Anggap Saja ini Pipilueun (IAD hari ini)

Zulfarauj
Zulfarauj
Jul 20, 2017 · 5 min read

Part satu

20 Juli 2017

hahaha, terinspirasi untuk nulis perkembangan selama setahun dikepengurusan sekarang sih. dulu, sempet ngeliat kampus sebelah yang punya buku khusus gitu buat presiden atau kahimnya gitu ya, lupa, yang isinya mungkin catatan selama jadi ketua dibidang masing-masing. atau, terinspirasi dari film national treasure, tentang catatan kepresidenan juga. atau, bahkan pernah iseng nanya dan ngusulin untuk dibuat adanya catatan khusus presiden di bem fakultas sendiri, tapi kayaknya ga terlaksana, yaa cuma saran doang. oke, dibalik semua inspirasi itu, aku tau kok, kita sebenarnya gabisa belajar pure dari pengalaman orang lain. kita jalan dan melangkah dari jejak kaki kita sendiri. kurang lebih gitu kali ya. tapi, ga ada salahnya untuk nulis apa yang udah dilakuinkan? hehe.

dibuka dengan kalimat negatif? bakal ngasih kesan negatif ya? maka aku buka dengan hal ini aja ya: kajian via grup adalah tantangan besar dari departemen ini. kenapa? pertama, kita gabisa tau nih sebenernya orang yang baca chat kita tuh siapa aja sih, terutama di line ya, tapi emang bukan “siapa”nya aja sih yang penting, berapa orang yang baca chat di grup juga ga kalah pentingnya. selanjutnya adalah, apakah dengan membuka grup, orang yang bersangkutan juga ikut menenggelamkan dirinya untuk memahami apa yang disampaikan dikajian? sumber apa yg dilemparkan orang lain dalam grup, dsj? selanjutnya, apakah setelah (jika) dia sudah mencoba untuk menenggelamkan diri dikajian, dia mau untuk mencoba mengolah apa yang disampaikan orang lain dan memunculkan pertanyaan baru terhadap apa yang disampaikan? (oke, mungkin poin ini juga akan bisa jadi sama dengan kondisi yang terjadi dalam forum tatap muka langsung), dan satu hal yang paling ga bisa diliat dari kajian via grup adalah mimik, dan sikap. kalau kita bandingkan dengan ketika tatap muka langsung: apakah bener-bener dengerin, apakah bakal main hp (alias ga fokus ke kajian), atau hal-hal lain yang gabisa ditangkap dari hanya sebatas chattingan. dan, tantangan lain adalah: boleh jadi, ada pengisi grup yang kemudian ga izin untuk ga “menyempatkan waktu” untuk kajian, kemudian menimbulkan praduga-praduga yang sebenernya ga perlu. dan akhirnya? kuantitas dan kualitas kajian mau dikata seperti apa? (oke, walau aku tau kuantitas bukan faktor utama pendukung kualitas).

kajian pertama, dengan tema Jaminan Kesehatan Nasional. sebelumnya udah dibuat kajian antara aku, dan staf ahli, tema ini diambil dari (spoiler dikit deh) rencana tema yang bakal dibawain di Summit AOMKI 2017. btw tahun ini Summit-nya di Malang, haha, berasa bahagia. nah, kajian ini kemudian aku minta ke sekjen untuk dibawa juga ke staf baru, buat jadi pemanasan dan tes ombak buat aku ngeliat antusiasme anaknya terhadap kajian. (bersyukur banget, ada alesan ngadain kajian diluar kajian yang direncanain, hehehe). dan, bagaimana metodenya?

sejujurnya, masih mencari cara yang sesuai yang bisa ngebuat kajian lebih hidup dan bobot dengan kondisi kajian via grup ini. kalau tahun lalu, kajian dilakukan dengan cara: kita diskusi untuk ngambil tema, kemudian kita diskusi apa aja poin yang bakal dibahas untuk tema itu, dan selanjutnya poin itu dibagi untuk sejumlah staf untuk dicari masing-masing, dan dipaparkan dikajian yang asli, hehe. tapi, aku merasa, dengan metode seperti ini, ada kekhawatiran ketika seseorang sudah menjelaskan dan memaparkan hasil poinnya, maka ia sedikit berlepas tangan dengan poin lain yang dibahas dalam kajian. Mmmm, istilahnya mungkin task oriented doang ya. atau, mungkin, abaikan label itu kalau terlalu kasar. yaa, pada intinya adalah, ketika kita udah selesai dengan tugas kita, yaudah, kita ga berusaha untuk menanggapi hasil dari poin orang lain. hal lain adalah, ketika dibagi hanya dengan poin-poin tertentu, maka dia kemungkinan hanya menguasai dan memahami dibagian poin itu saja, dan tidak mencari sumber terkait poin lain. terkadang, aku merasa lebih baik kalau kajian agak keluar dari poin pembahasan, tapi punya relasi, karena ini nunjukkin kalau ternyata ada pemikiran lain yang mungkin bisa dibahas dikajian ini.

