EpiLon (The Epifit Loner)
By: Zakiyah

Bel istirahat menjerit-jerit. Sorak-sorai siswa membuat riuh suasana. Guru yang masih asyik menerangkan materi mulai mereka abaikan. Melongok ke arah luar jendela. Melirik-lirik kantin. Apakah antrian di tukang bakso masih kosong. Guru pun mulai menyadari bahwa murid-muridnya sudah tak tahan ingin meninggalkan ruang kelas. Lalu ia mengakhiri pelajaran dan berpamitan.
Dua puluh empat siswa di kelasku satu per satu keluar. Menuju kantin. Memenuhi ratapan perut mereka yang mulai lapar. Tapi tidak dengan aku. Satu orang tersisa di kelas ini. Aku. Ya, aku tak seperti mereka yang selalu tertarik dengan jam istirahat dan mendambakan bel pulang. Lima menit berlalu, aku masih diam. Istirahatnya sekitar dua puluh lima menit lagi. Biasanya aku diam saja di dalam kelas; tidur, menggambar atau melakukan hal lain – seperti melamun. Lalu aku teringat temanku yang selalu menunggu di kebun belakang sekolah. Aku pun melesat – berlari menuju kebun yang terletak tepat di belakang kelasku.
Kulihat ia. Masih di tempatnya semula. Cantik. Aku tersenyum dan menghampirinya. Kuelus lembut. Kubersihkan debu yang menempel di kelopaknya. Anggi, anggrek yang kutemukan sebulan yang lalu. Saat aku benar-benar bosan diam di kelas. Iseng aku melangkahkan kaki ke kebun dan aku pun menemukannya. Kebetulan waktu itu setelah istirahat adalah pelajaran Biologi yang mengharuskan kami belajar di luar kelas – meneliti tanaman. Jadi kumanfaatkan untuk sekalian merawat bunga anggrek berwarna ungu muda-ungu tua itu. Sampai sekarang, Anggi adalah teman setiaku. Yang selalu mendengarkan curahan hatiku. 
Bel masuk berteriak lagi. Membuat anak-anak bubar dari kantin. Aku mengeluh dalam hati. Malas sekali harus masuk lagi dan berbaur dengan mereka. Anak-anak itu. Anak-anak yang egois. Selalu mementingkan kepentingan mereka dan kepuasan batin mereka sendiri. Anak-anak yang memercayai desas-desus bahwa aku adalah anak aneh yang mengidap penyakit jiwa. Hanya karena aku sering – dan senang – menyendiri. Padahal, bagiku, menjadi penyendiri itu lebih baik dari pada dikelilingi banyak orang yang tak bisa mengerti perasaanku.
***
Tak di sekolah. Tak di rumah. Aku melihat banyak orang di sekitarku. Tapi aku tak bisa merasakan kehadiran mereka. Keluargaku terdiri dari lima orang. Satu ayah, satu ibu, tiga anak (termasuk aku). Tapi kapan aku merasakan hangatnya suasana itu. Suasana yang seharusnya kudapatkan dalam sebuah keluarga.
Rumah bukanlah tempat yang selalu kurindukan. Ia juga bahkan tidak seperti tempatku pulang. Besar. Megah. Tapi tidak ada kehidupan. Semua orang sibuk dengan urusan masing-masing. Kakak tertuaku, Alvin, sibuk dengan eksperimen dan laporannya (ia seorang mahasiswa magister sekaligus asisten dosen Fisika di kampusnya). Kakak keduaku, Almira, sibuk merancang busana dan menjalankan bisnis butiknya. Kegiatanku di rumah hanyalah beristirahat, mandi, dan kadang-kadang makan. Tidak sesibuk mereka. Dan lagi pula, aku bukan orang sepenting mereka.
“Aldin, uang bulanan sudah Papa transfer.”
SMS itu masuk ke handphone-ku saat aku baru saja tiba di rumah. Pukul sepuluh malam. Tidak salah, kok. Memang hampir setiap hari aku pulang malam. Kadang-kadang pukul delapan sudah di rumah, sih.
SMS Papa itu tidak kubalas. Lagi pula aku tidak ingin SMS seperti itu. Aku tidak butuh uang Papa. Aku ingin sekali saja Papa mengirim SMS menanyakan keadaanku. Atau minimal menanyakan apa yang sedang kulakukan. Harapanku itu seakan hanya mimpi belaka. Mimpi yang sangat mustahil terkabul.
