Zury Muliandari
Aug 29, 2017 · 1 min read

Aku tahu, ini masih terlalu pagi untuk sebuah puisi. Tapi aku ingin membuatkannya satu; untukmu lagi.


kamu boleh membayangkan tulisan ini ikut turun bersama hujan deras yang sedang mengguyur atap rumahmu

lalu satu persatu, kata-kataku menetes di kornea matamu, menerobos genteng kamarmu yang anggap saja sedang bocor

kemudian; kalimatku membasuh seluruh tubuhmu,

hingga jarak kurang lebih seratus sembilan puluh kilometer ini habis kutempuh lewat puisi

kau boleh juga membayangkan tulisan ini disuguhkan dengan secangkir coklat panas oleh si bibi

silahkan kau habiskan, sambil melamunkan tarian hujan sore tadi

Atau,

biar aku yang menjadi bayang; dalam bentuk bulan sabit di kamera handphonemu kemarin malam

karena, aku dan kamu hanya bisa saling "membayangkan"

selebihnya menerka, menduga, dan tak sampai kepada; menjaga.

ah, ini tidak seperti puisi

tapi lebih mirip sebagai ungkapan seorang aku; yang sedang jatuh hati


dan hey, selamat pagi😉❤

)

    Zury Muliandari

    Written by

    Perihal pekerjaanku; menjadi penulis untuk kantor di kepalamu.

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade