tiga adik kecil untuk senyumku hari ini

gatau kenapa, semester ini ngerasa ada yang beda aja. lebih baik? mungkin tidak. kemampuan berbicara yang menurun. dan ini mau ga mau pasti berpengaruh sama kehidupan kampus. ya, secara, konsep belajar dari semester kemarin kita lebih banyak bicara daripada dengerin dosen. diskusi lebih tepatnya. kenapa jul? sana belajar bicara lagi.

disini, aku mau nge-note, kalau seburuk-buruk hari, yang mungkin aku rasain, Allah selalu ngasih orang-orang yang bahkan aku ga kenal sekalipun untuk buat aku senyum. kayak yang tadi terjadi misalnya.

tiga anak sekolah dasar, siswi-siswi kecil yang berseragam merah putih itu, berpapasan denganku, diperjalananku menuju kos, diperjalanan mereka menuju rumah masing-masing. tingginya mungkin setengah dari tinggiku, mungkin lebih sih. (secara, manusia macam aku ini hanya setinggi… sekian). sesederhana bertemu mereka, dengan seragam merah putihnya, senyum itu terjadi. mereka sempat bercakap, “kalau kuliah, kalian mau kuliah dimana?” “aku uin”, “aku …”, “aku …” hanya sedikit yang kudengar dari hasil papasan dengan mereka. bisa dibayangkan? di usia sedemikian mudanya, mereka dengan pemikiran-pemikiran yang masih tanpa beban itu, sudah bertanya satu sama lain akan kuliah dimana. reaksi yang terjadi, sedikit tertawa sepertinya menjadi bentuk ekspresiku. semacam: adik-adik kecilku, jujur aku tercengang mendengar percakapanmu. kuliah itu masih sangat jauh dari tahapmu yang sekarang. nikmatilah masa kecilmu. walau memang, tak ada yang melarang untuk bermimpi, bahkan tak ada yang melarang untuk bercakap. hanya saja, apa yang mereka bicarakan menjadi suatu hal yang lucu untukku.

terima kasih ya Allah, telah mengirim tiga adik kecil itu untuk bertemu denganku, dan membuat hari yang mungkin tidak terlalu baik ini bagiku, masih bisa ku menangkan dengan senyuman sederhana ini.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Zulfarauj’s story.