tentang seorang pemain biola

waktu itu, kalau tak salah mengingat, aku berangkat dari kosan untuk pergi ke stasiun. aku tak sendiri. ada 2 temanku yang membersamai. tujuan kami sama. surabaya. hanya saja, tempat yang kami singgahi yang berbeda. aku pergi untuk menonton basket, IBL tepatnya. 2 temanku, mereka punya tempatnya sendiri.

kami bertiga naik motor, berangkat dengan 2 motor. aku bersama temanku dengan motor yang satu, dan temanku yang satunya dengan motornya sendiri. kami pergi ke stasiun untuk menyimpan motor karena pada rencana awal, mereka berdua akan pulang naik kereta, dan setelahnya balik ke kosan dengan motor. langit mendung, kala kami menuju stasiun.

dalam perjalanan menuju stasiun, kami melewati hutan kota malabar. hutan yang bagiku, sebenarnya masih jauh dari ekspektasi kata “hutan”. hehe, ini jahat sih. tapi, jika membandingkannya dengan taman lansia bandung, sepertinya tak jauh berbeda. tapi penyematan kata hutan itulah, yang memang terkadang membuatku bertanya. mungkin, memang fungsinya yang berbeda. atau… aku tak ingin membahasnya. setidaknya, ada ruang terbuka hijau di malang.

hutan kota malabar, mendengar kata itu aku teringat tentang salah satu ceritanya tentang pengelolaan hutan kota tersebut. oke, bukan hal ini yang ingin ku tekankan pada tulisanku ini. tapi tentang seseorang, pemain biola, yang kemudian dalam keadaan langit mendung, dan suasana yang sepertinya cukup dingin, ku lihat di hutan kota malabar dalam perjalananku menuju stasiun.

hanya bisa tersenyum memandanginya walau hanya dalam satuan detik. bagaimana tidak? ditengah cuaca yang sedemikan adanya, ada seseorang pemain biola, duduk sendirian dan kemudian melantunkan nada dengan biolanya, di tengah hutan kota.

aku tak ingin berkomentar tentang bagaimana dia berlaku demikian. yang aku aamiini disini adalah, bahwa setiap orang punya cara uniknya masing-masing untuk menggunakan waktunya. terutama waktu luang. apakah ia sedang mencari pencerahan nada ditengah cuaca yang tak dibisa dibilang cerah itu? apakah ia menguji keberaniannya untuk tampil dengan cara membiolakan di tengah hutan? apakah ia hanya ingin menikmati sore mendungnya sendirian? bukan hanya laku, bukan hanya laku yang unik yang dimiliki masing-masing orang, tapi juga tujuan berlaku tersebut.

terimakasih ku ucapkan, untuk sang violinis (pemain biola) sore mendung itu. ada banyak hal kecil remeh temeh dalam hidup yang membuat hidup lebih terasa hidup. dan bagiku, lewat sang violinis tersebut, aku menemukan salah satunya. dalam kesendirian terkadang kita, atau jangan kita deh, terkadang aku, merasa tak ada yang spesial dalam menjalani hidup. tapi dengan mengamati, terkadang bisa lebih “oh” lagi. walau hal ini, tentunya dipengaruhi oleh semua rasa dan pikiran di masing-masing orang. bahwa kita hidup. dengan sebenar-benarnya hidup. apa itu? find with your own self :)

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Zulfarauj’s story.