***
Aku baru selesai membersihkan diri ketika kurasakan satu titik di perutku berdenyut. Satu kali. Kutahan. Dua kali. Aku masih bisa berjalan. Berdenyut lagi. Kuremas perut bagian bawahku. Lalu jatuh berlutut. Meringis. Rasanya seperti ada jarum yang menusuk-nusuk di dalam perutku. Aku berusaha meraih gelas di atas nakas. Bergetar, aku mendekatkan gelas berisi air hangat itu ke mulut. Kupikir air hangat bisa meredakan rasa sakit.
Aku bersandar di samping tempat tidur sambil tetap memegangi perut. Kucoba mengatur napas. Keringat dingin menjalari tubuhku. Bergetar. Tubuhku merinding.
Inilah salah satu keadaanku yang tidak diketahui oleh keluargaku yang super sibuk.
Sekarang aku harus memanggil siapa? Adakah orang yang bisa kumintai pertolongan di saat kondisiku seperti ini?
***
Setelah semalaman tak sadarkan diri, pagi hari aku terbangun. Masih dengan badan yang lemas. Tapi aku tak biasa berdiam di rumah. Aku berangkat ke sekolah. Bukan karena ingin apa-apa. Hanya ingin menengok Anggi.
Dulu – iya, dulu – aku punya teman. Dua orang yang dulu aku bilang mereka teman dekat. Sebelum mereka mengkhianatiku. Awalnya aku menyembunyikan identitasku sebagai anak seorang direktur hotel ternama di Bandung. Karena aku tahu, orang-orang biasanya berlaku baik pada orang yang berasal dari keluarga berpengaruh. Mereka itu, mantan temanku, suatu hari menemukan dompetku yang tergeletak di lantai ketika aku menginap di rumah salah satu dari mereka. Terdapat kartu ATM dan kartu kredit. Lalu dengan piciknya mereka menggunakan fasilitas itu untuk berfoya-foya, sampai tagihanku membengkak dan Papa marah luar biasa.
“Kok kamu gak bilang kalo kamu itu orang kaya?”
“Memangnya perlu? Apa pengaruhnya?”
“Ya perlu banget!” Salah satu dari mereka berkata dengan sewot. “Kalau kita tahu kamu orang kaya, kita kan gak perlu khawatir.”
Ya, mungkin ke-frontal-an mereka yang membuatku sebal. Tapi lebih dari itu, setiap pulang sekolah, mereka mengajakku ke mall lalu menyosor dompetku dan mengurasnya sampai habis. Papa marah lagi. Dan mulai saat itu jatah uang sakuku dikurangi. Kartu kreditku diganti. Kusembunyikan di rumah. Akhirnya, mereka mulai menjaga jarak denganku. Karena tak ada lagi yang bisa mereka timba dariku.
Tak berhenti sampai di situ, setelah kedua orang itu menjaga jarak denganku, mereka pun menyebar gosip jelek tentang aku. Aku tak tahu ada laki-laki bermulut nyinyir seperti mereka.
“Aldin itu mengidap penyakit aneh. Makanya dia kebanyakan diem. Bengong. Hiii~” Mereka berkata sambil menyilangkan kedua telunjuk di kening.
Satu per satu orang menjauh. Mereka seperti alergi padaku. Sejak saat itu, aku pun muak pada seseorang yang bernama teman. Dan memilih untuk tidak punya teman.
***
Jam istirahat, aku kembali mendatangi kebun belakang.
“Hai, Anggi.” Aku berjongkok. “Waw, lihat. Ada anggota baru,” seruku saat melihat ada anggrek lain yang baru mekar. Aku menyidekapkan tangan di atas lutut. Senang karena Anggi akan mempunyai keluarga baru. Setelah menanyakan kabar, aku pun mulai bercerita banyak hal pada Anggi. Aku menyingkirkan daun kering yang menyangkut di batang Anggi. Entahlah, mungkin sikapku yang seperti ini yang membuat orang-orang menyangka bahwa aku ini tidak normal. Berbicara pada bunga anggrek, padahal di sekolah ini banyak manusia yang bisa kuajak bicara. Ya, tapi sayangnya mereka tak bisa kuajak bicara. Hanya Anggi yang bisa. Walau pun hanya komunikasi satu arah yang tercipta.
Aku menyipitkan mata dan melirik ke sebelah kanan. “Ngapain kamu di situ?” tanyaku ketus.
Sosok yang mengintip dari balik tembok itu menyembulkan kepalanya sambil nyengir. “Kamu tahu aku di sini?” katanya sambil mengelus-elus tengkuknya kikuk. 
Yang benar saja. Aku tahu setiap hari ia bersembunyi di balik tembok. Mengintip. Atau apa lah. Aku tidak tahu apa yang ia lakukan. Tapi yang jelas ia sangat mengganggu. Mengusikku secara diam-diam.
Anak perempuan itu menghampiriku dan berjongkok di sampingku. “Anggreknya bagus, ya.”
“Cantik,” koreksiku.
Ia mengangkat sebelah alis. “Iya. Cantik.” Kemudian matanya kembali tertuju pada Anggi. “Kamu suka bunga?” tanyanya.
“Cuma anggrek aja,” jawabku. Kulihat ia dari ujung mataku. Bibirnya menahan senyum. “Apa? Kamu mau bilang aku banci karena suka bunga?” kataku sewot.
Ia menggeleng dan menyilangkan tangan di depan wajahnya. “Enggak, enggak. Santai, dong.” Matanya kembali mengamati Anggi. “Aku juga suka anggrek.”
Aku gak nanya dan gak mau tahu, omelku dalam hati. Sedang apa dia di sini? Ia mengganggu quality time-ku bersama Anggi.
“Kamu sering ke sini, ya?” Mulai deh. Bertanya hal yang... memang-penting-untuk-kujawab?
“Tiap hari,” jawabku singkat. Tanpa menoleh ke arahnya.
“Kamu gak punya teman, ya, di kelas?” Astaga! Ia ini kenapa?
“Apa urusan kamu?” aku balik bertanya – ketus.
Ia menggeleng. Menundukkan kepala. Mungkin ia mulai menyadari bahwa ia sudah terlalu jauh masuk ke area pribadiku. Aku berharap dalam hati agar ia cepat-cepat pergi.
Kudengar ia menarik dan mengembuskan napas. Keras sekali. Pandangannya lurus ke depan. Diam-diam aku menilik-nilik wajahnya. Kalau tidak salah, ia ini anak kelas X2. Yang pernah datang ke kelasku untuk mengantarkan buku paket Biologi. Lalu, kenapa ia sekarang ada di kebun belakang? Bukannya makan bakso bersama anak-anak perempuan yang lain.
“Aku juga setiap hari ke sini,” katanya tanpa kutanya.
“Ngapain? Kebun, kan kotor. Kulit kamu bisa gatel-gatel kena daun.”
“Aku nadran.”
Aku tak menjawab. Hanya memandangnya dengan mata disipitkan. Nadran katanya? Nadran ke makam siapa? Siapa yang dikubur di kebun belakang sekolah?
“Itu.” Ia menunjuk ke ujung pagar. Di sudut benteng ada sebuah batang kayu kecil tertancap di tanah. Dan beberapa kelopak bunga kecil yang sepertinya baru ditaburkan. “Hammu. Hamster aku mati sebulan yang lalu. Aku kubur ia di sana.”
Baiklah, itu sebenarnya tidak penting bagiku. Apa peduliku dengan hamsternya yang mati?
Ia diam beberapa saat. Seperti tidak dapat berkata-kata. Kulihat ia menengadahkan wajah sambil menggigit bibir bawah. Aku tahu ia sedang menahan tangis. Jelas. Ada air menggenang di sudut matanya.
Hei, tapi lalu kenapa ia harus bercerita padaku?
Ia mengerjap dan mencoba tersenyum kembali. Berbalik menatapku dan mengulurkan tangan. “Franda.”
Agak lama aku menatap tangannya yang terulur. Lalu berganti menatap wajahnya. Ia masih melengkungkan bibirnya dengan manis. Mau tak mau aku menyambut uluran tangannya. “Aldin.”
Franda menyeringai. Aku melengos.
“Aku gak tahu kalau ada orang lain yang suka datang ke kebun.”
“Aku juga.”
“Kamu yang tanam anggreknya?”
Aku mengernyit. “Numbuh sendiri, kali.”
Franda mengangguk-angguk. “Kenapa kamu suka anggrek?”
Aku dan keluargaku seperti anggrek dan pohon ini. Berdampingan tapi menjalani hidup masing-masing. Aku bagaikan manusia liar yang menumpang hidup di rumah orang tuaku. Hidup epifit seperti anggrek. Aku merasa bahwa Anggi mau menjadi temanku karena Anggi juga bernasib sama denganku.
“Suka aja.” Akhirnya jawaban itu yang kulontarkan. Franda kembali manggut-manggut.
“Kenapa hamster kamu mati?”
Nah, kenapa juga aku jadi ingin tahu?
“Waktu aku bawa ia ke sekolah, temen-temen mainin Hammu. Terus Hammu lepas – atau sengaja dilepasin – dan keinjek orang.”
Aku bekernyit. “Sadis.”
“Banget,” tambahnya. Lalu matanya kembali berkaca-kaca. “Padahal Hammu itu satu-satunya temanku.”
“Kamu kan bisa beli lagi.”
Franda menggeleng. “Aku gak mau Hammu yang baru.”
“Kamu gak punya teman, ya, di kelas?” Aku meniru pertanyaannya beberapa saat yang lalu. Ia seperti ingin tertawa, tapi ditahan.
“Bisa dibilang begitu. Kamu juga, ya? Ya, kan?”
“Bisa dibilang begitu.”
“Nyontek kata-kata aku terus dari tadi.”
“Gak boleh emang? Udah di kelas gak boleh nyontek, masa di sini gak boleh juga.”
Franda terkekeh. “Aku punya ide!” katanya sambil menjetikkan jari. “Karena kamu gak punya teman... dan aku juga gak punya teman. Gimana kalau kita berteman?”
Aku kembali menatapnya dengan mata disipitkan. Dan akhirnya aku menjawab. “Boleh juga.”
Lalu, sejak saat itu, aku mempunyai teman selain Anggi. Aku sendiri tidak mengerti. Kenapa aku bisa kembali membuka hati pada seseorang yang menyebut dirinya... teman? 
***
Seminggu berlalu. Selama itu waktu istirahat kuhabiskan bertiga – aku, Anggi, dan Franda. Ternyata Franda juga senang menceritakan banyak hal pada Anggi. Ia bilang pada Anggi kalau hamsternya yang mati itu adalah hadiah dari orang tuanya. Seminggu setelah menghadiahkan Hammu, orang tua Franda meninggal karena kecelakaan. Jadi Hammu itu adalah kenang-kenangan terakhir dari orang tuanya. Makanya, ketika Hammu mati, Franda sangat terpukul.
“Jangan nguping!” ucapnya sambil mengerucutkan bibir.
Aku mendengus. Lalu melemparkan pandangan ke arah lain sambil menutup kedua telinga dengan telapak tangan. Dasar aneh! Walau bagaimana pun, pasti aku bisa mendengarnya. Dia berbicara keras sekali dan jarak kami tidak sampai satu meter.
“Sekarang giliran kamu.”
“Eh?”
“Giliran kamu yang cerita sama Anggi.”
Aku menggeleng.
“Kenapa?”
“Ada kamu. Nanti kamu nguping.”
Ia menangkupkan tangan di telinga. “Enggak, kok. Gak nguping.”
“Emang gak kedengeran?”
Ia menggeleng. “Enggak. Gak kedengeran.”
“Dasar! Itu kamu jawab pertanyaan aku. Berarti kamu denger.”
Franda terkekeh. Ia terlihat sangat bahagia. Tanpa sadar sudut-sudut bibirku tertarik ke atas. Untuk pertama kalinya aku tersenyum. Tersenyum demi melihat kebahagiaan orang lain.
“Anggi,” ucapku kemudian. Franda memasang wajah serius – seperti seorang murid yang bersiap mendengarkan penjelasan guru. Aku mengabaikannya – seperti membiarkan ia menguping. “Aku kangen Papa sama Mama. Kamu tahu kapan mereka akan pulang?” Aku berhenti sejenak. Menelan ludah dengan susah payah. “Kamu mau bantu aku bilang ke Papa kalau aku sakit?” kataku dengan suara sedikit bergetar.
“Kamu sakit apa?” potong Franda.
“Aku lagi ngomong sama Anggi,” protesku.
“Tapi kamu bilang kamu kangen Mama Papa kamu. Terus kamu bilang kamu sakit. Maksudnya apa?” katanya panik.
Apa aku perlu menceritakannya pada Franda? Apa ia bisa kupercaya?
“Udah ah, jangan ngomongin itu.” Aku berdiri. “Aku ke kelas dulu.”
“Istirahatnya masih sepuluh menit lagi.” Ia menangkap lenganku. “Please... Cerita.” Wajahnya memelas. Akhirnya aku pun berbalik. Bersandar pada dinding. Kedua tangan kujejalkan ke saku celana. Kutundukkan pandangan. Menatap sepasang sepatu hitam yang kukenakan. Franda kelihatannya masih menunggu ceritaku. Sebelum aku membuka suara, satu titik di perut berdenyut lagi. Disusul dengan satu denyutan di kepala. Sekitarku terasa berputar. Aku terhuyung. Franda meraih bahuku – menahanku agar tidak jatuh. Aku melihatnya sekilas. Sebentar saja, karena sedetik kemudian wajahnya mengabur dari pandanganku. Lalu aku tak melihatnya lagi.
***
Aku membuka mata perlahan. Aku bekernyit. Pening. Kepalaku terasa berat dan berputar-putar. Benda pertama yang tertangkap mataku adalah tirai putih yang bergoyang di samping ranjang. Oke, ini pasti ruang UKS. Tapi kenapa aku ada di sini?
Tirai membuka, sosok mungil berrambut shaggy itu datang sambil membawa segelas teh hangat.
“Udah siuman ya? Gimana sekarang? Udah enakan?” Disimpannya segelas teh itu di atas nakas.
“Emangnya aku pingsan?”
Ia mengangguk cepat. “Bikin aku panik banget tadi.” Ia menarik kursi ke samping ranjang, kemudian duduk dan menyedekapkan lengan di kasur. “Kamu sakit apa, Al?”
Aku beringsut duduk. Franda bangkit dan menata bantal untukku bersandar. Ia meraih teh dan menyodorkan padaku.
“Minum dulu.”
Aku menggeleng. “Ntar aja.”
“Ih, minum dulu. Kamu harus banyak minum. Ini teh manis. Biar kamu gak lemes.”
Aku menatap wajahnya yang sungguh-sungguh menyuruhku minum. Sebelumnya tak pernah ada yang mengingatkanku mengenai apa pun, apalagi hal sesepele ini. Hanya segelas teh manis hangat. Di rumah, aku bahkan tak pernah ditawari minum segelas air putih atau diingatkan untuk banyak minum.
Akhirnya aku meraih gelas itu dan meneguk isinya. Aku menyodorkan kembali pada Franda ketika isinya tinggal setengah. Franda mendekatkan gelas itu kembali padaku.
“Habisin.”
Franda siapa? Dia tinggal di mana? Franda bahkan tak tahu aku siapa. Hanya sebatas teman ngobrol di kebun belakang sekolah. Kenapa ia begitu mengkhawatirkan aku? Apa seorang teman itu memang seharusnya seperti ini?
***
“Kamu bisa pulang sendiri, Al?” tanya Bu Fatia setelah mengecek tekanan darahku. “Tensi kamu masih rendah. Masih pusing, gak?”
Aku diam sejenak. Aku rasa memang masih sedikit pusing. “Gak apa-apa, Bu. Udah biasa, kok.”
“Kamu ngendarain motor, kan? Bahaya ngendarain motor dalam kondisi seperti ini.”
“Biar aku antar aja,” sahut Franda. Aku dan Bu Fatia memandang ke arahnya. “Aku bisa ngendarain motor, kok. Aku antar Aldin ke rumah,” katanya sambil tersenyum lebar.
Aku bekernyit. Aku? Dibonceng anak perempuan? Oh, jangan bercanda.

“Helmnya cuma satu, ya, gimana, dong?” Franda terlihat kebingungan. Salah siapa tiba-tiba menawarkan diri mengantarku pulang.
“Udah kamu aja yang pake helm. Lagian kepala aku pusing banget, kalo ditambah pake helm makin pusing jadinya.”
“Kalo ada polisi gimana?”
“Kita lewat jalan yang lain aja. Yang gak ada polisi.”
“Oke.” Franda kemudian menyalakan mesin dan mengenakan helm. Ragu-ragu aku duduk di belakangnya. Aku masih gengsi jika harus dibonceng anak perempuan. Tapi apa boleh buat, aku memang terlalu pusing untuk mengendarai sendiri. Dan lagi, siapa juga yang nanti akan peduli aku dibonceng siapa. Dari dulu, kan, tidak pernah ada yang menaruh perhatian padaku.
“Hei, malah bengong. Ayo cepet naik.”
Aku mengerjap. Mengangguk. Kemudian duduk di belakang Franda yang kemudian melajukan motor dengan kecepatan sedang.
***
Setelah membuka pintu dan menyuruh Franda masuk, kakiku otomatis melangkah ke arah sofa. Melesakkan badanku di atasnya. Demi Tuhan, badanku terasa lemas dan gemetar. Franda masih berdiri di depan pintu – seperti enggan melangkah masuk. Dengan isyarat, aku menyuruhnya masuk lagi. Ia pun melangkah perlahan.
“Duduk, Fran,” kataku pelan. Tiba-tiba napasku terasa sesak.
Franda terlihat melihat-lihat isi rumah. “Sepi. Pada ke mana?”
“Papa sama Mama jarang pulang. Mungkin udah dua bulan lebih mereka gak ada di rumah.”
“Ke mana?”
“Papa sibuk meeting. Ngurusin hotel dan omset.”
“Mama kamu?”
“Cuma ibu-ibu sosialita yang lebih peduli dengan tas kulit buaya ratusan juta dari pada anaknya sendiri.” Aku tertawa miris di akhir kalimatku.
“Sabar, ya,” katanya sambil menepuk-nepuk pundakku. Aku tersenyum tipis. Apa selama ini aku sudah sabar? Kalau tidak sabar aku pasti sudah membakar rumah ini dari dulu.
“Dapurnya di mana? Biar aku ambilin minum, ya.”
Aku menautkan alis.
“Maaf, ya. Bukan mau gak sopan. Tapi, aku lihat kayaknya kamu butuh minum lagi.”
Aku tersenyum tipis. “Nyantai aja. Anggap aja rumah sendiri.” Aku menunju ke arah kiri ruangan. “Jalan aja ke situ, pas mentok tembok, belok ke kanan.” Franda manggut-manggut, kemudian melenggang ke dapur.
Entah karena sosok Franda yang memang semakin menjauh dari mataku, kurasa sosoknya semakin mengabur di mataku. Semakin lama semakin kabur, seakan diberi efek blur.

“Astaga! Aldin!” pekik Franda ketika melihatku menggigil di atas sofa. Ia cepat-cepat meletakkan gelas di atas meja kemudian menghampiriku dengan panik. Punggung tangannya ditempelkan di keningku. Lalu ia memekik lagi. “Al, badan kamu panas banget,” serunya. “Ya ampun.” Ia masih terlihat panik. Berbeda sekali denganku yang sudah terbiasa menghadapi situasi seperti ini.
“Aku harus ngapain, Al?” Franda mengambil gelas dan membantuku minum. “Minum dulu, minum dulu.”
Hanya beberapa teguk. Kemudian aku kembali berbaring. Aku merasa badanku panas dan dingin secara bersamaan. Keringat mengucur – terutama di pelipis. Aku meringkuk dan semakin merapatkan jaket.
“Kamu butuh selimut, Al.”
“Ada di kamar aku. Di atas.”
Ia terlihat ragu, namun melihat keadaanku yang semakin payah, ia pun melesat mengambil selimut.
Aku terus memejamkan mata. Menahan rasa pening dan nyeri yang terus berdenyut di sekitar perut. Franda merogoh saku jaketku – mengambil ponsel.
“Mau ngapain?” lirihku.
“Telepon Mama kamu lah.”
“Percuma. Walaupun dikasih tau, Mama gak akan datang, kalo gak salah dia lagi di Lombok.”
“Papa kamu?”
