message from heaven.

chara(s): shimada kasai/honda kasai, honda akashi.


Bersih-bersih itu bukan ‘aku’ banget—koreksi, gak keren bangetlah pokoknya. Bahkan, setelah aku sudah menjadi ibu dari seorang anak. Bukannya kenapa-kenapa, tapi sejak kecil, aku bukan tipe yang suka bersih-bersih. Aku lebih suka membiarkan kamarku seperti kapal pecah—yah, meski ujung-ujungnya aku bakal kena jewer Mamaku nantinya.

Tapi, ya, kali ini, aku memang harus bersih-bersih.

Kutatap sekeliling ruangan yang kumasuki ini. Ruangan kerja yang sederhana, bercat cokelat muda dengan tambahan furnitur yang sederhana. Pajangan dinding berupa kutipan-kutipan berbahasa Jerman—suamiku itu blasteran Jerman-Jepang, makanya jangan heran kalau sosoknya lebih mengarah pada sosok orang-orang Kaukasian, meski lebih tepatnya sosoknya mirip orang Albino dengan rambut cokelat kehitaman—piagam perhargaan, dan foto-foto jepretan yang sama sekali tidak berseni (ha, Akashi memang tidak jago memotret!).Ruangan yang cocok banget dengan imej suamiku, Akashi. Sama sepertiku, Akashi juga bukan tipe yang suka bersih-bersih—bedanya, kalau aku tidak suka bersih-bersih karena kemalasanku, sedangkan kalau Akashi karena ia nyaris tak punya waktu untuk bersih-bersih berkat pekerjaannya sebagai Inspektur Polisi. Makanya, kalau Akashi dapat cuti, hal yang dia lakukan pertama kali ialah membenahi ruang kerjanya.

Namun, sayangnya, Akashi tidak bisa membenahi ruangan kerjanya lagi. Tidak akan bisa.

Suamiku meninggal sebulan yang lalu. Tepat ketika kandunganku menginjak bulan kesembilan—dikit lagi aku akan melahirkan—dan Akashi meregang nyawa. Kanker otaknya sudah mencapai tingkat akut, dan aku tahu kalau nyawa Akashi memang tidak akan panjang. Hanya saja, aku tidak pernah menyangka kalau Akashi pergi sebelum ia bisa melihat buah hatinya. Buah hatiku dan Akashi yang pertama.

Ya ampun, kenapa aku jadi nostalgia begini? Sial, gak keren banget! Aku harus segera bersih-bersih. Dua jam lagi aku harus bertemu dengan narasumberku, mewawancarainya atau Kobuta kampret bakal mendampratku. Oh, tidak bisa, hal itu tak boleh terjadi.

Aku menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Kakiku melangkah mantap menuju meja kerja Akashi—dan mataku langsung tertuju pada sebuah objek yang ada di meja kerja Akashi.

Laptopnya.

Entah atas gagasan apa, aku pun membuka laptop Akashi dan menyalakannya. Layarnya berdebu, saking lamanya tidak digunakan, dan pelan-pelan kubersihkan dengan kedua tanganku. Tidak perlu menunggu lama-lama untuk bisa segera mengoperasikan laptop tersebut; jemariku dengan lincah bergerak di atas trackpad, mengecek folder-folder yang ada, satu per satu.

Ah… memainkan laptop ini membuat memoriku terkenang lagi. Saat Akashi dirawat di rumah sakit, dia selalu memainkan laptop ini. Aku bingung dia mengetikkan apa—yang jelas, dia selalu membuka e-mailnya. Entah mengirim e-mail untuk siapa. Dan, setiap harinya, Akashi selalu menanyaiku ketika aku menjenguknya. Kau sudah menentukan nama untuk anak kita kelak?

Aku jawab, belum, sambil cengegesan. Kamu bantuin aku juga dong, nentuin namanya. Lalu kulihat, Akashi hanya bisa menghela napas, dan kembali menatap laptopnya. Terus seperti itu.

