Pembatasan Layer Perantara Dagang Antara Petani dengan Pabrik Rokok
Nama : Zainur Aini Arifah
NIM : 15417104
Produksi tembakau di Indonesia dari tahun ke tahun semakin menigkat. Berdasarkan data Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) 2015 petani tembakau Indonesia dapat menghasilkan 193.790 ton tembakau. Sedangkan pada tahun 2016 mencapai 196.154 ton, dan pada tahun2017 tercatat jumlah yang dihasilkan mencapai 198.296 ton. Dan pada tahun 2018 ini sejak Bulan Maret kemarin hasil panen tembakau telah tercatat mencapai 200.000 ton. Produksi ini diperkirakan akan terus meningkat apabila didukung dengan cuaca yang lebih baik.
Seiring meningkatnya produksi tembakau di Indonesia, tak terkecuali Kabupaten Jember juga mengalami peningkatan jumlah produksi. Peningkatan jumlah produksi ini juga diiringi dengan oeningkatan kualitas dari tembakau yang diproduksi. Sayangnya, tahun ini para petani tembakau di Kabupaten Jember khususnya wilayah Jember Selatan, Desa Lojejer Kecamatan Wuluhan mengalami penurunan pendapatan. Jenis tembakau yang diproduksi oleh petani Desa Lojejer ini adalah tembakau kasturi. Sebelumnya, harga di pasaran jenis tembakau kasturi ini bisa mencapai angka lima puluh ribu rupiah perkilogramnya. Namun harga ditingkat petani tembakau di desa tersebut hanya mencapai dua puluh lima ribuan hingga tiga puluh ribu rupiah. Sedangkan perusahaan besar rokok mematok harga sekitar seratus ribu rupiah. Para petani berasumsi jika penurunan harga tembakau ini disebabkan oleh adanya permainan harga ditingkat pengumpul tembakau atau tengkulak. Untuk proses tembakau ini mencapai prusahaan besar rokok harus melalui lima tahap. Yaitu pengumpul tembakau, kemudian ke pedagang kecil, pedagang besar, grader (pesortir) dan terakhir ke perusahaan besar rokok. Menurut Soesoono selaku Ketua Umum APTI, posisi petani bukanlah price maker. Tata kelola perniagaan yang belum tertata baik ini membuat petani tidak bisa memutuskan harga jual tembakau kepada para tengkulak. Harga yang diberikan kepada petani bisa diasumsikan sebesar kurang lebih 30% saja jika dibandingkan dengan harga tembakau yang masuk ke perusahaan besar rokok (23/3).
Sebenarnya kualitas tembakau lokal tidak kalah baik dibanding dengan tembakau hasil impor. Namun dengan kendala harga yang tinggi petani tidak mampu membeli bibit unggul dan berkualitas. Saat ini belum ada kemitraan antara petani dengan perusahaan besar untuk menghasilkan tembakau yang berkualitas tinggi. Selain terkendala harga bibit unggul yang tinggi, petani juga dihadapkan dengan masalah cuaca. Cuaca yang kering ini seharusnya menjadi keuntungan dan rezeki bagi petani tembakau di Desa Lojejer. Namun adanya permainan harga di kalangan tengkulak membuat para petani tidak dapat merasakan keberkahan tersebut. Asumsi petani ini dikuatkan dengan adanya perbedaan harga yang signifikan antara wilayah Jember Selatan dengan Jember Utara. Tembakau kualitas super disana dihargai hingga empat puluh satu ribu rupiah. Dalam hal ini, pembenahan prosedur dagang tembakau sangat diperlukan demi kesejahteraan para petani tembakau. Selama ini pemasok tembakau setidaknya ada lima layer. Apabila lapisan ini dapat dikurangi hingga menjadi 3 layer dari petani, kemudian menggunakan pihak penengah, dan terakhir langsung ke perusahaan besar, maka petani tidak akan bergantung lagi kepada tengkulak untuk membuat keputusan harga jual mengikuti harga pasar yang sedang berlaku.
Pembatasan perantara penjualan seperti yang dinyatakan sebelumnya layak dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Selain itu, edukasi tentang pentingnya update harga yang sedang berlaku dipasaran kepada petani sangat diperlukan. Permainan harga oleh tengkulak seperti yang terjadi pada petani Desa Lojejer juga disebabkan oleh ketidaktahuan petani tentang harga yang berlaku di pasaran saat itu. Hal ini penting dilakukan dengan tujuan menghindari permainan harga tembakau oleh tengkulak kepada para petani.
Daftar Pustaka :
Agustinus, Michael. (2018, 23 Maret). Kumparan. Retrieved September 09, 2018, from https://kumparan.com/@kumparanbisnis/cerita-petani-soal-harga-tembakau-yang-dikendalikan-pedagang-perantara
Bosnia, Tito. (2018, 27 Maret). CNBC Indonesia. Retrieved September 09, 2018, from https://www.cnbcindonesia.com/news/20180327162527-4-8765/cuaca-mendukung-produksi-tembakau-2018-tembus-200000-ton
Anonim. (2018, 07 September). Jember 1 TV. Retrieved September 09, 2018, from https://www.jember1tv.co.id/2018/09/07/harga-tembakau-di-wuluhan-justru-turun/
Anonim. (2018, 07 September). Jember 1 TV. Retrieved September 09, 2018, from https://www.jember1tv.co.id/2018/09/07/harga-tembakau-membaik-di-jember-utara/
Republik Indonesia. 2016. Statistik Perkebunan Indonesia 2015–2017 : Tembakau. Direktorat Jenderal Perkebunan Indonesia. Jakarta.
