Bagaimana puisi bisa membuat rajin dan malas pada dimensi waktu yang sama?


Saat saya menulis (baca;mengetik) kalimat ini, saya sudah resmi menyandang status sebagai seorang mahasiwa. Dan seingat saya pula, ini adalah tulisan buruk pertama yang lancang saya buat setelah memperoleh status tersebut, maka ada harapan liar yang menginginkan tulisan ini dapat lebih baik dalam segi kaidah dan isinya. hehe

Ada pendewasaan yang terus mengalir dengan derasnya pada setiap lini kehidupan saya sebagai secuil mahasiswa baru. Dengan tidak melawan arus, saya tetap belajar menyeimbangkan bagian-bagian yang timpang.

Puisi, adalah ornamen penting yang mengambil banyak bagian dari hidup saya sejak SD sampai---sekarang. Semacam ada keterkaitan emosional yang tajam antara; kata dan saya.

Yang saya amati, banyak orang memahami puisi hanyalah sebatas ruang galau nan hampa atau sekedar majas-majas rumit yang kuno. Padahal, saya merasakan esensi yang luar biasa keren akibat candu terhadap salah satu karya sastra itu.

Sesuai dengan judul di atas, saya akan menuliskan sedikit efek samping yang kira-kira akan kita temui jika; menjatuhkan hati pada bait puisi.

Yang pertama; Rajin

Saya tidak bisa menjelaskan secara gamblang mengenai indikasi yang satu ini. Hanya saja, saya mendapati diri saya yang secara tiba-tiba menjadi manusia super rajin dalam hal mengorek-ngorek dunia kesusastraan sejak mengenal puisi. Menurut saya, diksi yang indah dalam bait puisi menjelma sebagai suplemen handal yang akan membuat pembaca kemudian berkelana pada bacaan-bacaan lainnya.
Jika menyadari posisi Indonesia sebagai negara yang terkategori dalam ‘negara berpenduduk malas baca’ saya kira, jatuh cinta dengan puisi dapat menjadi ‘solusi nakal’ versi saya untuk meningkatkan minat baca generasi muda. Karena saya meyakini, untuk menjadi pencandu buku kita tidak bisa memaksa seseorang agar langsung suka pada artikel-artikel ilmiah maupun buku-buku sejarah. Kita dapat memulai dari tulisan-tulisan yang ringan, seperti puisi.

Rajin dalam konteks yang saya tuliskan ini mencakup ranah luas. Dapat diartikan juga sebagai rajin mengkritisi lingkungan, karena puisi lahir dari entitas yang kita pikirkan dan kita perhatikan. Berdasarkan pengamatan saya, hal tersebut membentuk karakter penikmat puisi menjadi manusia yang peka terhadap semestanya.

Misalnya saja saat menemukan puisi tentang tarian angin, tangisan hujan, senyuman langit, aspal yang basah, rintihan pedagang bakso, teriakan bocah putus sekolah, atau negara yang miskin.

Kata-kata tersebut dapat merepresentasikan bahwa penulisnya mampu menyadari dan meresapi fenomena-fenomena sosial yang berkembang. Hal tersebut menjadi hal yang sangat esenssial dan belum tentu dapat dipahami oleh semua orang. Jadi tidak ada salahnya untuk rajin berpuisi, karena kamu akan rajin pula mencermati bagian-bagian yang tersembunyi dari kacamata dunia ini.

Yang kedua;Malas

Mengapa malas? Karena ketika saya menulis huruf ini, saya sedang sangat malas untuk membaca dan menulis. Tapi karena saya malas; maka saya menulis. Sebab saya ingin membaca bagaimana kemalasan saya dapat bekerja.

Ini yang saya maksud bagaimana puisi dapat menjadikan saya rajin dan malas dalam waktu bersamaan.
Ketika saya malas, saya akan berpuisi. Berpuisi tentang kemalasan saya, tentang kebodohan saya, tentang kalimat yang isinya menertawakan diri saya. Namun tanpa disadari, saya telah menghasilkan satu karya lagi akibat kemalasan itu.

Jadi, malas tersebut dapat berubah maknanya menjadi rajin yang terselubung. Ehehe.

Sekian tulisan ini saya buat, tidak bermaksud menggurui atau menyombongkan diri. Karena saya hanya ingin berbagi☺Maaf sudah membuang waktu anda, semoga bermanfaat.

***

Kamis pagi, di bawah langit kost-an tanpa laba-laba.
14 September 2017.


~Ranting~

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.