Hey, apa kabar dengan langitmu?

Zury Muliandari
Jul 23, 2017 · 2 min read

Hari ini aku sedang memutar ulang suaramu saat kau bilang bahwa dirimu ialah pengagum langit. Seingatku aku bertanya, "langit yang seperti apa? langit biru? ataukah langit jingga?". Dan katamu, kau tak pernah mau tahu seperti apa ia.

Kau mencintai langit tanpa peduli warna dan waktu.

Kau suka langit kala ia ceria, pun saat ia berduka. Kau bisa sangat terpesona pada wajah langit ketika pagi menyapa, atau ketika siang menyilaukan mata, atau ketika sore menampilkan romantisme senja.

Katamu, kau ingin sekali memotret langit dari gedung paling tinggi di kota Jakarta.

Tapi kalau hal itu tidak terjadi karena kau terlalu malas untuk naik tangga, kamera di atas meja belajarmu tetap meminta mengabadikannya dari jendela kamar di rumahmu yang berlantai dua.

Hm, aku lupa bertanya lagi; bolehkah aku ikut denganmu? Ikut menatap dunia di bawah langit yang sama. Mungkin kita bisa saling bertukar cerita. Sambil kau memotret langit, dan aku juga memotretmu yang tengah serius memegang kamera. Hingga mata kita berjumpa di satu panorama megah milik semesta. Aku pasti akan langsung menundukkan kepala dan kuyakin kau malah mendongakkannya.

Kau tahu? Saat kepalamu sedang menengadah ke atas, saat itu aku tengah berdoa agar langit selalu melindungimu dari teriknya luka.

Agar langit selalu mau menjadi tempat terluas untuk kau berdansa tatkala kesedihan akan dengan sengaja merayumu untuk berduka.


Hey, apa kabar langitmu?
Di sini langitku sendu. Mungkin, ia sedang merindukan langitmu.


~Ranting~

Zury Muliandari

Written by

Perihal pekerjaanku; menjadi penulis untuk kantor di kepalamu.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade