Beruntung
Entah apa yang terjadi, saya tiba-tiba ingin menulis mengenai pengalaman saya tumbuh besar di 15 KM selatan dari pusat hingar-bingar Bandung. Saya berasal dari keluarga sederhana, Ayah bekerja di perusahaan BUMN, dan Ibu bekerja sebagai seorang PNS. Saya hidup di lingkungan dengan status sosial yang beragam, mulai dari pekerja kerah biru, petani, pekerja kantoran, dosen, wiraswasta, supir hidup berdampingan antara satu dengan yang lainnya. Aku berpendidikan mulai dari TK, SD, dan mengaji di lingkungan tempat tinggalku, hal tersebut membuatku memiliki kesempatan untuk bersekolah dengan orang-orang dari background yang berbeda-beda.
Semasa sekolah dasar dulu, aku bukanlah orang yang paling pintar di kelas, masih banyak murid lainnya yang memiliki potensi yang lebih baik daripada aku. Dari sekitar 58 murid yang ada di kelasku paling tidak aku hanya mendapatkan ranking 10 besar dengan urutan yang paling akhir. Pada saat itu, temanku yang selalu menjadi juara kelas dari kelas 1 sampai dengan kelas 6 bernama Indra, dia merupakan anak dari seorang guru agama sekaligus guru TK dan juga seorang ahli servis alat elektronik.
Singkat cerita, angkatan kami lulus dari pendidikan SD. Ada beberapa orang yang aku tahu tidak melanjutkan sekolahnya, yang kemudian sebagian besar dari mereka langsung menikah. Sedangkan pada saat itu, aku dan dua temanku lainnya memutuskan untuk melanjutkan sekolah ke SMP di Kota Bandung, yang harus di tempuh kira-kira satu jam dengan menggunakan angkutan umum dari rumahku. Sedangkan kebanyakan teman SD yang lainnya melanjutkan pendidikannya di SMP yang sebenarnya cukup baik yang dekat dengan rumah (tetapi lingkungannya relatif sama tidak dinamis) yang mana teman-teman yang bersekolah di sana berasal dari tempat yang sama. Temanku Indra, bersekolah di salah satu sekolah terbaik, dengan penempatan di kelas tempat anak-anak pintar. Sedangkan bagi anak yang tidak masuk ke sekolah terbaik, mereka mungkin masuk ke sekolah swasta, ataupun sekolah negeri yang bukan sekolah unggulan.
Aku menjalani kehidupan sebagai siswa SMP dengan lingkungan yang baru, siswa yang sekolah di tempatku literally berasal dari seluruh sekolah dasar yang tersebar di Bandung. Kebanyakan dari mereka adalah orang kota, yang berasal dari keluarga menengah. Lingkungan atmosfer belajar di SMP-ku lebih kompetitif di banding di SD dulu. Beragam sudut pandang baru, aku dapatkan, karena siswa yang bersekolah di SMPku berasal dari latar belakang yang benar-benar berbeda. Setiap hari, aku belajar mengenai hal baru yang dilakukan oleh teman-teman baruku. Aku bertemu dengan guru-guru yang kompeten, yang memberiku arahan, ilmu, atau mengajari untuk berpikir kritis. Walaupun ada lumayan banyak tantangan yang dirasakan di kehidupan SMP (tempatnya para remaja ababil), tapi hal tersebut dapat digunakan sebagai banyak pembelajaran.
Masa-masa SMP berlalu dengan cepatnya, kemudian setelah dinyatakan lulus dari SMP, aku berniat untuk daftar ke salah satu sekolah terfavorit di Bandung, akan tetapi karena jaraknya harus ditempuh kurang lebih 1 1/2 jam dari rumahku, jadinya aku memilih sekolah favorit yang lebih mudah dijangkau dari rumahku. Sedangkan, temanku Indra, dia melanjutkan sekolahnya di sekolah paling favorit di sekolah yang dekat dengan sekolah SMPnya dulu. Singkat cerita kami lulus dari pendidikan formal kami di sekolah masing-masing.
