Zury Muliandari
Aug 8, 2017 · 1 min read

Ku pikir, sendiri di kedai kopi lebih tentram ketimbang sendiri di ruangan berarsitektur muram dengan bayanganku yang kelam.

***

Aku ingin waktu masuk kuliahku dipercepat, aku ingin segera; mengingat puluhan nama lain dan mempersilahkan mereka mengenalku, lalu singgah di pintu kehidupanku.

Beberapa mungkin akan pergi sebelum berniat mampir, yang lain bisa saja berbaik hati untuk mengetuk dan masuk. Atau, ada yang rela menetap untuk kemudian meninggalkan dengan sepotong gelap.

Jengah aku dengan hari ini atau esok yang akan seperti ini lagi. Bertukar cerita dengan selimut, senyum-senyum dengan layar ponsel, dan menggigil setelah mendengarkan lagu-lagu indie yang rasanya ngilu.

Liburan tak pernah senakal ini. Terlalu mengganggu sarafku yang seperti beku.

Ah, aku ingin rapat.
Aku memang sok sibuk. Aku memang begini. Aku benci waktu-waktu yang diisi hanya dengan aku sendiri, sepi.


~Ranting~

    Perihal pekerjaanku; menjadi penulis untuk kantor di kepalamu.

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade