Brawijaya, 25 Juli 2017
18.26
dan aku masih di kampus. masih denger suara ketuk palu dan bunyi bor mang-mang yang masih ngerjain dekorasi buat acara tanggal 28 nanti. dekorasinya emang mewah sih menurutku. acaranya juga tingkat nasional. apa itu? Musabaqah Tilawatil Quran Mahasiswa Nasional yang ke-15. “pesertanya ribuan kak” kata salah satu panitianya yang sempet aku tanya.
terlepas dari acara apa yang diselenggarain, aku menangkap beberapa momen di hari ini, sederhana.
aku kadang penasaran, kenapa Allah memalingkan pandangan aku untuk menangkap momen itu. atau, mari meralat diksinya, betapa Maha Besar Allah yang dengan kehendak-Nya memalingkan pandanganku untuk melihat sepotong waktu itu. berasa disuruh, “jul liat geura”
sore hari. waktu maghrib belum datang. dikursi yang sama kayak tempat aku duduk sekarang, perpustakaan UB. tetiba aja aku noleh ke kanan, 30 derajat dari pandangan lurus aku kedepan kali yaa, ada kolam ikan. dan aku melihat salah satu mang yang ngurusin dekorasi itu lagi ngisi air pake botol ukuran 1,5 L dari pancuran dipinggir kolam. karena penasaran, aku tetep liatin mangnya dari jauh yang kemudian dia jalan ke tempat dia dekor panggung. aku dalam hati udah nolak untuk mikir, tu air bisa jadi dipake Mangnya untuk minum. tapi tetep ada pikiran kesana, makanya aku tetep liatin. bahkan aku sampai mikir, tapi dengan tugasnya gawe dekoran, ga ada kerjaan yang butuh dikasih air. terus, apa iya itu air bener-bener untuk minumnya?
oke, udah sore, dan aku juga agak rabun walau cuma minus berapa doang. ga terlalu jelas kalau dari jauh mang-mangnya ngapain. tapi aku sedikit yakin dengan kemampuan mataku, beberapa mangnya kemudian menunda pekerjaannya untuk duduk ngumpul. ada yang ngerokok juga. kemudian, sepertinya, mereka makan bareng gitu. dan. disitulah, mungkin, asumsi yang ada tadi menjadi salah satu bukti. air kolam itu ternyata (mungkin) digunain untuk air minum mereka.
hal ini terjadi, ga lama setelah aku ngepost hal ini di line:
“ya. pada akhirnya, yaudah. mungkin, mungkin gaji para tukang yang lagi ngerjain dekorasi acara gede di UB sekarang, ga sebesar nilai harga dekorasinya. terus? yaudah.”
“mereka dateng kesini pun, toh memang layak disambut dengan baik, terlebih acara ini skala nasional. terus? yaudah”
“pada akhirnya, yaudah. kalau emang ada biayanya, yaa kenapa engga. terus? yaudah”
“semoga keberkahan acara besar ini, karena aku yakin besar banget berkahnya, bisa dirasakan semua yang melihatnya. ya. udah”
ta-da. dan keberkahan itu langsung menghampiri. aku dikasih liat sama Allah, masih ada hal yang bisa aku syukuri. walau lagi merasa dalam kondisi mental yang jatuh sekarang. lu harus bersyukur jul. bener-bener harus bersyukur.
dan, kalau aku kembali balikin dengan sudut pandang yang aku tulis dipost itu, aku juga harus meluruskan, bahwa mereka dengan adanya acara ini, juga mendapat keberkahan yaitu mereka dapet pekerjaan. atau, kalau bicara lebih jauh, nilainya bukan digaji. mereka membantu mensukseskan acara yang nilai berkahnya insyaAllah tinggi. yap, bukankah pesertanya merupakan orang-orang yang cinta pada Quran?
berkah yang lain. momen lain yang ku tangkap. ada ibu-ibu yang jualan jajanan pasar, beliau bahkan sebelumnya juga nawarin dagangannya ke aku. dan, pas adzan magrib, jalanlah aku ke masjid raden patah. pas baru jalan dikit, aku liat ibunya lagi nawarin dagangannya ke mang-mang yang lagi duduk-duduk istirahat. mereka nyamperin. dan beli dagangan si ibu.
aku percaya, kekuatan doa. aku percaya kekuatan tulisan, itu menjadi doa. keberkahan itu, datang dengan sangat nyata.
semoga berkah, bu, mang, apa yang kau kerjakan :)
