Begini kira-kira; Kita enggak akan pernah benar-benar siap untuk apapun, yang ada kita 'memaksa' siap atau 'terpaksa' siap.

Zury Muliandari
Jul 25, 2017 · 2 min read

Dear, sahabatku💞

Pertama, aku minta maaf belum sempat membalas pesanmu itu. Lebih tepatnya, aku memang sengaja membiarkanmu untuk puas merayakan kesedihan hari ini.

Aku mengantongi kekecewaan di raut wajahmu yang saat ini tak bisa langsung kupandang. Dadaku jelas mendetakkan irama kesal atas permintaan maaf dari PTN yang enggan menerima mahasiswi cantik sepertimu. Ah, bolehkah kupecahkan piring-piring di rumahku agar emosi ini tak meledak di hati?

Hey, jangan menangis! Lebih baik simpan air matamu untuk histeris atas eforia bahagia saat kelak kau bisa menonton konser sang idola!

Sahabatku, kenyataan memang begini pahitnya.

Beberapa "ingin" memang mesti diterpa angin kencang di musim dingin. Hingga tubuhmu menggigil saat kau bahkan sedang tak punya sehelai kain untuk berselimut. Hingga bibirmu kelu tak sanggup menelan takdir yang sungguh pilu. Hingga kau, membunuh pelan mimpi-mimpi yang mengalir di tubuhmu.

Lalu, kau ingin apa sekarang? Buah-buahan tampaknya tak lagi terasa manis di lidahmu. Seblak favorit itu pun seperti kehilangan rasa pedas di rongga mulutmu.

Sudahlah, telan saja.

Kunyahlah apapun yang sekarang disuguhkan semesta di meja makanmu. Sebab hidup bukan restoran yang menunya bisa sesukanya kita pesan.

Sebab hidup seringkali bertolak-belakang dengan rencana-rencana yang kita buat. Seringkali merobohkan istana bahagia yang sudah menjulang ke langit sana.

Sahabatku, akui saja bila saat ini mampumu hanya menerima.

Karena sekuat apapun penolakanmu, penyangkalanmu, tak akan memengaruhi garis takdir merubah arahnya.

***

Sahabatku, kita hanyalah pejalan kaki di bumi ini. Kita tak pernah tahu kapan kita jatuh, kapan kita tersandung batu, kapan kita terinjak kotoran sampah, dan kapan kita sampai ke destinasi paling indah.

Jika hidup ini adalah sebuah perjalanan, maka tugas kita hanya berjalan, bukan? Tak usah terlalu peduli dengan kekhawatiran dan kesuksesan orang-orang. Lihatlah ke depan, masih banyak tantangan yang menanti dimenangkan.

Biarlah hari ini menjadi gagal.

Biarlah hari ini menjadi bekal.

Kau terlalu hebat untuk menyerah, maka jangan lakukan itu!

Ingatlah; selalu ada keselamatanmu di ujung sajadahku. Tetaplah tuntun hatimu untuk berdamai dengan kenyataan. Biarlah ia menjadi mengesalkan sekaligus mengesankan:)

Aku tak mau tau, kau harus bahagia.

Zury Muliandari

Written by

Perihal pekerjaanku; menjadi penulis untuk kantor di kepalamu.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade