Lebih Beralasan

Akhir-akhir ini, saya udah mengambil kursus mengemudi. Menyenangkan rasanya bisa menyetir. Iya, saya tadinya buta dalam mengemudi. Kecuali kamu minta ke saya, ngebut kayak Rio Haryanto, baru saya bisa.

Mentor favorit saya adalah pak Aang. Dibacanya bukan ‘eng’ tapi ‘a-ang’. Saya lumayan senang bila didampingi mentor yang satu ini. Padahal kalau kamu baru diajar dengan beliau, kerjanya teriak-teriak dalam mobil.

“KOPLING A’ KOPLING!!” (Aa’ dalam bahasa sunda artinya abang).

Buat yang baru diajar sama beliau, pasti gondok setengah mati. Kesel banget, padahal kopling sudah diinjak, menurut kita. Tapi tetap saja beliau teriak-teriak. Ampe budeg kuping kamu.

Tapi saya sadar.

Menurut saya beliau bersikap seperti itu memang ada alasannya. Beberapa dari kita memang sudah merasa menginjak kopling, tapi itu kan pandangan kita sebagai orang yang baru belajar. Beda lagi dengan pandangan yang sudah ahli. Mungkin maksudnya, kita memang kurang injeknya. Atau mengingatkan jangan lepas kopling.

Gak cuma itu, beliau juga memberi tahu dan menjelaskan cara-cara menyalip, membelok, memutar, menanjak. Segalanya. Bahkan beliau yang ajarin saya buat nembus lampu merah selama belom nyala terlalu lama. Hahaha, beliau mengajarkan saya bukan jadi murid les mengemudi. Beliau ajari saya jadi orang normal mengemudi. Karena senormal-normalnya orang, pasti pernah melanggar aturan.

Yang saya suka dari beliau, tegas. Gak bakal cerewet tanpa alasan. Pasti ada alasannya. Gak mungkin bila kita sudah benar, beliau masih saja cerewet. Gak mungkin. Dan ketika sesi pengajaran selesai, ya kembali biasa. Kembali menyenangkan. Dan saya suka itu.

Saya senang orang yang tegas, beralasan, dan rasional. Kenapa?

Karena penting bagi kita untuk sadar akan kesalahan diri sendiri.

Seperti Louis Ck pernah bilang, “Self Love is good. But self awareness is more important.”

Kalau kamu salah ya sadar lah. Terus perbaiki. Jangan cuma bisanya protes doang. Tapi pas ditodong orang, bisanya cuma cengengesan. Kalau kamu bego, ya akuilah. Terus belajar. Jangan bangga dan sok tahu. Kalau kamu jelek ya ngaku aja. Terus jangan nangis minta diberikan wajah tampan ke Tuhan. Kembangkan diri kamu, pertambah kepercayaan diri kamu, asah bakat kamu.

Sadar akan diri sendiri itu penting.


24 Februari. Siang, di ruangan kursus.
One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.