Icomm dan Pujon Kidul

intermonev community, merupakan tahapan awal perjalanan di semester 7. mulai dari tahapan penyusunan kuesioner, trial kuesioner, pengambilan data, pengolahan data, penyusunan program, musyawarah mufakat desa, intervensi, dan lain-lain.

seneng banget, gatau kenapa merasa sangat bersyukur menjalankannya. dikasih tau langsung, dibenturin langsung sama lapangan, yang dulu bahkan cuma selintas-selintas doang kalau belajar. memahami pola perjalanannya, itu yang harus terinternalisasi, dalam hal apapun.

Penyusunan kuesioner

dimana kita pada awalnya membuat pola kerangka konsep permasalahan gizi yang mungkin akan ditemui, terkait dengan sasaran, pun terkait dengan wilayah ikom. penyusunan kuesioner, dan semuamuanya didasarkan pada indikator kesehatan, jurnal pendahulu untuk melihat berbagai hal. instrumen yang digunakan, pun harus dapat dipertanggungjawabkan. sebetulnya ini sederhana sekali, jika melihat posisi kita memang sebagai mahasiswa yang harus menggariskan semuanya pada apa-apa yang sudah terbukti. tapi buat aku, ini luar biasa sih.

Trial kuesioner

bareng-bareng seangkatan, pergi ke kecamatan Dau, kalau ga salah, dan mencoba kuesioner yang sudah dibuat. mengambil data terkait tinggi badan, berat badan warga, bertanya tentang makanan sehari yang dikonsumsi, bertanya tentang kuesioner yang sudah dibuat. syaratnya, tidak mencoba kuesioner yang menjadi sasaran kita sendiri, sehingga pada akhirnya, kita dapat memberi masukan pada kuesioner sasaran yang lain, pun menerima saran dari teman-teman lain.

Pengambilan Data

pergi ke desa masing-masing. Desaku desa Pujon Kidul, terdapat 3 dusun disini. Tulungrejo, Maron, dan Krajan. menemui kader setempat, dan meminta mengarahkan pada rumah masing-masing sasaran. karena keterbatasan bahasa, ga pernah ngambil data terkait lansia. pernah sekali waktu, hanya menemani teman yang mengambil data lansia.

entah pernah tertulis ditulisanku yang lain atau tidak, atau ditulis di twitter doang. lansia yang aku kunjungi, tinggal sendirian. memasak masih dengan kayu-kayu batang yang dibakar. mbahnya bilang lebih praktis, dan karena sudah bungkuk lebih memudahkan mbahnya untuk memasak. padahal mbahnya punya kompor, tapi kompornya ditaruh di meja yang agak tinggi, dan itu menyulitkannya. terkait ekonomi, sepertinya keperluan terkait makan sudah terpenuhi dengan kebun-kebun yang ada dibelakang rumahnya. uang yang digunakan sepertinya hanya terkait kebutuhan lain yang tidak menjadi salah satu pertanyaan dalam kuesioner. sesederhana dipanggil “nak”, gatau merasa terharu aja. walau mbahnya agak sulit mendengar, beliau tetap bertanya ketika kami mungkin kurang jelas memberikan pertanyaan padanya. mbahnya kuat banget walau diusianya yang sudah lanjut, masih rajin nyari ranting-ranting pohon buat masak, dll dll.

hal lain, yang mungkin bakal jadi 50:50 kalau di kota, di desa hampir semua kenal semua, tau rumah ibu A, ibu B, dll. desaku penghasil susu sapi. setiap jam 3–5an, warga pasti nyetor susu sapi hasil perahannya dari rumah masing-masing ke KUD. waktu pas ngambil data, dan pas banget lagi hujan, bapak dan ibunya tetep aja ngeluangin waktu untuk nganter susu sapi ke KUD. mau itu pake motor, mau itu jalan kaki dan naruh tempat susu sapinya diatas kepala sambil pake payung. ga bakal nemu ini di kota sih. dan, terkait pelayanan kesehatan. kayaknya, orang di desa lebih rajin bawa anak ke posyandu dibandingkan dengan orang-orang di kota. padahal, kalau kita memahami pentingnya monitoring, orang kota pun seharusnya melakukan hal yang sama. terutama, terkait dengan pelayanan kesehatan berjenjang, dimana seharusnya kita bisa memaksimalkan peran mulai dari fasilitas kesehatan tingkat primer semacam puskesmas, atau lebih kecil lagi lingkupnya posyandu.

