The Panti.co

Problem yang kami temukan:

1. Donasi yang tidak merata Panti asuhan A tidak ada masalah dengan pendanaan. Hampir setiap bulan panti ini mendapatkan donatur rutin yang jumlahnya tidak sedikit, bahkan seringkali mereka ‘mengendapkan’ dana bantuan di saldo rekening mereka.

Ironisnya, Disisi lain, Panti asuhan B masih sangat kekurangan donasi. Panti B dengan pontang panting berusaha mencari bantuan dana kesana kemari, bisa jadi dalam waktu dekat panti B dalam kondisi kolap.

Dengan berbagai macam alasan, kami masih seringkali menjumpai adanya ketimpangan dan tidak meratanya distribusi donasi ke masing masing panti.

2. Kurangnya Visibility Pada sebagian besar panti, khususnya panti kecil yang baru saja berdiri, pengalaman marketing dari para pengelola masih sangat rendah. Mereka masih bertahan hidup dengan cara konvesional, door to door, mengandalkan skill otodidak untuk penggalangan dana. Sebagain besar dana operasional masih ditanggung oleh kantong cekak pengelola panti.

Padahal dengan kemajuan teknologi, sebuah marketing plan bisa di eksekusi dengan biaya yang jauh lebih murah dan efektif.

3. Kurangnya Bussiness Plan Sebagian besar panti didirikan dengan semangat sosial untuk menaungi hajat hidup para anak yatim. Hal yang mulia, namun seringkali mereka melupakan apa yang disebut perencaan Bussiness Plan. Bukan tidak lazim untuk bekerja dengan Doa, niat mulai dan jiwa sosial, namun dengan penambahan perencanaan jangan pendek, menengah dan jangka panjang pastinya akan lebih menjamin eksistensi panti kemudian hari.

Sebagai contoh (point no 1) Panti C, tiba tiba mendapatkan hibah dengan nilai ratusan juta dari sebuah perusahaan. Karena tidak ada nya bisnis mapping yang jelas, dana ini akhirnya di alirkan ke hal hal yang sifatnya non-produktif, seperti membuat tempat parkir dkk.

Semestinya dana bisa dikonversi menjadi program program yang lebih produktif.

4. Jenis bantuan Sudah menjadi tradisi dan mindset umum, bahwa menyumbang panti asuhan adalah dengan uang cash dan 100 NASI BUNGKUS/KOTAK.

Berdasarkan pengalaman, kami sering melihat, sebuah panti dengan hanya jumlah 50 orang, mendapatkan 300 nasi bungkus dalam sehari, khususnya di bulan ramadlhn. Bagaimana mungkin ratusan nasi bungkus dihabiskan dalam satu hari sekaligus !

5. Kurangnya SDM dan SKILL Pengelola Jangan anda pikir membuat panti itu hal yang mudah, dengan ikhlas saja ternyata tidak bisa menghalangi masalah masalah(cobaan) di dalam panti itu sendiri

- Pengalaman, sebuah anak dari panti asuhan terlibat dengan dalam kasus pidana, pencurian. Pihak pengelola harus berurusan dengan pihak kepolisian. Banyak lagi masalah yang harus dihadapi oleh pengelola, mulai dari sosilisasi ke lingkungan sekitar, tuntutan hak asuk dll.

- Pengalaman, pengelola panti harus rela melepaskan anak asuhnya ke ‘jalanan’, gara gara si anak ngotot minta melanjutkan ke sekolah SMA favorit. Secara akademik si anak mampu, tapi karena kurangnya networking si pengelola dalam menggaet program2 beasiswa, anak dengan kemampuan akademik tinggi harus di lepas ke ‘jalanan’.

- Kurangnya program2 yang produktif dan bimbingan untuk masa depan sang anak. Pelatihan pelatihan akademik yang intensif, pelatihan IT, kursus bahasa, pelatihan kewirausahawan sejak dini

…dan masih banyak problem2 turuan lainya.

Bagaimana panti.co mencoba merangkai sebuah solusi 1. Awalnya, kami mengkonsep panti.co sebagai sebuah platform crowdfunding / penggalangan dana untuk panti. Ekpektasi kami para inisiator, bahwa panti akan menjadi platform ‘pencari donatur’ KHUSUS untuk membiayai program2 panti. Kami berencana untuk mengadospi konsep dan bisnis model dari existing platform yang sudah ada, seperti kitabisa, wujudkan, gandengtangan dll.