oke, itu tahun lalu. untuk tahun ini gimana? sebelumnya, pas balik bandung, dengan spontannya aku minta temen yang kebetulan anak hukum yang biasa kajian untuk ketemuan, dan ngobrol. aku nanya sih, gimana metode kajian yang dia lakuin, dan aku coba jelasin kondisi dan pembacaan aku terhadap metode kajianku tahun lalu. dia bilang, dia pake cara pro dan kontra. jadi dia munculin satu tema (temanya dibuat jadi pertanyaan gitu, yang seakan butuh keberpihakan), dan tiap anak disuruh riset masing-masing terhadap pertanyaan itu. atau, dia bilang sih, ngeliat dari sudut pandang yang berbeda. misalnya, ambil suatu isu yang kemudian isu itu diliat dari sudut pandang masyarakat, sudut pandang pemangku kebijakan, sudut pandang swasta, dll. dan, dia bilang juga sih, ya karena tujuan dikajiannya untuk supaya kajiannya rame, dan ngasah dialetika dan kritis juga, jadinya dibentuk pro-kontra. dan pada akhirnya, aku coba cara ini dikajian aku yang pertama. aku buat satu tema, yang isinya pertanyaan gitu, yang butuh keberpihakan, dan kemudian, tada. kajian sudah memasuki babak kedua di hari ini. tiap staf aku minta untuk menyampaikan hasil temuan dan hasil bacanya terkait tema yang sudah diberikan.

terkait bagaiamana konten dan dinamika kajian dengan metode kedua ini, mungkin akan aku dapatkan setelah kajian kami benar-benar selesai. yang ingin aku coba tuliskan disini adalah salah satu yang lainnya. aku sudah menyebar jarkom bahwa kajian akan dilaksanakan hari ini, jarkom aku sebar dihari rabu kemarin. hari ini, aku dengan spontannya kepikiran untuk: eh kayaknya asik kalau ga usah jarkom hari ini dan ngeliat apa yang akan terjadi dengan nasib kajian. apakah akan ada yang menyadari kajian, atau tidak. jarkom kajian tertulis pukul 19.00 kita akan melakukan kajian. okee, hari ini sepulang aku mengerjakan tugas kelompok, lalu makan malam, kemudian, aku meminta staf ahli untuk tidak muncul digrup dan kusampaikan tujuanku. 19.10, belum ada yang muncul. 19.15, dan seterusnya, dan seterusnya. jam 19.35 pun masih belum ada yang muncul. ku sampaikan pada staf ahli, jika sampai pukul 22.00 belum ada yang muncul, kita akan cancel kajian hari ini. Alhamdulillah, untungnya, nasib baik terjadi. jam delapan kurang, ada salah satu staf yang muncul di grup menanyakan kajian jadi atau tidak, dan ada salah satu staf yang nge pm aku dan bertanya hal sama. untung we ya, kalau engga aku nangis meureun, hahaha.

aku menyadari satu hal, dengan pikiran yang tiba-tiba terlintas untuk mendiamkan grup seperti itu. sense of belonging tu penting untuk ngebangun organisasi. apakah aku membutuhkan mereka? atau mereka membutuhkan aku? meskipun iya, kita sama-sama saling membutuhkan, sebenarnya menurutku, departemen yang membutuhkan. apakah ketika aku menghilang IAD akan menurun juga performanya? atau bisa tetap stabil? IAD bukan cuma milik ketua departemen, atau staf ahli. IAD milik semua pengurus yang masuk departemen itu. IAD membutuhkan pengurusnya. kalau misalnya aku tidak melakukan tugasku dengan baik, citra siapa yang akan turun? aku sajakah? IAD juga pasti kena. dan sebenarnya, ini yang aku ingin sama-sama bentuk dengan prank ngediemin grup itu. receh gasih prank-nya? hehehe. semoga ngena sih yaa. pada akhirnya, setelah ada staf yang nanya kajiannya jadi atau engga, aku cuma bilang “wkwkwk, aku nunggu sih siapa yang bakal muncul di grup” dan dibalas dengan “hehe, kak zul bisa aja”. semoga ngena ya, atau, mungkin ini jadi bahan evaluasi juga pas di rakernas kali ya. wkwkwk, baru pertama kali ketemu udah langsung di evaluasi, ga enak ya. maafkan aku ya. tapi aku bersyukur banget sih sama kajian JKN ini.

okee, sekian edisi pipiluen kali ini. semoga bisa nemuin cara tepat utk ngebangun kajian di grup line, dan semoga makin rame lagi kajian via grupnya. punya PR yang belum terlaksana untuk diskusi sama ORMAWA lain terkait kajian tak langsung ini! atau diskusi sama orang lain yang sering kajian via grup.

)
    Zulfarauj

    Written by

    Zulfarauj

    Hidup