Aku

Sebelum tulisan ini diterbitkan, sudah terdapat beberapa kata “oke” dan “akhirnya saya menulis lagi” yang berkali-kali ditulis dan dihapus.

Aku sudah sering menulis dan mengetik. Aku lebih sering lagi merangkai kata-kata. Sebagian berhasil ditulis, sebagian tidak. Kadang aku menulis sebagai diri sendiri, kadang sebagai siapa saja. Aku sebagai diri sendiri menulis hal-hal yang realistis, yang berhubungan dengan jenjang pendidikan yang sedang aku jalani dan yang berhubungan dengan fenomena sosial yang sedang terjadi. Aku sebagai siapa saja menulis hal-hal fiksi, dugaan, prediksi, imajinatif, versi lain dari sesuatu, seenakku sendiri.

Aku sudah mencoba banyak media untuk menulis: kertas bekas, buku tulis, buku gambar, media sosial, blog sana, blog situ, dan akhirnya blog sini. Tidak semua kutinggalkan. Menulis dengan pensil atau pena masih memiliki nikmatnya sendiri. Namun, belakangan ini, aku jarang menulis.

Menulis menjadi caraku mengeluarkan unek-unek karena aku tidak banyak bicara mengenai hal-hal tertentu. Mungkin, cuma mungkin, alasanku tidak membicarakannya adalah agar pengalamanku akan hal-hal itu tetap berlangsung sealami mungkin sebelum terinterupsi. Abstrak, tapi aku tidak dapat menjelaskannya saat ini. Siapa tahu muncul contohnya setelah aku menulis beberapa cerita di sini.

Teman-temanku pernah mengira bahwa aku anak pertama. Mereka melihat bahwa aku ekspresif, menjaga komunikasi dengan teman, membuat komunikasi baru dengan teman baru, berani mengambil keputusan, dan lain-lain. Apakah anak bungsu biasanya sebaliknya? Mungkin. Perkiraan mereka muncul di saat aku sudah tidak lagi rajin menulis, walaupun mereka tidak pernah tahu tulisan-tulisanku. Terlepas dari ketidaktahuan mereka, ciri-cirinya jelas: kepribadianku bergeser, atau berubah nilai, atau berpindah fase.

Ceritaku kali ini belum tentu menjadi tanda apa-apa. Aku hanya memaksa diri untuk menulis saat ini.


Banyak sekali cerita yang aku buat yang berpusat pada diriku sendiri. Seakan-akan aku sedang memperkenalkan diriku pada pembaca atau aku ingin dikenal. Entahlah.

Aku pernah mencoba menyamarkan rangkaian kata-kata menjadi sebuah cerita yang cukup fiksi. Aku juga pernah menyusun satu yang merupakan fakta utuh. Aku tidak puas akan keduanya. Hasilnya, fakta hanya menjadi pengantar bagi hipotesis dan imajinasi. Pada bagian akhir cerita cenderung kutambahkan pertanyaan, versi alternatif, kesimpulan, harapan, atau ucapan tidak jelas.

Jadi, “senang berkenalan dengan Anda.”