Denny JA: Berstatus Tersangka, Ahok Berpotensi Ditinggal Pemilihnya

Partai-partai politik pendukung Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) telah menyatakan ‘sumpah setia’ tetap mendukung Ahok meski calon gubernur petahana Jakarta itu kini menyandang status tersangka. Namun Pimpinan Lingkaran Survei Indonesia (LSI), Denny JA, menyatakan Ahok berpotensi ditinggal pemilihnya.

“Dia berpotensi tersingkir di pemilihan putaran pertama, karena dia menjadi nomor buncit. Saya katakan berpotensi, bukan pasti tersingkir,” kata Denny.

Denny mendasarkan kesimpulan itu pada hasil survei yang dilakukan lembaganya pada awal November, yang hasil lengkap surveinya akan dirilis segera. Saat survei dilakukan memang Ahok belum menyandang status tersangka, namun responden telah ditanya perihal dukungan bila Ahok menjadi tersangka kasus dugaan penistaan agama itu.

“Setelah tersangka, maka yang lari dari Ahok sekitar 50 persen sampai 60 persen,” kata Denny.

Publik menilai status tersangka adalah status yang sulit diterima. Ini analog dengan kesan masyarakat terhadap menteri yang berstatus tersangka maka menteri tersebut didesak mundur dari jabatannya. Namun untuk konteks pencalonan Pilgub DKI, Ahok memang tak boleh mundur karena aturan perundang-undangan mengatur demikian.

“Pengaruh psikologis dari status tersangka ke publik besar sekali,” kata Denny.

Dia juga mengatakan bahwa dari 10 orang Jakarta, tujuh di antaranya sepakat bahwa Ahok bersalah dalam dugaan penistaan agama itu, satu di antaranya tidak setuju, dan dua orang lainnya tidak menjawab.

Denny memaklumi bahwa partai-partai politik pendukung Ahok tak akan lari dari barisan. Soalnya, aturan perundang-undangan memang tak memungkinkan pencabutan dukungan. Aturan itu tercantum di Pasal 6, ayat (5) dan ayat (6), PKPU Nomor 9 Tahun 2016 tentang Pencalonan. Itu hanya berlaku di tataran elite parpol. Namun di tataran pemilih parpol, dinamikanya akan lain. Pemilih parpol yang semula pro-Ahok bisa bepaling.

“Harus dibedakan antara parpol pihak pengurus dan pemilih partai,” kata Denny.

foto : Ari Saputra

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.