Oh, ya, mendadak aku jadi ingin mengecek inbox Akashi. Kursor kuarahkan menuju Google Chrome, mengeklikny dua kali, dan progam itu pun terbuka. Kuketik alamat web e-mail yang digunakan Akashi pada address box, dan tidak lama kemudian, web e-mail itu terbuka. Syukurlah, belum di log-out Akashi.

Aku mengecek inbox Akashi. Kebanyakan e-mair dari milis yang diikuti Akashi, lalu e-mail dari Kepolisian Pusat Tokyo, dan spam e-mail yang bejibun banget. Aku mengernyitkan alis; tidak ada e-mail dari teman-teman Akashi atau kenalan Akashi. Jadi, selama ini Akashi menulis e-mail ke siapa?

Nah, di saat-saat seperti itulah, mataku tiba-tiba melihat ke arah draft. draftnya lebih dari 1, jumlahnya ada 10. Banyak banget… Dan aku pun tergoda untuk mengecek-ngecek.

Aku mengeklik tulisan draft, dan aku tertegun kemudian. Semuanya… Draft dengan subject “Dari Papa Di Surga”.

Dan aku mengeklik salah satunya. Membaca tulisan yang ada di layar.

Halo, ini Papa. Apa kabarmu, Nak? Saat menulis ini, aku berpikir kau bertumbuh menjadi anak yang seperti apa. Apa pun itu, aku yakin kau mirip sekali dengan Mamamu. Semoga saja sifatnya tidak. Cukuplah ada satu Mamamu—nanti Papa lelah mendengar ocehan-ocehan “keren” dari mulutmu dan Mama.

Apa badanmu tinggi, Nak? Aku harap iya—semoga kau lebih tinggi daripada Mama. Kalahkan Mama; tinggi badannya itu seperti monster.

Aku terkekeh-kekeh. Dasar Akashi, sempat juga dia nulis seperti itu. Dan apa-apaan itu, tinggi badan seperti monster? 178,5 cm itu normal-normal saja menurutku.

Aku melanjutkan bacaanku.

Apa dia memberimu nama yang normal? Kau tahu, Mamamu itu seorang otaku anime, jadi aku khawatir kalau dia memberikan nama yang aneh-aneh. Tapi, kuharap, dia memberimu nama yang bagus.

Aku mendecakkan lidah. Akihiko itu nama yang bagus, protesku dalam hati. Haaah… Akashi terlalu berlebihan, ah.

Kulanjutkan lagi bacaanku.

Maafkan Papa, Nak, tak bisa ikut memberimu nama. Tidak bisa melihatmu tumbuh, merawatmu, mandi bersamamu, dan mengantarkanmu ke tempat Penitipan Anak-nya bibi Baosanju. Padahal, Papa ingin melihatmu memakai baju yang dipilihkan Mama.

Ah… Kenapa ini, mataku jadi terasa panas? Aku tertawa kecil, tapi tawaku terdengar menyedihkan.

Padahal, Papa ingin kamu melihat Papa. Ingin mendengar suara khas bocahmu yang berteriak riang, “Papa! Mama!”

Oh, ya, ngomong-ngomong, Mama memang kelihatannya kuat. Aslinya dia cengeng. Nah, kalau kau melihat Mama cengeng, hibur dia ya.

Sial, kamu, Akashi. Aku mengucek-ngucek mataku yang basah. Bahkan setelah kamu meninggal, kamu masih bisa membuatku nangis.

Terakhir,

untuk Kasai.

Aku mencintaimu, monyet bodoh. Hanya kau yang bisa loncat-loncat di hatiku dengan tawa renyahmu dan kebodohanmu. Selalu, bahkan hingga aku mati.

-Honda Akashi-

“Tidak adil…”

Air mataku makin menjadi-jadi. Aku sesenggukan.

“Tidak adil… Kamu bisa bilang mencintaiku sekarang, tapi aku tidak bisa bilang aku mencintaimu saat ini juga… Kau sudah di surga… Hiks, hiks…”

Email me when sashichizu. publishes or recommends stories