“MAHA”siswa menurut saya

Setelah membaca beberapa tulisan dan artikel mengenai mahasiswa, saya jadi kepikiran untuk melampiaskan beberapa hal di kepala saya ketika membacanya. Hal ini perlu dibawa ke dalam bahan diskusi yang dibangun teman saya. Seorang teman yang lain mengatakan bahwa mahasiswa perlu aktif, bukan karena peraturan kampus atau lingkungan, tapi kesadaran kita sendiri menanggapi imbuhan “MAHA” pada kata mahasiswa tersebut. MAHA artinya, sangat, teramat, besar, paling, dsb.

Banyak ditemui mahasiswa yang tawuran dimana- mana, mengonsumsi obat- obatan terlarang < ini golongan mahasiswa yang mengkhawatirkan, saya tahu ini terdengar sangat klise, namun saya tetap mengulangnya.

Kedua adalah mahasiswa yang rajin mengikuti setiap kelas dan mengerjakan tugas demi untuk tidak kepepet dengan deadline, sampai kadang tidak ada waktu untuk beristirahat atau keluar kamar, karena sebagian dari mereka bahkan mengerjakannya dengan niat yang tinggi, kemungkinan besar untuk memperoleh nilai yang tinggi juga.< mereka tergolong normal dan umum.

Ketiga, mahasiswa yang ingin perubahan bukan hanya pada dirinya, tapi juga pada lingkungannya. Kelemahan golongan ini biasanya adalah minder, hanya minder. Golongan ini juga biasanya rela mengorbankan waktu kuliahnya atau bahkan nilai untuk demi mewujudkan yang ia ingini, yang positif tentunya, seperti gerakan mahasiswa di sekitar kampus ataupun kegiatan yang berhubungan dengan keinginan dia.<yang seperti ini masih bisa ditemui, mungkin lebih sedikit.

Keempat, mahasiswa yang mempunyai tekad dan niat yang baik untuk mewujudkan perubahan meskipun kecil pada dirinya, ia pun akan melakukannya sesegera mungkin. tapi lingkungannya yang seolah- olah menghalanginya, ketika lingkungan mulai judgemental, ia secara tidak langsung akan merasa lebih baik bermain aman dengan hal yang bisa diterima oleh lingkungannya golongan mahasiswa ini sangat mirip dengan yang ketiga. <mungkin ini yang anda sering temui dan memanggil dia gila.

Kelima, mahasiswa yang memasuki kampus karena di suruh oleh orang tuanya, mereka sering menuntut kebebasan, namun sampai bangku kuliah pun ia merasa belum mendapatkan kebebasan itu, karena menurut dia duduk di bangku kuliah juga terpaksa ia lakukan, karena tak ada yang bisa ia lakukan untuk menolak< mungkin banyak yang mengira mereka kekanak- kanakan, tetapi belum tentu demikian. Beberapa kali saya temui mahasiswa dengan tipe yang seperti ini, mereka mempunyai banyak alasan yang mengejutkan, mungkin bagi kalian yang hanya membaca ini mengira bahwa mereka adalah anak anak yang pemalas, tapi kenyataannya tidak seperti itu. Tidak semua seperti itu. Dunia ini penuh dengan manusia yang beridealisme kuat dan unik. Salah satu alasan mereka tidak mau kuliah adalah untuk demi membantu adiknya kuliah di luar negri yang dimana membutuhkan biaya dua kali lipat dari biaya kuliahnya di negara sendiri, sangat mulia jika anda mendengar kalimat tersebut, tapi apakah masih terdengar semulia itu jika saya menyebutkan dulu ia seorang anak yang bandel sewaktu ia masih menduduki kursi SMA, sampai mendapatkan surat peringatan untuk kedua kalinya? kita tidak pernah tahu akan pikiran manusia yang terus berkembang, mungkin cerita lainnya berkaitan dengan alasan finansial yang tidak perlu saya umbar karena seharusnya kalian juga sudah mengerti dengan kata yang cukup sensitif terdengar bagi beberapa kalangan.< mungkin mereka kenakak- kanakan, pertanyaannya apakah sekarang pun mereka begitu? belum tentu.

Saya baru memasuki semester 3 dan itulah tipe- tipe mahasiswa yang saya temui dan sebagian sempat bercerita banyak tentang diri mereka. Mungkin saya akan menemui lebih banyak lagi kedepannya.

Yang ingin saya simpulkan: memang kita sebagai manusia mempunyai hak untuk memilih, itu juga yang ditanamkan pada negri kita ini, hidup berdemokrasi. Sebagai mahasiswa, golongan manapun dirimu, agama apapun yang dianut, seberbeda apapun kalian dengan manusia pada umumnya, ingatlah kalian mempunyai hak yang sama, hak yang seharusnya kalian pakai pada kesempatan yang terbilang sangat emas ini. Menjadi mahasiswa bisa terbilang adalah jalan terakhir untuk kalian mencari jati diri. Mulailah peduli dengan lingkungan kalian sendiri, mulai dari tempat tinggal kalian, lalu lingkungan kalian yang lebih luas, kemudian kepada negara kita sendiri. Indonesia. Ada banyak hal yang bisa kalian lakukan, selama itu positif dan sesuai dengan minat kalian, lakukanlah. Biarlah orang mengatakan kalian gila, tolol, bodoh, sampai kata- kata binatang pun jangan berhenti. Kalian yang tahu akan kebenaran, bukan dalam konteks “sok tahu” tapi bedasarkan kenyataan pahit yang terjadi sekarang. Bukalah mata kalian selebar mungkin, diikuti oleh telinga dan semua indra yang kalian miliki. Mulailah dari hal kecil, Jangan maunya yang instan, karena yang instan belum tentu sehat, dan belum tentu bertahan lama.

Sekian pikiran saya mengenai judul di atas, judul yang ditulis oleh seorang siswa yang pernah membenci negara kita ini dan bertanya- tanya mengenai definisi mahasiswa. katakanlah saya munafik. Mungkin itu pantas saya terima.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.