(Berusaha) Menjadi Pusat Pangan Dunia Bersama Crowde

“Indonesia akan menjadi pusat pangan dunia.”
Serius? Apakah tak terlalu idealis? Apakah tak terlalu muluk?
Lagi pula, apa sih Crowde?

Bagi banyak orang, pemikiran tersebut (mungkin) terdengar naif. Meski begitu, saya percaya bahwa kolaborasi antara anak muda, investasi, dan agrokompleks yang disatukan dengan semangat gotong royong mampu menjadikan Indonesia sebagai pusat pangan dunia.

Tentang Pemikiran Liar Saya

Mengapa anak muda yang harus mengambil peran?

“Beri aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.”

Entah sudah berapa juta kali kita mendengar pidato Bung Karno tersebut dan tentu saja itu bukan sekadar omong kosong. Sebagai anak muda yang mempunyai energi, semangat, dan idealisme yang tinggi, kita seharusnya berperan aktif dalam kehidupan bermasyarakat. Apalagi pada tahun 2030–2040, Indonesia akan diberi peluang (dan tantangan) yang lebih besar lagi dengan adanya bonus demografi. Kalau kita sebagai anak muda hanya bisa mengutuk kebobrokan negeri ini dan bahkan pergi meninggalkannya, kepada siapa lagi ibu pertiwi harus berharap?

Mengapa tertarik dengan investasi?
Jujur saja, saya bukan seseorang yang ahli di bidang ekonomi, jadi tulisan di bagian ini hanya berdasarkan pengalaman saya. Saya hanya kebetulan sudah dicekoki untuk berinvestasi oleh ayah saya semenjak SD melalui permainan papan bernama Cashflow Game yang dibuat oleh Robert Kiyosaki. Dengan ilmu ala kadarnya, prinsip “passive income harus lebih besar daripada total expenses” menjadi pegangan hidup saya untuk tidak menjadi manusia yang terlalu konsumtif. Jadi, saya lebih memilih untuk menginvestasikan uang yang saya punya daripada berfoya-foya.

Kita bisa berinvestasi di mana saja, asal kita harus memperhatikan besar modal yang kita punya, tingkat risiko yang dihadapi, dan tingkat kepercayaan platform investasi yang kita pilih. Dengan jumlah uang yang pas-pasan, saya sudah mencoba beberapa jenis investasi yang bersahabat bagi kantong saya. Berikut ini adalah tabel perbandingan investasi yang sudah saya coba:

Ilustrasi berdasarkan pengalaman penulis

Dengan keterbatasan wawasan, awalnya saya hanya berinvestasi di reksadana semenjak SMA ketika sudah bisa menghasilkan uang sendiri dengan berjualan makanan di sekolah. Wawasan saya mulai terbuka saat memasuki dunia kampus. Saya beruntung bisa menuntut ilmu di kampus yang sangat heterogen, mulai dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Pulau Rote, serta dengan latar belakang manusia yang beraneka ragam. Saya lagi-lagi beruntung bisa bergabung dalam keluarga besar KAPA FTUI yang notabenenya adalah sebuah organisasi pencinta alam. Meski sehari-hari kami berkecimpung dengan ilmu teknik dan kepencintaalaman, bukan berarti kami membatasi topik dalam berdiskusi. Dari sinilah, saya memiliki kawan yang menggeluti bisnis udang vaname (Mina Ceria Nusantara) dan tanaman kopi di Bukit Barisan. Hal ini membuat saya baru benar-benar tersadar bahwa Indonesia adalah negara agraris dan maritim dengan kekayaan alam yang tak terhitung. Namun sayang, kita belum bisa memanfaatkan potensinya secara maksimal. Mulai saat itu, saya bertekad untuk membantu meningkatkan perekonomian negara dan kesejahteraan masyarakat dengan berinvestasi di bidang agrokompleks.

Mengapa kita harus menaruh perhatian terhadap agrokompleks?
Sebelum membahas ini lebih jauh, mari kita menyamakan persepsi mengenai agrokompleks. Menurut KBBI, agrokompleks adalah kumpulan bidang pertanian, peternakan, perikanan, perkebunan, dan kehutanan. Hal ini tentu sangat berkaitan erat dengan Indonesia sebagai negara agraris dan maritim.

