Malam Tidak Terlupakan pada Tur Perpisahan Yellowcard di Singapura

Foto oleh Alvin Ho, diambil dari morethangoodhooks.com

Tur terakhir Yellowcard sebelum bubar

Dua puluh tahun bukanlah waktu yang singkat untuk sebuah band. Namun waktu tersebut dirasa cukup oleh kuintet pop punk asal Jacksonville, Florida, AS, Yellowcard. pada 2016 lalu, mereka merilis pernyataan bahwa dengan pertimbangan panjang termasuk kesehatan, mereka memutuskan untuk bubar. Bersamaan dengan pernyataan tersebut, mereka merilis album terakhir dengan judul Yellowcard, dan tur perpisahan bertajuk The Final World Tour. Hal ini membuat 2017 menjadi tahun terakhir mereka sebagai band.

Singapura menjadi salah dua dari negara di Asia Tenggara yang menjadi bagian dari tur ini, selain Filipina. Pada 12 Februari lalu, bertempat di The Coliseum Hard Rock Cafe, Sentosa, Yellowcard memainkan 20an lagu.

Sekitar pukul 7.30, The Summer State, band lokal sebagai pembuka memulai penampilan. Mereka juga yang menjadi pembuka pada konser Yellowcard sebelumnya tahun 2012. Mereka berhasil memanaskan penonton dengan musik catchy dan penampilan yang rapi.

Sekitar 30 menit, The Summer State pun turun. Di sela-sela persiapan instrumen Yellowcard, promotor Impact Live memainkan hits pop punk yang praktis membuat penonton semakin terpompa. Lagu-lagu seperti Cute Without The E, Misery Business, dan This Ain’t a Scene, It’s an Arms Race membuat semua penonon bernyanyi dan jeda tersebut tidak berasa lama. Mungkin seperti ini rasanya Emo Night.

Dengan tatanan panggung yang sederhana, kain putih bertuliskan 1997 di sisi kiri, 2017 di kanan, dan logo band di tengah, Yellowcard memanfaatkan suasana penonton yang sedang naik dan langsung menghentak dengan Believe. Saya sempat kaget ketika memasuki venue melihat banyaknya jumlah penonton. Hampir semua melompat dan tidak sedikit yang pogo. Orang di sebelah saya harus merelakan kacamatanya terinjak pada lagu pertama.

Dilanjut berturut-turut dengan Lights and Sounds, Way Away, Always Summer, dan Five Becomes Four, para penonton seakan tidak diijinkan beristirahat. Malam itu Yellowcard tampil optimal, dan penampilan mereka jelas menuntut fisik prima bagi penonton yang hadir. Ryan Key tidak terdengar fals sedikit pun, Sean Mackin tampil penuh semangat menggesek biola dan masih melakukan backflip, Ryan Mendez dan Josh Portman tampil solid, serta Jimmy Brunkvist, drummer tur mereka, tampil nyaris sempurna.

Meski paling dikenal dengan Ocean Avenue yang rilis tahun 2003, Yellowcard tetap produktif dan sesudahnya telah merilis 6 album penuh dan 2 album akustik. Malam itu, lagu dari tiap album tersebut dimainkan. Mulai dari Empty Apartment yang dibawakan secara akustik, Gifts and Curses yang ada di album kompilasi Music From and Inspired by Spider-Man 2, hingga Rest in Peace, single pertama dari album terakhir mereka.

Musik pop punk memberikan dinamika yang unik. Banyak orang yang beranggapan pop punk sebagai sebuah fase dan hasilnya, penonton malam itu sangatlah beragam. Mulai dari usia remaja yang dianggap usia perkenalan dengan pop punk, usia kuliahan, hingga penonton di usia pertengahan 20an tumpah ruah menjadi satu dan bersenang-senang bersama. Entah itu penggemar berat, atau hanya ingin bernostalgia tentang masa-masa SMP/SMA, malam itu semuanya larut dengan lagu-lagu yang anthemic.

Tidak hanya beragam umur, penonton juga berasal dari beragam gender dan ras. Tidak sedikit perempuan menggunakan hijab turut melompat. Dan siapa kira moshing dengan orang-orang ras kaukasian secara fisik sungguh melelahkan.

Seusai lagu Holly Wood Died, Yellowcard sempat turun panggung. Encore yang biasa terasa sangat gimmicky tidak terasa malam itu. Kapan lagi kita bisa teriak we want more kepada band yang menyampaikan perpisahan untuk terakhir kali?

Malam itu ditutup dengan Only One dan Ocean Avenue. Circle pit terbentuk dan beberapa orang melakukan crowd surf. Walaupun dipenuhi lagu-lagu penuh semangat, malam itu tetap terasa sedih. Sean Mackin, satu-satunya personel pendiri yang tersisa dan Ryan Key di beberapa kesempatan terlihat meneteskan air mata. Malam itu berasa campur aduk. Sedih memang, tapi malam itu juga terasa seperti perayaan, rasa bersyukur, dan terima kasih, atas 20 tahun yang telah berlalu. Malam itu tidak hanya tentang Yellowcard, tapi juga malam untuk penggemar dan hal tersebut membuat pertunjukan itu menjadi spesial. Yellowcard akan dirindukan.

*Tulisan ini dibuat sebulan lebih 3 hari setelah berlangsungnya konser tersebut. Pada awalnya tidak ada niatan sama sekali untuk menulis tentang hal ini, karena saya tidak akan bisa memberikan keadilan atas apa yang saya rasakan malam itu. Kebahagiaan, tetesan air mata. Malam itu saya (dan saya yakin tidak hanya saya) lupa siapa saya, apa itu kemarin dan apa itu besok. Yellowcard membuat saya ingat bagaimana rasanya senang. Malam itu memberikan pengalaman yang tidak terlupakan.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Zico Sitorus’s story.