Sejak awal kelas tiga aku sudah memutuskan untuk melanjutkan kuliah tidak di Kota Bandung, yang telah menaungiku selama 12 tahun tersebut. Alasannya karena Kota Bandung, telah menjadi tempat yang nyaman bagiku, dekat dengan orang tua, budaya orang-orangnya yang lemah lembut, serta pertimbangan lainnya (khususnya mengenai kemandirian dan pencarian jati diri). Akhirnya di SMPTN tertulis aku memilih dengan ajeg antara Ilmu Ekonomi UI, atau Ilmu Ekonomi UGM, alhamdulillah aku diterima di IEUI. Aku mendapatkan kabar dari teman SDku bahwa Indra, tidak diterima di salah satu universitas negeri di Bandung, akhirnya dia memutuskan untuk melanjutkan kuliah di universitas swasta D3 yang clerical.
Alhamdulillah, sekarang aku telah lulus dari jurusan Ilmu Ekonomi dari fakultas ekonomi terbaik di Indonesia (FE UI), dan resmi mendapatkan gelar Sarjana Ekonomi, dan begitupun dengan Indra mendapatkan gelar D3-nya. Hal tersebut artinya aku sekarang memiliki kesempatan bekerja dengan pilihan kesempatan karir yang lebih baik daripada Indra. Namun walaupun demikian bukan berarti aku merupakan orang yang lebih pintar dan lebih baik daripada Indra teman SDku. Alasannya adalah, aku bisa masuk ke sekolah dengan kualitas yang baik, karena orangtuaku masih mampu untuk mendukungku mendapatkan pendidikan tersebut. Sedangkan Indra, tidak memiliki kesempatan untuk memaksimalkan potensi, dan kesempatan yang dimilikinya, karena masalah finansial yang dihadapi oleh keluarganya.
Alasanku menulis tulisan ini adalah karena ketika umurku 22 tahun pada detik sekarang ini, banyak dari teman-teman SDku yang memiliki potensi yang lebih besar daripadaku, tidak mendapatkan pendidikan yang lebih baik daripada aku yang bukan apa-apa dibanding mereka. Banyak dari teman-teman SDku hanya menyelsaikan pendidikannya sampai SMP atau SMA kemudian bekerja menjadi pramuniaga di toko atau bahkan menjadi pekerja pabrik, dan kemudian menikah. Bukankah jika hal tersebut terjadi, negara dirugikan dengan hilangnya kesempatan akan potensi yang sebenarnya bisa didapatkan dari orang-orang seperti Indra. Aku yakin ada ribuan bahkan jutaan Indra-Indra lainnya di luar sana yang memiliki potensi yang luar biasa, tetapi tidak termaksimalkan karena keadaan.
Aku hanyalah orang yang beruntung, yang lahir di keluarga yang kebetulan cukup untuk memberikan pendidikan yang terbaik yang bisa aku dapatkan. Kemudian aku berpikir, setiap hal di dunia ini memiliki tujuan ketika diciptakan oleh Tuhan, pohon dan tumbuhan sebagai sumber untuk membuat oksigen dan peng-supply makanan bagi hewan dan manusia, air sebagai pendukung kehidupan yang amat penting, matahari sebagai pendudukung proses fotosintesis, bahkan mahluk yang dianggap tidak berguna seperti ular diperlukan untuk memangsa binatang parasit seperti tikus. Kemudian, pastilah ada suatu alasan mengapa Tuhan menciptakan setiap hal yang ada di dunia ini. Apakah tepatnya? aku tak yakin, namun untuk mendapatkan jawaban itu teruslah berjalan menjalani kehidupan sebaik mungkin yang bisa dilakukan, pada akhirnya kau akan menemukan jawaban tersebut.
“Teruslah berjalan menjalani kehidupan yang tersedia di depan mata, namun tetap bertanya akan segala hal yang terjadi, karena jika tidak mengeluarkan pertanyaan niscaya tidak akan ada jawaban yang akan didapatkan”