“Kesalahan Indonesia saat ini adalah mencoba untuk menjadi generalis, bukan menjadi spesialis. Bayangkan kalau kita fokus sama riset agraris, Indonesia bisa menjadi pusat pangan dunia.” (Sayidul Fikri, 2017)

Mimpi untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat pangan dunia pertama kali muncul dari hasil diskusi bersama kawan saya di atas. Saya sangat sepakat dengan pendapatnya. Berhubung saya sudah telanjur untuk berkomitmen memperbaiki pengelolaan sampah di Indonesia, maka saya hanya bisa membantu secara finansial dan melakukan sosialisasi kepada orang-orang di sekitar saya.

Tidak bisa terbantahkan bahwa kesalahan fundamental yang masih menghantui hingga saat ini adalah paradigma negatif yang menganggap petani sebagai pekerjaan bagi orang miskin. Saya pun mengalami hal yang sama. Doktrin yang saya terima sejak dini adalah harus menjadi orang kantoran yang bekerja di gedung megah sambil memakai kemeja berdasi dan mengendarai mobil mewah. Bahkan orang tua saya berpikir bahwa lebih baik lagi jika saya bisa tinggal dan bekerja di luar negeri. Sepertinya hal tersebut juga terjadi di perdesaan, orang tua yang menginginkan anaknya hidup berkecukupan di kota. Saya memaklumi pandangan kebanyakan orang tua tersebut, tetapi kita harus tetap mengubah paradigma negatif itu secara bersama-sama.

Paradigma negatif tersebut secara tidak sadar menutup potensi negeri ini. Kekayaan alam yang seharusnya bisa dibudidayakan secara maksimal. Camkan baik-baik: budi daya, bukan eksploitasi. Jangan heran kalau sekarang banyak kasus impor beras, harga cabai yang mahal, dan masalah pangan lainnya. Tak ada gunanya juga jika kita hanya menyalahkan pemerintah tanpa berbuat sesuatu. Daripada hanya mengutuk kegelapan, alangkah baiknya jika kita berusaha menjadi terang. Jadi, apakah kamu mau ikut bergotong royong untuk terlibat langsung dalam memajukan pertanian, peternakan, dan perikanan Indonesia demi kesejahteraan kita bersama?

Tentang Crowde

Mengapa saya memilih untuk menulis tentang Crowde?
Saya tak bisa memberikan pendapat apabila saya belum terlibat langsung dalam hal tersebut. Bagi saya, Crowde bukan sekadar platform investasi, tetapi juga sahabat yang memiliki visi yang sama dengan saya. Beberapa hal di bawah ini adalah alasan mengapa saya menulis tentang Crowde:

  1. Saya sudah bekerja sama dengan Crowde selama tepat satu tahun. Sejak bergabung dengan Crowde pada bulan Agustus 2017, saya sudah berinvestasi di 96 proyek Crowde dengan rincian 48 proyek mendapatkan keuntungan, 2 proyek mengalami kerugian, 1 proyek tanpa profit, dan 45 proyek masih berjalan.
  2. Dalam satu tahun, saya sudah berinteraksi langsung dengan tim Crowde sebanyak dua kali. Acara pertama yang saya ikuti adalah diskusi bersama tim Crowde membahas pandangan anak muda terhadap investasi milenial di Kolega Coworking Space Senopati pada bulan Desember 2017. Delapan bulan berselang, saya mengikuti acara agrowisata di Pangalengan dan bertemu langsung dengan para petani yang menjadi mitra Crowde. Berinteraksi langsung dengan tim Crowde dan mitra petaninya benar-benar menumbuhkan kepercayaan saya kepada Crowde. Mimpi, semangat, antusiasme, dan harapan mereka sukses melecut saya untuk berinvestasi lebih besar lagi.
  3. Saya amat suka dengan konsep #SalamBantuPetani. Sepertinya kurang etis jika kita hanya memperkaya diri sendiri, padahal ada opsi untuk berinvestasi sambil membantu mereka yang membutuhkan. Selama ini, investasi yang kita lakukan kebanyakan berputar di perusahaan besar, sebut saja produk perbankan, saham, atau cryptocurrency. Dengan adanya Crowde, uang kita bisa ikut mengalir ke dalam kantung-kantung masyarakat menengah ke bawah dan meningkatkan kesejahteraan mereka.
  4. Crowde sudah terdaftar dan diawasi langsung oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Hal ini tentu sudah menjadi bukti kuat bahwa Crowde bukanlah platform investasi bodong. Jadi, tak ada alasan lagi untuk tidak percaya dengan Crowde, kan?