“Pasti HPnya dimatiin, meeting.”
Franda terlihat kesal. “Ya siapa ajaaa. Keluarga kamu. Kakak kamu? Kamu punya Kakak, kan?”
Aku merebut ponsel dari genggaman Franda. “Udah gak usah repot-repot. Aku cuma perlu tidur.”
Franda bergeming. Tak melawan lagi. Juga tak lagi bicara akan menghubungi keluargaku. Aku meringis. Perutku sakit sekali. Badanku menggigil. Franda merapatkan selimutku. Kemudian ia mengompresku. Pertama kali ada seseorang yang menemaniku saat aku didera kesakitan. Dan sayangnya itu bukan Mama atau Papa. Hanya orang yang baru sebentar kukenal.
Kurasakan suhu tubuhku semakin memanas. Ada air yang tiba-tiba mengalir perlahan dari sudut mata. Tuhan, dari pada terus menderita seperti ini tanpa ada yang peduli, kenapa tak kau ambil saja aku?
Satu sentuhan kurasakan di pelipis. Mengusap air mataku. Kubuka mata perlahan. Franda menangis. Kenapa ia menangis?
“Pinjam HP kamu, yah. Siapa tahu Papa kamu udah selesai meeting.”
Aku menggeleng. Papa meeting di luar pulau. Jauh.
“Kamu kenapa kayak gini, Al?”
“Kamu kenapa mau nemenin aku?” lirihku. “Aku kan, anak aneh.”
Franda menggeleng cepat. “Kamu gak aneh.”
“Tapi teman-teman bilang gitu.”
“Mungkin mereka aja yang aneh.”
Aku mengalihkan pandangan. Menatap langit-langit rumah. “Dari kecil aku gak punya temen. Di rumah juga gak ada siapa-siapa. Pas punya temen, merekanya bedebah.” Aku berhenti untuk mengatur napas. “Jadi lebih baik aku sendiri aja.”
Air mata Franda menetes lagi.
“Kamu gak pernah sendiri, Al,” kata Franda sambil terisak.
“Kalimat klise yang sering aku dengar. ‘You are not alone, we are here for you.’. Omong kosong.” Aku meringis lagi ketika perutku berdenyut.
“Tapi itu kenyataannya. Kita emang gak pernah sendiri. Mungkin kamu ngerasa kamu selalu sendiri. Tapi, tahu gak, bahwa kesendirian itu dibangun dengan kebersamaan. Sel-sel di tubuh kamu, mereka rame-rame membentuk sebuah jaringan. Lalu organ, sistem organ, dan jadilah kamu. Walaupun kamu sendiri, tapi kamu terbentuk dari sebuah kebersamaan.
“Dan sekarang ada Anggi, ada aku. Tapi kamu masih ngerasa sendiri. Sebenarnya apa arti ‘sendiri’ dan arti ‘bersama’ menurut kamu?”
Seperti ada sesuatu yang berat menindih dadaku. Membuatku kesulitan bernapas. Apa arti ‘sendiri’ dan ‘bersama’?
“Kamu gak akan lewatin semuanya sendirian lagi, Aldin. Jadi aku mohon, jangan larang aku untuk bantu kamu.”
Aku pun menyerahkan ponselku. Franda mulai mengetik sesuatu. Setelah beberapa saat tidak ada balasan, ia menyambungkan ke satu nomor. Lalu mendekatkan ponsel ke telingaku.
“Ngomong sama Papa kamu,” katanya pelan.
“Halo?” ada suara di seberang sana. Papa angkat teleponku? Ini keajaiban!
“H-halo, Pa. Papa di mana?”
“Masih di Batam. Ada apa?” suaranya terdengar tergesa. Lalu samar kudengar ia berbincang lagi dengan orang lain.
“Papa... bisa pulang gak? Al sakit, Pa.”
“H-halo... Al, ada apa? Signalnya jelek.”
Kemudian hening. Sambungan terputus.
Aku terseyum miris. Lihat, kan? Memang tidak pernah peduli.
Kondisiku semakin payah.
“Aku buatin dulu bubur, ya. Biar kamu bisa minum obat,” tawar Franda. Aku tak menyahut. Franda pergi ke dapur. Aku membalikkan badan menghadap sofa. Kemudian membenamkan wajahku. Air mata merembes di sofa. Semakin lama noda basahnya semakin besar.
