muhjamilramadhan
Sep 1, 2018 · 3 min read

Ujaran kebencian dan angkatan muda

By Muhammad Jamil Ramadhan

Semakin besar sebuah negara maka semakin banyak tantangan yang dihadapi sebagai negara besar. Kalimat ini sejalan dengan teori Robins tentang Culture Konflik bahwa semakin banyak orang dalam suatu kelompok maka akan semakin tinggi resiko konflik dalam kelompok itu. Ini bisa menjadi bahan berfikir kita untuk memahami sebuah konflik sesama bangsa saat ini. Namun ada pergeseran makna tentang sebuah pertikaian dewasa ini. Ada pertikaian dalam kehidupan bermasyarakat kita yang selalu terus menerus terjadi yang membuat sebagian besar dari kita sering bergeming tentang asal muasal pertikaian, ada yang berteman namun tiba-tiba bermusuhan, ada yang sudah lama menjadi kolega namun tiba-tiba tidak bertegur sapa dan ada yang baru saling mengenal dan saling berperasangka buruk. Ini sering sering terjadi namun diluar kesadaran kita, ada sebuah pemicu lain yang melebihi akal waras kita sehingga kita masing-masing bahkan tidak bisa mengendalikan diri dengan sebuah yang dianggap berlawanan dari kita.



Kita hidup di era kontemporer yang segala penyebaran informasi, penyebaran pemahaman lalu lalang dengan bebas di berbagai medium. Baik itu dari sumber yang konkrit sampai pada sumber yang tidak ada orientasi berkembangnya. Perkembangan ini sangat pesat berkeliaran di masyarakat sehingga kita lihat banyak aspek sampai seluruh elemen dari kehidupan kita di pengaruhi. Banyak terjadi pergesaran sehingga kita terkesan makar pada falsafah hidup. Banyak hakikat yang tertukar dan salah kaprah. Jadi jangan heran jika pola pikir kemasyarakatan sangat seragam namun tidak berpangkal.



Maka dari itu pola pikir seperti ini sangat mudah sekali menuai banyak perubahan dengan sedikit sentilan doktrinitas. Terlebih jika doktrinitas tersentuh ranah sensitif yang bersifat fanatisme. Ditambah lagi dengan banyak perkembangan pemahaman yang sangat tidak mempunyai perbedaan yang cukup signifikan dalam hal orientasi. Banyak hal yang belum tuntas kita filter untuk menjadikannya jernih di kepala kita. Kejernihan hanya dapat di internalisasi oleh orang2 yang mempunyai pengetahuan mumpuni di berbagai aspek. Namun pelintiran demi pelintiran membuat orang-orang berilmu hanya menjadi parasit yang tak ternilai dihadapan ambisi dan kepentingan.



yang kita hadapi saat ini bukan tentang kemunduran pengetahuan di setiap diri seseorang namun kebutuhan pengetahuan diri yang dimiliki lebih cenderung berubah haluan dari kebutuhan untuk kepentingan yang universal menjadi suatu kebutuhan yang hanya bersifat personal. Jadi sesuatu yang lumrah jika masing-masing diri seseorang bersifat seperti demikian, memposisikan diri seakan sangat mumpuni menjadi pusat kebenaran. Ini yang membuat begitu banyak sentral kebenaran,menjadikan sentral kebenaran tentang keagamaan misalnya bukan lagi berpusat pada Ulama, bukan lagi pada pendeta, bhiksu maupun paus namun malah pada sumber yang hanya bisa di jangkau secara pergaulan, di jangkau secara simple secara penyebaran media informasi. Jangan heran jika generasi yang lahir sampai saat ini adalah generasi instan. Generasi yang menjadikan setiap tangga proses di nomor kesekian dalam proses kehidupan.



Jika kita membaca pemikiran Pramodya Ananta Toer tentang siapa yang paling dirindukan dalam hidupnya. Bukanlah keluarga, bukanlah kolega bukanlah mereka yang dekat dengannya namun pram sangat merindukan angkatan muda, generasi muda bangsa ini. Segala perjuangan pram adalah perihal tentang bagaimana generasi setelahnya mempunyai pola pikir lebih dari dirinya, rangkaian pembodohan pada setiap generasi adalah bentuk penyumpalan menurut pram. Dalam uraiannya bentuk penyumpalan yang dilakukan oleh penguasa pram menggambarkan penyumpalan ini akan menghasilkan angkatan muda yang kerdil, mengambang, banyak omongannya sedikit isinya, tahunya hanya perbuatan-perbuatan terlarang, kreativitasnya hanya melulu tentang selangkangan. Inilah yang di inginkan oleh rezim diktator, menjadikan segala hal menjadi rumit sehingga generasi menjadi manusia-manusia yang kental dengan sikap pesimisme dan keputusasaan.



Rezim diktator sangat berperan atas ketumpulan berfikir, ini mempermudah memutus tali kritisme dikalangan intelek, sehingga kegaduhan yang secara global di desain sengaja dibuat carut marut untuk kepentingan kekuasaan. Konflik sosial adalah sentilan kegaduhan untuk mendramatisir keadaan. Konflik perbedaan pendapat, adu fanatisme, sampai pada ujaran kebencian antar sesama di setiap lapisan masyarakat sangat begitu memprihatinkan. Yang lebih mengenaskan adalah pihak-pihak pemangku keadilan kerakyatan, pemangku kesejahteraan kemasyarakatan tidak bisa memposisikan diri sebagai pelerai. Kembali angkatan muda intelektual seharusnya menjadi patron untuk pelerai konflik untuk menjadikan setiap lapisan masyarakat bisa meminimalisir segala hal yang beresiko untuk terjadi perepecahan. Kita tinggalkan segala kepentingan atas nama kesatuan dan persatuan, kita buang segala hasrat perbedaan, menumbuhkan nilai kemanusiaan untuk kesejahteraan yang hakiki.

    muhjamilramadhan

    Written by

    Pejalan muda