Apa kekurangan yang harus diperbaiki Crowde?
Manusia yang sudah hidup berpuluh-puluh tahun saja tak bisa luput dari kekurangan dan kesalahan, apalagi Crowde sebuah perusahaan rintisan (startup company) yang baru berusia 3 tahun. Jadi menurut saya, sudah sewajarnya Crowde memiliki kekurangan-kekurangan yang harus dibenahi. Saya suka heran dengan netizen yang tidak sabar, hanya berorientasi pada keuntungan, lalu menghujani media sosial Crowde dengan komentar-komentar yang kurang pantas. Padahal, kritik dan saran bisa dilakukan secara personal. Jangan samakan perusahaan rintisan dengan perusahaan besar yang memiliki banyak sumber daya manusia sehingga bisa menanggapi keluhan kalian secara instan.

Bukannya bermaksud membela Crowde, tetapi sebagai manusia sebaiknya kita menghargai sebuah proses. Saya percaya Crowde akan terus berusaha memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada. (Eh, kok saya malah mengomentari netizen yang nyinyir. Mari kembali ke topik awal). Jadi, ini beberapa kekurangan Crowde yang harus dibenahi:

  1. Beberapa proyek Crowde mengalami keterlambatan dan tidak ada informasi lebih lanjut mengenai kejelasannya. Transparansi sudah menjadi harga mati di era sekarang. Kurangnya transparansi akan menyulitkan kita semua dalam mendapatkan kepercayaan. Tetapi dalam kasus ini, akar masalahnya bukanlah transparansi, melainkan kurangnya komunikasi antara tim Crowde dan petani. Kerugian dan keterlambatan dalam usaha yang melibatkan faktor alam adalah sebuah hal lumrah. Tak ada jenis investasi di bidang agrokompleks yang menjanjikan tanpa risiko. Masalahnya adalah ada petani yang pernah berurusan dengan rentenir dan mengalami trauma tersendiri. Ketika proyek tersebut mengalami keterlambatan, petani tersebut malah menjadi sulit untuk dihubungi oleh tim Crowde sehingga tim Crowde juga kesulitan dalam memberikan laporan kepada investor. Padahal, tim Crowde sudah berusaha sehalus mungkin dalam menggandeng para petani agar mereka tidak merasa seperti diteror oleh rentenir. Kejadian traumatis memang sulit disembuhkan, tetapi saya yakin dengan ketulusan tim Crowde dalam membantu petani akan mampu menghilangkan trauma tersebut sehingga komunikasi dapat berjalan dengan lancar.
  2. Penyampaian analisis risiko tiap proyek di dalam situs web belum dijelaskan dengan detail oleh tim Crowde. Salah satu platform investasi yang memiliki analisis risiko yang detail adalah Growpal. Memang tak mudah melakukan perubahan secara cepat, namun saya yakin Crowde akan terus berbenah demi kemajuan pertanian Indonesia.
Analisis Risiko oleh Growpal

Apa kata petani dengan adanya Crowde?
Saya beruntung memiliki kesempatan untuk bertemu dengan para petani. Pada tanggal 17 Agustus 2018, saya berinteraksi langsung dengan Paguyuban Petani Wangun Harja yang dikepalai oleh Kang Ipit di Desa Warnasari, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. Kegiatan bersama ini diawali dengan upacara, tur ladang, praktik bertani, makan bersama, diskusi, dan ditutup dengan pameran hasil tani yang baru dipanen. Cerita lengkap mengenai kegiatan agrowisata akan saya jelaskan satu-satu.