Ada nada dering SMS terdengar. Tanpa memalingkan wajah dari sofa, kuraih ponsel di atas meja. Mataku menyipit menyesuaikan cahaya yang masuk.
“Papa barusan transfer uang. Bisa ke dokter sendiri, kan? Papa masih ada meeting sampai besok.”
Kujatuhkan ponsel ke karpet. Lalu membenamkan wajah ke sofa lagi.
***
Beberapa saat kudengar Franda menyuruhku bangun untuk makan. Aku tak merespon. Aku berusaha tak terisak tapi ini tak bisa kutahan lagi. Aku berteriak – dengan masih membenamkan wajahku di bantal. Suaraku tertelan ribuan kapuk. Berteriak lagi. Lagi. Sampai membuat Franda ketakutan. Ia mencoba membalikkan badanku dan menenangkanku.
Franda melihat ponselku tergeletak kemudian mengambilnya. Membaca pesan yang masih tertampil di layar. Ia mendekatiku. Matanya berkaca-kaca. Seperti ingin mengatakan sesuatu tapi takut.
“Mending aku mati aja. Orang tua aku udah gak peduli.”
Franda menggeleng. “Ayo kita ke dokter, Al.”
Giliran aku yang menggeleng.
“Papa kamu udah kasih uang buat ke dokter.”
“Aku gak butuh uang Papa! Gak ada yang ngerti kalau aku gak butuh uang Papa! Gak butuh!” teriakku. Tercekat.
Franda mendekat lagi. Ragu-ragu ia meraih bahuku.
“Kamu jangan pikir bahwa kamu orang yang paling menderita di dunia ini, Al. Kamu lupa aku juga sama kayak kamu. Bahkan aku udah gak bisa ketemu orang tua aku. Siapa yang lebih ‘sendiri’?”
Franda terisak. Air mata juga masih mengalir di pipiku. Aku menyadari sesuatu. Hidup kami berdua sangat mengkhawatirkan. Dan apakah ini yang disebut saling melengkapi? Satu orang kesepian dan satu orang kesepian berteman.
Aku menunduk.
Semua yang terjadi dalam hidupku memang pelik. Sampai aku berpikir bahwa tak ada yang menyayangiku – bahkan Tuhan sekali pun.
Rentetan kenyataan pahit dan kejadian buruk yang seringkali membuatku putus asa dan meninggalkan dunia.
“Papa kamu peduli, Al. Buktinya ia kasih uang buat ke dokter. Mungkin besok Papa kamu pulang.”
Sebenarnya tak akan semudah itu Papa pulang dan tiba-tiba peduli padaku. Tak akan semudah itu Mama melupakan stuff mahalnya dan tinggal di rumah untuk mengurusku.
“Tuhan sudah memberimu waktu sampai saat ini, Al. Apa kamu gak mau memberi waktu orang tuamu untuk menyesuaikan keadaan? Semua orang bisa berubah.”
Aku bergeming lagi. Sudah cukup lama aku berharap seperti itu. Berharap sikap manis Mama dan Papa ketika aku masih berumur empat tahun akan kembali. Kenapa semua kebaikan itu berubah dan berganti dengan ketidakpedulian?
Harus berapa lama lagi aku memberi waktu untuk mereka berubah. Kembali peduli padaku seperti saat aku baru lahir.
Harus berapa lama lagi aku merasakan kesendirian?
Dering SMS membuyarkan lamunanku.
“Besok Mama ke Bali dulu. Papa udah kasih uang buat ke dokter, kan?”
Aku mendesah. Kuserahkan ponsel pada Franda kemudian menutup seluruh tubuhku dengan selimut.
Oke, Ma, Pa. Aku akan tunggu. Seberapa lama pun itu. Sampai kalian kirim pesan berisi kekhawatiran padaku. Sampai kalian kirim kabar bahwa sebentar lagi akan sampai rumah dan akan buatkan aku sup hangat.
Kuharap tak terlalu lama sampai terjadi seperti itu.
***
“When you are alone, God just give you time to remind everything you’ve done. God just let you remember Him who always forgotten by you.”

Rumah, 1-1-2015
Kia Izaki

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.