It’s Okay, I’m Alright

Setelah memarkir motor di halaman rumah Alia, aku segera berlari ke dekat garasi yang diteduhi kanopi. Membuka jas hujan. Lalu dia membuka pintu dan tergopoh memayungiku.

“Duh, maaf, ya, jadi ngerepotin kamu hujan-hujan gini,” katanya.

“Gak apa-apa,” jawabku.

Setelah membereskan jas hujan, Alia mengajakku masuk. Ruang tamu sudah dipenuhi balon yang berserakan di lantai. Juga beberapa pita dan gunting. Seorang gadis kecil, adiknya, memeluk lutut di pojok ruangan.

“Dekorasi belum dipasang karena tukang dekornya kejebak banjir katanya. Mau pasang sendiri aku gak bisa naik tangganya. Papa malah mendadak ada janji sama bosnya. Alhasil sang putri pundung, tuh,” jelas Alia panjang lebar sambil memonyongkan mulut ke arah adiknya.

Aku tertawa. Menghampiri gadis kecil yang masih membenamkan wajah di kedua tangannya yang dilipat.

“Hei, Tuan Putri tenang aja, ya. Kan ada Kakak,” ujarku sambil menepuk dada. “Gini-gini Kakak juga mantan tukang dekor.”

Perlahan, gadis kecil itu mengangkat kepalanya. Matanya masih berkaca-kaca.

“Beneran, Kakak mau pasang balonnya?”

Aku mengangguk semangat. “Apa pun buat kamu, Tuan Putri.”

Gadis kecil itu kemudian melengkungkan senyuman dan berjingkrak. “Asyikkk! Aku jadi ulang tahun.”

Aku pun — bersama Alia dan adiknya — mendekorasi ruangan. Aku naik tangga untuk mencapai langit-langit dan memasang balon, pita, dan hiasan lainnya.

Tak memakan waktu lama, semuanya selesai. Hanya saja, hujan malah bertambah lebat disertai petir yang menyambar-nyambar. Adik Alia memasang wajah sedih lagi.

“Teman aku gak akan datang, kayaknya.”

“Duh, gimana ini, Res?”

“Tenang aja. Kita rayain bertiga, ya?” kataku. “Gak apa-apa, kan?”

“Gak rame, dong, Kak.”

“Rame lah sama Kakak mah. Kakak bisa nyanyi, bisa sulap, bisa jadi badut.”

Akhirnya, kucoba menghibur adik Alia dengan bernyanyi-nyanyi — dan mereka mengikuti, lalu melakukan sulap sederhana yang kupelajari dari pamanku sambil ‘mendekor' wajahku demgan spidol agar kelihatan seperti badut. Adiknya senang. Begitupun Alia.

Syukurlah.

Sementara adik Alia menikmati kue ulang tahunnya, aku dan Alia mengobrol sambil menatap ke luar jendela.

Di luar masih hujan. Aku pun mulai merasa ada angin dingin yang menusuk kulitku. Kumasukkan tangan ke saku jaket sambil bergidik.

“Makasih, ya, Res. Udah bantuin aku.”

“Santai aja. Kubilang, kan. Apa pun buat kamu.”

Kamu memasukkan tanganmu ke saku jaketku. Spontan, kugenggam jemari yang terasa hangat itu.

“Kamu emang teman yang paling baik,”

Teman.

Kata itu lagi. Kata yang membuat hatiku selalu dipenuhi perasaan tak keruan.

Iya, hanya ‘teman’. Aku tahu itu.

Sambil menahan segala perasaan di dada, aku terus menggenggam tanganmu di dalam saku jaketku. Bagusnya kamu tidak menolak.

Kami terdiam sampai aku buka suara. “Eh, Al. Aku mau ngomong…”

Tiba-tiba, kamu melepaskan tanganmu dan berlari ke arah pintu. Membukanya dan menyambut seseorang.

“Maaf aku telat. Nunggu hujan kecil dulu.”

Lalu mereka menghampiri adik Alia dan mengobrol sambil tertawa.

Hujan mulai mereda.

Kini hatiku yang gerimis.


#kataketiga #jaket #onedayonestory #5mei2017 #0.00

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.