Pengolahan data dan Penyusunan Program

pengolahan data ya begitulah adanya. melihat indikator-indikator, membandingkan, membuat kesimpulan. setelah disusun sintesa data, maka dapat dibuat analisis partisipan, pohon masalah, dilanjutkan dengan pohon tujuan, dan kemudian menimbang alternatif yang dapat dilakukan, hal ini tentu mengacu pada kerangka konsep masalah gizi. karena data yang aku temukan adalah terkait dengan gizi lebih untuk sasaran anak usia sekolah, ada 2 alternatif yang dapat dilakukan. asupan makanan, dan aktivitas fisik. karena yang pegang sasaran anak usia sekolah ada 2 orang, pada akhirnya pembagian alternatifnya dibagi berdasarkan hal tadi. kebagian aktivitas fisik. sempet agak blank aja sih.

idealnya, idealnya, pasti yang diharapkan adalah program jangka panjang. tapi, apa daya, intervensi hanya dilakukan 2 minggu. keberlanjutan mungkin adalah hal yang cukup sulit. tapi setidaknya memahami, pemikiran ke arah sana harus ada. keberlanjutan yang dimana penting untuk melibatkan masyarakat dalam program. upaya merubah kondisi prekontemplasi ke tahap kontemplasi. ketika masyarakat mungkin masih menganggap tidak ada masalah, maka penyadaran ke arah sana juga penting. bukankah cukup membingungkan ketika desaku merupakan penghasil banyak bahan pangan, seperti sumber nasi dan sejenis, sayur, buah, dan penghasil susu, justru angka gizi buruknya cukup tinggi. tentunya, menggali penyebab hal tersebut merupakan hal yang menarik. hal lain yang menarik, adalah terkait kolaborasi. sektor pertanian, sektor kesehatan seperti bidan desa, kader-kader desa, pemangku kebijakan, dll dll. yang kemudian, dipertemukan dalam musyawarah mufakat desa.

Intervensi

ini yang menarik. hari pertama intervensi, bantu temen yang sama-sama sasaran anak usia sekolah. kelas 5 SD. kita ga bisa nyalahin anak. itu gasih prinsipnya? mereka masih terlalu muda untuk disalahin kalau ada salah-salah. semua berjalan lancar sampai pada agenda pembagian kelompok. permasalahan yang memang wajar ditemui diusia-usia segitu, milih-milih temen. ada temen yang dominan, dan mengatur segalanya. ada temen yang diem. tapi ini skala anak kecil. bukan kita-kita yang seengganya udah lebih paham dan reaksinya berbeda. dari 5 siswa yang ada di kelas itu, adalah satu anaknya yang kemudian keliatan murung gitu. cowo padahal. dan kemudian bilang dengan polosnya, “iya kak, aku ga suka. semuanya ngejauhin aku.” dan ketika aku menjadi bingung takut salah reaksi, aku cuma bilang, “harus saling dukung dong, kan satu kelas” dan dijawab “itu ga berlaku di kelas ini kak”. dan cerita lain, tentang anak yang dominan, yang pada akhirnya ada anak yang gamau sekelompok sama dia. pas ngerjain tugas yang dikasih, anak dominan tetep aja marah-marah dan minta anak tadi yang gamau sekelompok untuk tetep bantuin tugasnya. percayalah, guru itu hebat dengan semua muridnya. guru itu hebat!

setelah selesai memberi edukasi di kelas, kami bertemu kepala sekolah. adalah sedikit waktu kami bercerita, pun ibunya pada kami. yang nyesek adalah, ketika ibunya bilang, iyaa di desa ini memang ada beberapa orang tua murid yang ayah ibunya nikah dan kemudian cerai. pada akhirnya, anaknya tinggal sama neneknya, dan karena neneknya pun bekerja, dirumah ga ada siapa-siapa. “kurang kasih sayang”, gitu kalau kata ibu kepala sekolah. dan memang kejadian nikah-cerai ini cukup banyak terjadi di orang tua murid. sedih ya, padahal keluarga jadi dasar, pondasi utama. sekolah cuma pendukung. jangan salahkan anak yang mudah marah, ga ke kontrol, dll. mereka masih sangat-sangat-sangat bergantung pada lingkungannya. bahasan lainnya adalah ketika ibunya bilang terkait ada siswa kelas 6 yang ketahuan nonton adegan yang ga seharusnya ditonton, seks. dan, sejujurnyaaa, ini salah satu isu yang sebenarnya menarik buat aku. yap, pendidikan seks yang gimana sih yang baik untuk anak-anak. tapi yang supaya ga candu sama film-film kayak gitu, pornografi, dll yang sebenarnya ngerusak. menghadapi anak-anak, tentu perlu penanganan yang ga bisa sembarangan.

cukup dulu. besok mungkin di edit lagi. baru hari kedua. dan masih ada seminggu lebih lagi. semoga bisa ngasih sesuatu aja selama 2 minggu ini di desa.

Like what you read? Give Zulfarauj a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.