A Day in Jakarta.

It’s really an exhausting day, I know.

Kota ini memang menawarkan banyak sekali pilihan, bahkan dimulai dari pilihan kendaraan. Pilih, antara mobil namun tidak bisa mengejar waktu karena kemacetan -apalagi weekend-, atau commuterline namun… siap-siap terbawa arus manusia ya:), atau satu lagi, gojek tapi debu dan panas yang sangat terik.

Kalimalang-Tebet-Kebon Jeruk itu deket ya :)

Lalu, hari ini entah mengapa banyak sekali cobaan yang kita hadapi. Dari mulai kegencet di commuterline, dikejar waktu jam masuk museum, eh ternyata kita salah tanggal :) coba usaha tapi tetep gabisa.

Terus ingin makan, pas sampe tempatnya.. ternyata tutup. Dilanjut pulang karena kita sama-sama ngejar travel dan flight, eh mas gojeknya malah muter-muter. Terakhir, pesawat adel delay dan bikin hampir tengah malem masih di surabaya, padahal mau ke malang.

Sepanjang jalan kita sama-sama bertanya, hikmah hari ini apa ya, kok kayaknya tidak enjoy sekali rencana mainnya…

Akhirnya kita ketawa, menertawai kekonyolan kita hari ini. Setidaknya del, kita dapet insight dari Yayoi Kusama, bahwa ‘saat dia mengalami titik poin terendah saja, dia masih bisa berkarya’, malu gak sih kita del?

Memang begitu del, kita sedang masa ditempa. Dan betul kata adel, ‘kalau membandingkan dengan orang lain, gaakan ada habisnya’. Jadi yaudah, kita terima aja del jalan hidup kita masing-masing, dan jangan pernah letih berjuang.

Dan betul, di dunia ini, Tiada masa tuk berpangku tangan.

Maka pilihannya adalah,

“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.

Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu,

Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu,

Dan tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu”

Pilih aja, mau biarkan letih yang menang atau kita yang menang?

Jadi, senyumin aja, del.

    Zein Nidaulhaq Firdaus

    Written by

    I’m a story teller