"Aku tidak akan marah atau memperhatikanmu jika aku sama sekali tidak peduli padamu. Semua yang kulakukan ini semata-mata karena aku mengkhawatirkan keadaanmu." Davian mengembuskan napas dengan berat. Lalu matanya kembali menatap tajam pada Eve.
Eve tertunduk dan mendesah. "Tapi aku bukan anak kecil yang harus selalu diawasi."
"Berapapun usiamu, aku tetap tidak rela jika sesuatu yang buruk terjadi padamu," Davian berkata penuh penegasan.
Eve tercengang. Tak dapat berkata lagi.
"Jika kau tidak menerima perlakuanku padamu, aku akan menghentikannya." Tatapan tajam Davian masih menusuk Eve. "Apa mulai sekarang kau ingin aku tak mengacuhkanmu?"
Mata Eve berkaca-kaca. Tiba-tiba ia menghambur ke pelukan Davian. Tangannya erat memeluk laki-laki itu.
"Tidak. Jangan. Tetaplah seperti itu. Maafkan aku," ujar Eve sambil terisak.
Davian mengangkat tangannya dan mengelus setiap helaian rambut Eve dengan penuh sayang.
"Aku tidak akan melakukan itu jika aku tidak mencintaimu. Kau bebas melakukan apapun, tapi jangan membuatku cemas lagi."

Tulisan lama 
21072013

Like what you read? Give Zakiyah Faqoth a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.