Awal Mula Bertani
Sebelum bertani, Kang Ipit bekerja di perusahaan minuman saset ternama. Gempa bumi yang melanda Jawa Barat pada tahun 2009 turut menghancurkan wilayah Pangalengan, termasuk rumah Kang Ipit. Sejak saat itu, Kang Ipit tidak bisa lagi meninggalkan keluarganya yang mengalami trauma akibat gempa tersebut. Atas saran yang diberikan oleh ayahnya, Kang Ipit akhirnya memulai pekerjaan sebagai petani mulai dari nol, tanpa modal dan tanpa keahlian.

Benih tanaman diperoleh dari perusahaan benih yang sedang memberikan sampel benihnya untuk diuji. Jumlahnya pun tak banyak, hanya sekian ratus benih. Setiap hari Kang Ipit harus mengangkut dan mengeringkan kotoran sapi milik tetangganya untuk dijadikan pupuk. Bagaimana jika tanamannya terserang hama dan penyakit? Kang Ipit hanya bisa berharap tanamannya tak terserang penyakit karena tak ada uang untuk membeli obatnya. Keahlian bertani dipelajari secara autodidak dengan bertanya kepada sesama rekan petani dan mengikuti pelatihan yang diadakan oleh pemerintah. Dengan tekad yang begitu kuat, Kang Ipit berhasil mendapatkan keuntungan 22 juta rupiah pada panen pertamanya. Hal ini membuat Kang Ipit semakin yakin bahwa ia bisa hidup sejahtera dengan bertani.

Bertani Sebelum Bertemu Crowde
Masalah utama dari setiap petani adalah permodalan. Tak mudah mendapatkan modal untuk menjalankan sebuah proyek pertanian. Bank enggan memberikan pinjaman kepada petani yang tidak punya apa-apa untuk dijadikan jaminan. Ujung-ujungnya, banyak petani yang terjebak di dalam lingkaran setan yaitu bandar sekaligus rentenir dan tengkulak. Modal didapatkan dari bandar. Benih, pupuk, pestisida, dan obat harus dibeli dari bandar tersebut. Jika sudah panen, hasil tani tersebut juga harus dijual ke orang yang sama. Hitung-hitungan yang tidak transparan membuat para petani dibodohi. Mendapatkan keuntungan yang sangat kecil saja sudah menjadi sebuah keajaiban, tidak sedikit petani yang terlilit utang tak berkesudahan.

Keuntungan Petani Bersama Crowde
Salah satu peran penting yang dijalankan oleh Crowde adalah menciptakan ekosistem pertanian yang efisien dari hulu hingga ke hilir. Ini bukan sekadar isapan jempol belaka. Para petani sangat antusias dalam menceritakan keuntungannya ketika bergabung dengan Crowde. Keuntungan yang dirasakan langsung oleh para petani Paguyuban Wangun Harja antara lain:

  1. Crowde membantu para petani dalam membuat rancangan anggaran biaya (RAB) yang dibutuhkan dalam satu proyek. Rancangan anggaran biaya sudah memperhitungkan biaya benih, pupuk, obat, pestisida, tenaga kerja, sewa lahan, dan perlengkapan lainnya. Para petani mengakui bahwa kesulitan modal menyebabkan petani tak bisa berbuat apa-apa ketika hama dan penyakit menyerang. Hal tersebut membuat petani sering gagal panen. Dengan adanya Crowde, petani tidak perlu lagi takut dengan ancaman hama dan penyakit. Biaya obat dan pestisida yang sudah dianggarkan membuat petani bisa menangani hal tersebut dan tak ada lagi cerita gagal panen akibat hama dan penyakit.
  2. Setiap petani yang ingin bergabung dalam proyek Crowde harus diberikan pelatihan selama kurang lebih dua bulan. Hal ini untuk menyamakan wawasan dan persepsi dalam bertani. Tak hanya di awal, tim teknis Crowde juga senantiasa mendampingi petani apabila terjadi masalah. Petani bisa berkonsultasi dengan tim Crowde melalui media sosial dengan mudahnya.
  3. Crowde juga membantu para petani untuk mencari tempat penjualan hasil panen yang ideal. Tak ada lagi petani yang menjual hasil taninya ke tengkulak dengan harga yang tak sesuai pasar. Petani pun bisa menikmati hasil jerih payahnya tanpa takut ditipu.

