
Kalem (PART 4)
"Kata ibu, untung bapak ngga ninggalin ibu. Kalo bapak ninggalin, dulu ibu sama siapa, cowo blasterannya kan akhirnya pindah ke Jakarta." -Gio-
Bandung kembali menjadi rumah untuk dua anak manusia yang dihatinya sedang dimekarkan sekuntum rasa. Kembali mereka harus menuntaskan urusannya masing-masing.
Terbenam dalam mentari yang terbit dari sekotak mimpi-mimpi indah untuk masa depan. Untuk tumpukan rencana yang menanti diperjuangkan.
***
Sebuah studio musik dengan ornamen klasik khas tahun 90’an sudah menjadi destinasi Yuli sejak awal masuk SMA. Di sana, ia merasa memiliki dunianya yang berbanding terbalik saat tengah berlarian di lapangan basket. Di studio itu, nyawanya berhembus merdu dengan oksigen seni, terasa lebih hidup.
Sebagai anak band, tentu ia dikelilingi banyak teman pria. Dan sebagai seorang remaja wanita, seringkali jantungnya berdegub tak beraturan tatkala salah seorang teman lelakinya yang bernama; George, berkali-kali terperangkap memandang matanya.
Yuli berusaha menampik hal itu dengan selalu mengingat Natara. Mengigat, betapa pria itu menjaga dan mencintainya. Akan tetapi semakin hari pula, Natara semakin tenggelam dengan kesibukannya. Pun George, semakin rajin untuk hadir mengisi waktu luang Yuli.
Yuli paham, hatinya tengah diuji dengan harga dari sebuah percaya.
***
"Kalau aing ajak nonton, kamu mau ngga?"
Begitu ucap Natara pada kekasihnya setelah hampir sebulan mata mereka tak saling menyapa.
"Yaa mau atuh"
***
Untuk sampai di bioskop paling hits di kota kembang itu, mereka tak perlu naik angkutan umum. Cukup berjalan kaki menyusuri alun-alun kota yang asri. Hingga keduanya melewati sebuah GOR yang biasanya ditongkrongi Yuli dan teman-temannya. Kebetulan, saat itu ada George terlihat di sana.
Yuli mulai panik, wajahnya kemudian berwarna merah jambu yang membuat tingkahnya menjadi lucu. Tapi, tak ada jalan lain menuju bioskop. Mau tidak mau, mereka tetap harus melewati GOR tersebut.
Jrenggggg
"Yuli, Yuli..."
Yuli tak bisa menahan suara yang telah terlanjur merambat ke udara itu, ia pasrah dan menutup wajah cantiknya dengan kedua telapak tangan.
"Yang itu siapa sih ada yang manggil-manggil, temen kamu ya?" Tanya Natara.
Yuli menggeleng, kemudian mengangguk. Dalam hatinya;
"Itu George, dia ingin sekali menjadi pacarku, dan aku menyukainya."
bersambung
~Ranting~
Image from instagram
