingat-ingat, gang itu seperti rumah lama saya yang berada di jalan Wahab I. Dan gang yang sering dilewati dengan mobil jika ingin parkir di pekarangan rumah.
Saya pun terus berjalan hingga sampai di persimpangan. Ada beberapa mobil yang memarkirkan mobilnya di sisi jalan. Ketika saya melihat ke kiri jalan, tidak ada yang spesial. Ketika saya melihat ke kanan jalan, suatu yang spesial terjadi. Teman SD saya sedang bermain ke sini.
Saya pun langsung memeluk kedua teman saya itu. Keduanya wanita. Yang pertama saya peluk bernama: Rakyan, tetapi dipanggil Kyan. Yang kedua saya peluk bernama: Ghaniya, tetapi ia biasa dipanggil Ghina.
Sebelum saya memeluk mereka berdua, Kyan menyahut, “Eh, Emaaan…” Itu panggilan saya. Saat itu juga Ghina, yang tadi tidak sadar akan keadaan saya, sontak menengok ke arah saya.
Saya mulai mendekati mereka dan Kyan bertanya, “Apa kabar, Man?” Saya langsung menjawab bahwa saya baik-baik saja. Dan setelah itu, karena rindu yang mungkin meluap begitu saja, saya langsung memeluk Kyan. Walaupun ini hanya bunga tidur, sangat terasa seperti kenyataan. Saya merasa sangat nyaman dan tenang ketika memeluk Kyan. Teresa empuk sekali dan mengingatkan saya terhadap kasur. Sangat nyaman dan menenangkan.
Dan Ghina, yang dari tadi melihat saya memeluk Kyan, nyengir dengan gigi gingsulnya yang khas. Seperti ia sedang nostalgia terhadap kenangan-kenangan yang sempati kami lalui bersama. Tanpa pikir panjang, saya melepas pelukan Kyan yang hangat itu dan memeluk Ghina yang nampak dari tadi menunggu gilirannya.
Pelukan Ghina tidak sehangat pelukan Kyan. Mungkin karena Ghina lebih kurus dibandingkan Kyan. Saya memeluknya lama juga. Lama seperti saya memeluk Kyan. Mungkin sekitar tiga menit, terasa seperti itu di dalam mimpi.
Ghina memeluk saya sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya. Seperti wanita bertemu sahabatnya yang hanya sebentar saja berpisah, lalu memeluknya seperti lima tahun tidak bertemu. Tapi kali ini memang sangat lama sekali saya tidak bertemu Ghina. Sekitar lima tahun lamanya, dalam kehidupan nyata. Jadi, saya mewajari Ghina yang menggoyang-goyangkan tubuhnya karena itu tanda dari kerinduan yang begitu mendalam terhadap teman pertama semasa tumbuhnya untuk mengenal dunia.
Saat di pelukan Ghina, saya berbisik kepadanya, “Enakan pelukan Kyan, Ghin..” Sontak Ghina memukul punggung saya dan menjawab dengan intonasinya yang khas seperti emak-emak Padang, “Sialan lu, Man!” Dan pelukan kami makin erat.
Ketika saya memeluk kedua teman saya itu menghadap gang yang tadi saya lewati, saya melihat seseorang yang mengintip, dari ujung gang, terhadap perlakuan saya. Tetapi saya menghiraukannya dan melanjutkan pelukan saya.
Tidak lama, saya melepas pelukan Ghina. Pelukan yang membuat saya nostalgia. Begitu juga dengan pelukan Kyan yang hangat dan lembut mengingatkan saya ketika SD dan SMP bersamanya serta teman-teman saya yang lainnya.
Saya melihat senyum kedua teman saya itu merekah bahagia. Sekita tiga puluh detik kami saling tatap tanpa bicara sembari tersenyum. Di ujung kedua mata Ghina terlihat butiran-butiran air mata yang ingin jatuh karena begitu bahagia bertemu dengan teman lamanya. Teman yang berjuang bersama untuk lulus dari jenjang Sekolah Dasar.
Setelah itu saya mencoba memecahkan keheningan, “Ke sini berdua, aja?”
“Enggak. Bareng Puteri sama Ivo.” Balas Ghina.
“Ohh.. Ke mana mereka berdua?”
“Lagi pergi. Gatau ke mana.”
Setelah itu yang terpikirkan oleh saya adalah, mungkin mereka ingin menjenguk saya. Saya yang mencoba untuk menjauhi teman-teman SD dan SMP karena kekecewan yang sangat sepele terhadap mereka. Saya yang mencoba menjauh karena saya merasa terjadi perpecahan di antara teman-teman yang saya cintai itu. Dan saya yang mencoba untuk menyatukan mereka tapi tidak sanggup karena pedih yang ditanggung seorang diri.
Ketika mereka datang saya berpikir bahwa mereka adalah teman-teman yang selalu mencintai saya, yang selalu menganggap saya hadir diantara mereka, yang selalu mengisi hari-hari saya ketika tumbuh, yang selalu mengingatkan saya terhadap perjuangan, kenangan, dan cinta yang mereka bagikan bersama diantara kita.
Sedih.
Setelah saya berpikir cukup lama, hingga bengong sendiri, Kyan dan Ghina menunjuk ke kiri. lalu si Ghina menyahut sambil menuding kedua orang berbadan besar yang sedang berjalan menuju tempat kami bertiga berdiri, “Tuh! Pute ama Ivo.”
Karena murrotal yang terdengar dari toa masjid, saya terbangun. Terbangun dengan sangat bahagia karena bisa memimpikan mimpi itu. Dan karena saya tidak mau lupa dengan mimpi yang sangat membuat saya nostalgia itu, saya menuliskannya.
* * *
Nulisnya pas abis sholat Shubuh, di kantor Akyas, tanggal 06 bulan Desember tahun 2015.