- Ditengah proses validasi, kami menemukan beberapa kekurangan. Jika kami memakai konsep 100% fundraising maka kami belum bisa memberikan solusi sepenuhnya pada masalah2 yang kami temukan dilapangan. Diantaranya

- Bantuan harus berupa sumbangan finansial (baca: uang) — Dengan berbagai macam alasan, kami sering melihat banyak sekali campaign penggalangan dana panti yang berakhir dengan 0 rupiah — Banyaknya campaign penggalangan dana panti yang sifanya KONSUMTIF — Beberapa ‘MISSION INCOMPLETED’, dana yang dibutuhkan 10jt, dana terkumpul hanya 500ribu. Akhirnya ‘dana tanggung’ ini lari ke hal lainya.

- MISSION COMPLETED but PROJECT FAILED, banyak penggalanggan dana yang berhasil mengumpulkan dana 100% terkumpul, tapi di prakteknya, di tengah jalan project yang direncakan jauh dari pelaksanaan awal.

2. Lalu, Kami tahu diri, dengan team dan sumber daya yang minim kami mencoba melepas idealis kami.

Kami tidak mau mempertaruhkan ‘waktu tunggu’ adik adik kami di panti (vs) keberhasilan konsep yang kami canangkan.

Pivot kami, Alih alih membuat persaingan baru dan berebut donatur dengan platform crowdfunding pendahulu yang jauh lebih besar dari sisi pendanaan, tim dan pengalaman, Kami mencoba berpikir anti-mainstream.

Mengapa kami tidak bersinergi denggan mereka. Kami memanfaatkan popularitas mereka, fitur mereka, eksistensi mereka.

Yang akan kami lakukan justru akan terjun ke panti panti, baik secara fisik maupun dengan media digital, untuk memberikan pehamaman mereka cara menggalang dana melalui dunia maya,

- bagaimana membuat story telling yang baik dan benar — Bagaimana me’marketingkan’ sebuah campaign penggalangan dana — Bagaimana membuat campaign menjadi viral dan visible di dunia maya

Kami mendowngrade fitur crowdfunding yang awalnya menjadi killer feature. Kami biarkan feature ini dihandle oleh existing platform, kami fokus mengajarkan para pengelola panti untuk memaksimalkan penggalangan dana melalui puluhan platform crowdfunding sekaligus.

Dengan demikian satu tujuan utama kami akan tercapai, cara kerja lebih efisien dan efektif. Dana yang terkumpul menjadi maksimal, selesai sudah tugas panti.co dalam menyelesaikan problem re-marketing dan retargeting bagi pengelola panti.

3. Lalu, seperti apa misi panti.co ke depan Kami belum menemukan istilah yang tepat untuk visi misi panti, namun secara cocokologinya, panti.co bisa disebut juga ‘Social Enterprise Inkubator’ for panti asuhan & yatim piatu.

Dalam bahasa yang lebih sopan, kami tidak mencari bantuan untuk mencarikan makan anak yatim di panti setiap hari. Namun dibalik itu, kami bercita-cita membuat panti lebih mandiri dalam segala hal, dalam pengelolaan, dalam penggalangan dana, dalam membuat program produktif.

Ini tidak mudah tanpa bantuanmu kawan…

Hari ini kami tuliskan impian kami disini, semoga ‘mimpi’ ini menjadi kenyataan — Suatu hari kami bermpimpi semua panti di Indonesia mempunyai kemandirian dalam penggalangan dana, mereka mempunyai Mini Market sendiri, mereka mempunyai Rumah Makan Padang sendiri, sehingga tidak perlu mengiba bantuan dari donatur soal makan pagi para anak yatim.

- Suatu hari kami bermimpi, semua panti akan memiliki lembaga pelatihan sendiri, lembaga pelatihan bisnis, pelatihan IT, pelatihan wirausaha, sehingga tidak hanya mampu menyiapkan anak panti menjadi SDM yang powerfull, bahkan bisa bermanfaat ke lingkungan sekitar panti

- Suatu hari kami bermpimpi, bukan kami lagi yang akan membantu kalian, kalian yang akan saling membantu disini. Panti A yang membantu Panti B, Panti C yang merekrut staff dari Panti D, panti D yang memberikan bantuan konsumsi ke panti E lewat rumah makan Padang nya dan seterusnya

- Saat ini kami mulai dengan hal yang terkecil, kami sedang ‘menginkubasi’ sebuah panti asuhan sebagai pilot project kami

Dan begitulah kami mencita citakan Panti.co, kami sadar ini tugas yang berat, namun kami akan berusaha di sela kesibukan, keengganan, kemaluan dan keterbatasan kami.

Salam Sukses The Panti.co Volunteers