Pertama kali, Kang Ipit menggarap lahan sebesar 200 meter persegi. Bersama Crowde, sekarang Kang Ipit sudah menjadi koordinator untuk 23 petani di desa tersebut dan menggarap lahan seluas 170.000 meter persegi. Dengan total produksi hasil tani sebanyak 17–20 ton per bulan, Paguyuban Wangun Harja sudah menekan kontrak dengan Lotte Mart untuk menyuplai cabai di daerah Jabodetabek dengan omzet 300 juta rupiah per bulan. Kualitas cabai yang dihasilkan ternyata memuaskan pihak Lotte Mart sehingga paguyuban diminta untuk menyuplai daerah Sumatra. Tak hanya itu, kualitas cabai tersebut juga masuk kriteria pasar Asia.

Meski begitu, peningkatan produksi tidak bisa dilakukan secara terburu-buru. Seperti yang saya bilang sebelumnya, kita sebagai manusia harus menghargai proses. Tak mudah mengajari dan membimbing petani, apalagi petani yang sudah berumur. Salah satu tantangan terbesar Crowde adalah mengajarkan petani untuk melek teknologi dan literasi finansial. Rekening bank saja belum banyak yang punya, pasti terbayang betapa sulitnya mengajarkan para petani untuk bertransaksi secara nontunai. Sedangkan di zaman sekarang, transaksi nontunai adalah transaksi yang aman dan praktis. Tidak apa-apa, ini tantangan kita bersama untuk menyelesaikan benang kusut ini satu per satu.

Kang Ipit juga merupakan sosok yang tidak pelit ilmu. Dengan keuntungan yang sudah didapat, Kang Ipit membuat sebuah rumah sederhana dari kayu sebagai tempat berkumpul para petani untuk saling berbagi wawasan, cerita, dan juga keluh kesah. Saya sungguh tak bisa berkata-kata setelah mendengar kisah para petani secara langsung. Saya amat merinding, terharu, bahagia, dan berapi-api melihat raut muka petani yang begitu bahagia dan antusias. Itu saja baru dua belas petani yang saya jumpai, belum lagi masih ada seratusan petani di Pangalengan yang mengantri untuk bergabung dengan Crowde. Bisa kamu bayangkan jika semangat ini mampu merasuki jiwa seluruh petani di Indonesia?

Catatan Penulis:
Semua pendapat di atas ditulis berdasarkan opini dan pengalaman pribadi penulis. Saya sama sekali tidak dibayar oleh Crowde untuk menulis hal ini. Tulisan ini tercipta atas dasar kesadaran dan hati nurani saya sebagai anak muda yang sungguh sadar akan begitu besarnya kekayaan alam di negeri kita dan mau memaksimalkannya demi kesejahteraan masyarakat Indonesia. Salam lestari. Salam bantu petani.

Kemerdekaan petani adalah merdeka dari bandar dan rentenir; merdeka dari keterbelakangan literasi pertanian khususnya teknologi, manajemen, dan finansial; serta merdeka dari paradigma negatif yang memandang profesi petani dengan sebelah mata. Karena kemerdekaan petani berarti sama dengan kemerdekaan bangsa ini dari segala bentuk impor bahan pangan.”

Zebian Paskalis
Netizen jelata yang sering berkeliaran di dunia maya dengan akun @zebipaskal. Lebih suka berpendapat untuk kemajuan bangsa daripada memancing keributan. Saat ini sedang merajut mimpi untuk
memperbaiki pengelolaan sampah di Indonesia.