
Mengenang Sebuah Apologi
By Muhammad Jamil Ramadhan
Bukan tanpa alasan mengapa sejak kecil sampai kita mulai beranjak dewasa kita mulai berfikir kenapa kita harus di lahirkan kemudian kenapa kita harus mulai belajar mengenal, belajar bicara, merangkak, berjalan, menjadi anak, remaja dan sampai kita mulai mempunyai pola pikir. Kita melalui banyak metafor dalam kehidupan. Namun hal yang secara kasat mata normatif ini tidak menuai jalan buntu selalu saja diterima secara lumrah sebagai sebuah kejadian yang realistis.
Dari kerealistisan ini mari kita mulai menghela napas lebih dari sekedar inspirasi dan ekspirasi, menyelam lebih dari sekedar meratapi dasar samudera, mari Membaca melebihi dari makna, membuka buah salak untuk melihat isi di balik biji. Bahwa ada sebuah prinsip lain dari dunia ini yang melewati batas norma, kita mungkin bisa menebak ketika kita melihat orang yang pandai berbicara tentang Manusia adalah orang yang selalu mencari tahu tentang Kemanusiaan namun kita boleh sedikit bertanya apa beliau mengenal Manusia ? Demikianlah dengan cerita lain sangat serupa dan dengan begitu maka Cinta Kasih Kemanusiaan akan Hilang Makna.
Ada pesan yang ingin tersampaikan dari banyak kesan peristiwa, namun kesan seringkali dipelintir untuk menghasil sebuah drama panjang. Dan kita sedang menjalani drama itu ,kita masing-masing mencari ruang adegan untuk mengerti tokoh apa yang sesuai dengan karakter kita namun pada titik bagian akhir pencarian kita mulai melupakan sirat makna. Maka untuk benar-benar mengerti tentang kehidupan yaitu ketika kita mulai menggiring perjalanan diluar garis-garis kewajaran untuk mulai mempelajari akar rumput dari sebuah konspirasi dunia.
Tuhan sangat baik menggambarkan pemetaan Tentang geografis kehidupan manusia. Sangat indah penataan tentang garis peta setiap bangsa, sehingga Indonesia menjadi tempat menetap yang sangat membahagiakan bagi 265 juta jiwa yang lahir di tanah ini. Tanah surga bagi mereka yang fanatik mengagung-agungkan. Keagungan inilah yang membuat misi bukan hanya sekedar surga namun melampaui dari pada itu. Hingga tampak huru-hara diberbagai lapisan atas ambisi keagungan itu. Kita patut berprihatin atas itu, bagaimana tidak huru-hara itu menjadikan ruang hening nan sendu ini menjadi bising. Bising atas pelanggaran, bising akan pertikaian, pemfitnahan, saling menjatuhkan hingga bahkan adu domba. Apakah ini yang di bilang surga, apakah surga ditinggali oleh penghuni-penghuni yang hipokrit. Begitu teganya tuhan memberikan izin mereka untuk tinggal di destinasi terindah dunia ini. Tapi sebelum kita durja mari sedikit kita berdistraksi.
Kita hidup di sebuah negara yang dibangun dengan pondasi dasar yang sangat amat kuat, yang merupakan perpaduan antara nilai kebangsaan yang meleburkan persatuan dan kesatuan diatas segalanya disisi lain tameng spiritualitas keagamaan menjadi roh bagi setiap manusia yang menjadi warga negara untuk patuh dan taat untuk melakukan segala hal yang bermartabat kebaikan.
Kompleksifitas indonesia seharusnya sangat mumpuni untuk menjadi negara yang bersahaja, mensejahterakan rakyat adalah tujuan atas segala perihal bernegara kita. Amandemen telah meluapkan segala kosakata yang bermakna untuk memagari kesaksian sebuah Rezim. Sekali lagi Apologi, namun bukan sepertihalnya apologi yang di lakukan oleh Sokrates saat berada di pengadilan Athena yang menhampaikan segala kebenaran pembelaan untuk selamat dari hukuman mati. Apologi yang dilakukan oleh setiap rezim adalah apologi parsial yang menjadi pusaka wasiat yang turun temurun menjadi kekuatan untuk mengelabui.
Setiap Rezim adalah Gagal itu menjadi keyakinan selama politik kebangsaan terus bergandengan dengan Apologi parsial kenegaraan. Karena praktek yang demikian dalam proses bernegara merupakan pemacu untuk membawa negara kejalan diluar dari tujuan negara itu sendiri. Karena setiap kesalahan , setiap pembodohon, setiap penindasan dan setiap peristiwa yang tidak sesuai dengan Arah cita kenegaraan akan menjadi Benar atas bungkusan Apologi parsial kenegaraan. Maka dari itu mari kita mengenang, mengenang Apologi adalah mengenang setiap dosa Rezim. Agar Kenangan tidak semerta-merta untuk diratapi namun untuk dipahami sebagai jalan untuk Revolusi.
