Tahan,

tulisan ini mungkin akan aku share dengan mode public di line. yap, aku mungkin akan berusaha untuk menaikkannya ke permukaan. walau, ya, aku tau, readersnya aku berapa orang sih. tapi, seengganya aku bakal coba. membuka yang ditutupi atau mungkin tak terjamah, amat sangat tak terjamah karena, media untuk menjamahnya saja tidak ada. (bakal diedit sih tapi, ini kebanyakan ceritanya)

karena emang suka cerita anaknya teh, tulisan ini ditulis ditengah kebosananku juga dalam menulis hal lain. deadline yang terus menerus diundur. data yang bingung mau diapain, rasio yang dipake beda. mau dikonversiin juga hasilnya ga seimbang. plis, seseorang atau beramai-ramai orang, ajari aku mengolah data dengan baik :( jam 21.46 sekarang, tulisan ini harus selesai jam sepuluh pokoknya! deadline hari ini harus bener-bener fix kelar, plis jul.

mulai dengan apa ya?

ada beberapa catatan yang aku ingin angkat. berhubungan dengan lembaga legislatif kampus. banyak sebenernya. tapi untuk hal yang bisa dibawa dan dibaca sama publik, mungkin beberapa aja. ga cuma lembaga legislatif, PEMIRA, dan OMEK pun bakal aku pertanyakan disini. salah satu temen pernah bilang, “ngapain masih ngurus kampus teh, padahal udah ga jabat di lingkup kampus? ngapain? kampus mah udah ada yang ngurus. teteh ngurus yang lain aja”. pertanyaan ini selalu terngiang. tapi, mungkin emang aku seneng sama hal berbau organisasi besar kayak di kampus, makanya aku selalu kepo dan selalu ingin dan ingin tau gimana kondisinya.

tiap kampus, punya budayanya masing-masing. aku paham ini. aku melihat ini walau ketika melihat kampus lain, aku ga sepenuhnya bakal tau gimana budaya kampusnya. tapi aku ngerasain banget. dampaknya? aku paham juga, mungkin hal yang diterapkan di kampus A bakal ga work kalau diterapin di kampus B, dst. tapiiii, kita tetep bisa belajar dari masing-masing kampus kok. yang jelas, analisis internal penting juga untuk dilakuin.

sejauh yang aku liat yaa, kalau di UB, betapa politik itu adalah suatu hal yang, yaa kalau dari subjektif yang sangat-sangat aku, jujur aja, aku cape ngeliatnya. terhadap organ ekstra kampus, silahkan. aku menghargai. amat sangat menghargai. pandanganku terhadap organ ekstra juga dipengaruhi oleh tulisan ini:

gausah baca semuanya sih, tapi kalau mau baca silahkan. pada intinya, aku menghargai bahwa organ ekstra akan memberikan banyak penanaman nilai, ideologi, dsb. namun, untuk poin terkait bagaimana organ ekstra ini bermain dalam tataran politik kampus, aku kadang masih belum sepenuhnya menerima. maksudku adalah, ketika jabatan kampus hanya menjadi prestige masing-masing organ ekstra. ketika mungkin, ada oknum yang memang ketika sudah menjadi pejabat kampus, mereka lantas tidak menjalankan tugasnya dengan baik. atau, ketika komposisi organ ekstra A lebih besar dalam suatu lingkup organisasi seperti BEM atau EM, maka akan ada plottingan-plottingan jabatan yang tentunya banyak dari organ ekstra A. untuk sampai tahap ini, oke mungkin gapapa. tapi, ketika mereka tidak memiliki kualitas yang diharapkan, tidak melaksanakan amanah dengan sebagaimana mestinya, atau bahkan mengabaikan amanah itu. subjektif kasar yang ingin ku sampaikan: ke laut aja!

dipilih bukan karena kualitas, bukan karena apa yang sebenarnya dibawa (visi, misi, nilai), tapi dipilih karena sedikit banyak dipengaruhi karena dia berasal dari latar belakang apa. tentang definisi adil, adilkah ini? tapi lagi-lagi, aku diingatkan dan dibenturkan dengan kata: politik. semua bisa terjadi. cape ngeliatnya :(

lanjut ke pertanyaan kali ya…

PEMIRA:

pernah liat undang-undang PEMIRA? pernah? berapa jumlah DPM yang dipilih? 13. fakultas di UB ada berapa? 15. cukup sampai disini? Dewan Perwakilan Mahasiswa. Bahkan dalam komposisi yang 13 itu tidak diatur bahwa masing-masing fakultas harus ada perwakilannya. apakah DPM dapat menjamin menjadi perwakilan mahasiswa? perwakilan siapa dan yang mana?

pernah liat petunjuk teknis PEMIRA? pernah? bagaimana keterangan “PEMILIH” dalam petunjuk teknis tersebut? menjadi sangat jelas tertulis:

setiap mahasiswa Universitas Brawijaya yang memiliki KTM aktif (mahasiswa aktif S1 dan Diploma Universitas Brawijaya) dan terdaftar sebagai mahasiswa aktif yang memiliki hak untuk memberikan suara.

okee, pernah liat AD-ART LKM kita seperti apa? pola pikir dari aku pribadi, tentunya pemilih pada PEMIRA adalah anggota dari LKM. alias, berangkat awalnya dari anggota LKM. ketika dia menjadi anggota LKM, tentunya ia sah untuk menjadi pemilih dalam PEMIRA. gitu gasih mikirnya? atau aku yang salah. oke, di keep dulu ya. ini pasal 10 BAB VI tentang keanggotaan LKM UB (AD-ART LKM UB 2016–2017):

Anggota LKM UB adalah seluruh mahasiswa Universitas Brawijaya

disitu tertulis “Seluruh mahasiswa UB”, apa ini menandakan bahwa program pascasarjana termasuk anggota LKM UB? bagaimana hak mereka? kewajiban mereka? apakah mereka memiliki hak pilih juga dalam PEMIRA? cmiiw yaa. intinya, aku meminta penjelasan lebih baik dalam AD-ART LKM :) kalau mau pinjem hashtag EM UB tahun ini #KatanyaPeduli? yaa, beginilah bentuk kepedulian aku. kecintaan aku terhadap almamater sendiri.

lanjooot yaa. masih tentang PEMIRA. pernah dengar kalau bentuk kampanye bersama dalam PEMIRA itu ada 3, debat tertutup, pawai bersama, dan debat terbuka? sampai disini, pernah ya, atau mengalamilah minimalnya. sebenarnya, kalau kita mau lebih kreatif dan kalau kata buzz lightyear mah “menuju tak terbatas dan melampauinya”, 3 bentukan itu bisa banget berubah, ya gasih?

oke, poinnya bukan disitu. aku mau bahas tentang debat tertutup. pernah mempertanyakan urgensi debat tertutup seperti apa? kenapa harus ada debat tertutup? tau siapa saja yang diundang dalam debat tertutup? pihak rektorat, DPM terpilih ditahun sekarang, dan utusan lembaga (BEM, LSO, UKM, EM). penontonnya siapa? terbatas yang diundang saja. mungkin, kalau pola pikirnya adalah mengundang yang menjadi representasi dari masing-masing lembaga yang ada di kampus yang harapannya setelah mereka melihat debat tertutup ini, mereka mungkin bisa menyampaikan pandangan mereka terhadap calon yang ada pada lembaga masing-masing sehingga peran mereka sebagai man with power bisa mempengaruhi lembaga, okee nalar ini bisa diterima. tapi kemudian, jika yang hadir dalam debat tertutup itu tidak mencapai kuorum (yaa ini penentuannya silahkan dipikirkan dan disepakati), apakah debat tertutup dapat dibuka dan berjalan dan bahkan selesai tanpa mencapai kuorum? belum ada aturan jelas mengenai hal ini. haruskah ada kuorum? kalau ga ada kuorum, aku bertanya, sebenarnya debat tertutup ini untuk siapa? walau nantinya pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan adalah berasal dari pihak rektorat, DPM tahun sekarang, terus apa? apakah pihak rektorat memiliki hak memilih? apakah pemilih hanya terbatas DPM tahun sekarang? atau debat tertutup adalah ajang pemanasan saja bagi para calon untuk menghadapi debat terbuka? hehe. jahat gasih aku nanya sebanyak ini?

kalau boleh mengeluh, ini hal yang ingin aku keluhkan. media para calon untuk dibenturkan dalam tanya jawab terbuka hanya tersedia 2 kali, yaitu debat tertutup dan debat terbuka. ketika kampanye, sekalipun mungkin ada sesi tanya jawab, tapi kita gabisa membandingkan jawaban calon yang satu dengan calon yang lain. jadi sebenarnya, proses membandingkan antar calon medianya bener-bener minim banget. terlebih ketika debat tertutup hanya bisa dinikmati oleh segelintir orang saja. intinya, aku berharap metode debat terbuka yang memfasilitasi semua calon berada pada waktu yang sama, kalau bisa diperbanyak.

suka banget denger kalau misalnya katanyaa, EM dan BEMF itu sistemnya (atau apa ya istilahnya, ga tau) itu semacam Federasi gitu, jadi serikat, masing-masing fakultas diberikan otonomi sepenuhnya untuk mengatur fakultas. tapi, kalau aku coba liat di AD-ARTnya, namanya bukan federasi atau pun serikat kok. bahkan gaada penjelasan tentang hal itu. cuma dijelasin kalau hubungan EM dan BEMF adalah konsultatif dan koordinatif.

oiyaa, kalau kemarin-kemarin ngobrol sama temen, kongres itu sebenernya lembaga atau forum sih? terus doi jawab, forum jul. tapi, pas aku baca di AD-ART LKM, disitu tertulisnya lembaga kok. “Kongres Mahasiswa Universitas Brawijaya — selanjutnya disebut KM UB — adalah lembaga tertinggi dalam kehidupan kemahasiswaan di Universitas Brawijaya;” nah, kalau misalnya lembaga, strukturnya seperti apa? bukannya cuma ada ketua dan anggota aja? apa yang dimaksud dengan lembaga tertinggi? apakah setiap ada sidang kongres, anggota kongres berkumpul secara lengkap? lagi-lagi ini tentang kuorum yaa.

mungkin sekian. informasiku masih terbatas. semua yang ku tulis mungkin bias karena… (dikalimat sebelumnya). semoga bisa sama-sama belajar yaa. aku peduli. aku ingin, ingin banget, dengan hal yang aku sukai dibidang yang gini-gini ini, aku bisa liat almamater sendiri bekerja dengan struktur yang lebih baik, pola berpikir yang lebih baik. aku peduli. dan gapeduli sama orang-orang yang ga peduli kalau mungkin bakal mikir: ngapain sih jul. tapi, aku peduli.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.