terimakasih, karena sudah singgah dan bermakna
Sekarang hari Kamis, tanggal 7 November 2019. Dan kalau kamu ingat, di hari Kamis tanggal 17 Oktober yang tentunya di tahun yang sama, aku ngajuin permintaan agar kamu mau direpotkan dengan menjawab 1 pertanyaan random dari isi kepalaku setiap harinya. Yang akhirnya .. ngga setiap hari juga sih nanyanya wkwk tapi setidaknya, keinginanku untuk mengetahui beberapa hal dari sudut pandangmu sudah ditunaikan dengan baik oleh kinerja takdir yang apik.
Sebelum hari esok tanggalnya menjadi genap, aku ingin sebentar membaca ulang lalu menulis sedikit kesimpulan dari jawaban-jawaban itu. Dan semoga, tiap kalimatnya memiliki kekuatan untuk memperluas cara berpikirku yang sepertinya masih sangat sempit, hehe.
Waktu itu aku iseng nanya gini, “bagian paling nyenengin jadi manusia itu, apa sih kak?” keisengan ini lahir karena aku sedang rajin menyimak platform digital @menjadimanusia entah itu mendengar podcastnya, menonton kanal youtubenya, juga menyukai postingan foto di instagramnya. Setiap cerita yang dibagikan platform tersebut seperti punya makna mendalam untuk selalu ingin aku renungkan. Makanya, aku nanya pertanyaan itu ke kamu. Pengen tau banget, gimana sih menjadi manusia yang menyenangkan versimu. Lalu ternyata dengan singkat dan sederhananya kamu jawab, “sudah bisa hidup jadi manusia aja, itu udah seneng” aku diem. beberapa detik berusaha menahan senyum saat membaca jawaban itu. Sambil megang henfon dengan kepala mengangguk-ngangguk, aku membatin, “iya juga ya”
Kemudian kamu mengirim stiker, dan aku tidak mau membalasnya dengan stiker juga, karena aku ngga punya stiker yang bagus, haha. Tapi kemudian aku bertanya lagi, supaya kamu ngejelasin maksud spesifiknya itu gimana. Kemudian kamu pun mengetik, “karena ngga seperti hewan. Seneng karena kita memiliki apa yang tidak dimiliki oleh ciptaan lain. Dan bisa ngapain aja sesuka kita, tapi kalo salah pasti bakal zonk masuk hell.” nah, abis baca itu aku nggak senyum lagi kaya tadi. aku mikir, kayanya ngga adil kalau rasa senang itu dianalogiin sama hewan, karena ya pasti konteksnya akan berbeda. tetapi aku setuju sama kalimatmu yang ngasih makna kalau memang manusia itu kadang suka menyalahgunakan kebebasannya, sampai lupa, ada neraka yang sudah menanti hidupnya setelah di dunia. Ya, termasuk aku. Aku masih sering bandel, masih nakal. Tapi nggapapa, itu proses, dan aku menghargai prosesku. Dan, dari pertanyaan ini juga aku belajar, untuk sebuah jawaban menyenangkan menjadi manusia itu ternyata nggak cuma tentang perasaan seneng-senengnya aja, tapi gimana cara kita untuk bisa mempertanggungjawabkan kesenengan itu setelah nanti kita tidak lagi diberi kesempatan dan waktu untuk menjadi manusia. Hm, makasih ya. Jawabannya bagus.
Lalu di pertanyaan selanjutnya, kamu menjawab 3 hal penting yang harus dimiliki oleh seorang perempuan. Aku nanya gini, ya karena aku perempuan. Dan aku, kepo aja, perempuan seperti apasih, yang akan penting untuk kamu pikirin. Ternyata, 3 hal itu adalah malu, izzah, dan hijab. Jujur, malam itu aku menangis saat mengetahui jawabannya. Aku ngerasa, 3 hal tersebut, jauh banget dari diri aku. Bahkan aku sempet mikir, “berarti gue senggakpenting itu ya? karena bahkan gue nggabisa melihara dengan baik 3 hal yang disebutin tadi” tetapi aku memang sering begitu, menangis untuk hal-hal yang menghukum diriku sendiri. Dan lagi-lagi nggapapa, aku masih akan terus belajar supaya menjadi penting dari versiku sendiri, dan semoga versinya nanti juga sama dengan yang penciptaku suka. Amin.
Ohiya, soal menangis, aku dulu sering loh nangis waktu upacara di sekolah. Dari sd sampe sma, aku mataku beberapa kali berkaca-kaca kalau lihat bendera merah putih sedang dinaikkan ke tiangnya. Tangisan itu, kadang berarti bahagia karena aku seseneng itu dilahirkan di indonesia. Aku suka sama indonesia, langitnya bagus, cocok untuk dipakai menengadah kalau segala masalah sedang rumit-rumitnya bikin kepala pecah. Tapi kadang aku juga sedih, karena aku ngerasa belum bisa jadi warga negara yang baik untuk indonesia. Masih suka ngelanggar rambu lalu lintas, dan pelanggaran2 lain yang mungkin bikin indonesia kecewa sama rakyatnya yang kaya aku. Makanya waktu itu aku nanya, kenapa sih kita harus sayang sama indonesia? Dan jawaban singkatmu lagi-lagi membuatku diam, dan tentunya merenung. Katamu, “cinta tanah air itu bagian dari iman” sejak jawaban itu kuterima, rasanya aku semakin ingin berlarian di kepalamu. Menemui apa saja yang menjadi definisi dan makna tentang berbagai hal menarik di tubuh semesta. Dan saat itu juga aku janji pada diriku sendiri untuk setiap hari jatuh cinta dengan indonesia, karena itu adalah cara yang seru untuk merawat iman.
Kemudian aku kembali tahu sesuatu lagi, tentang hal apa yang menurutmu paling sederhana. Dan ternyata, tidak ada. Tidak ada yang ‘paling’ karena semuanya adalah sederhana. Katamu, bernafas itu sederhana, berpikir itu sederhana, tetapi akan jadi ribet untuk orang yang menjalaninya dengan sia-sia. Hm, yaudah, aku nggabisa bantah. Karena memang seperti itu adanya. Bahkan aku setuju yang kau bilang, berdoa yang menurutku adalah sesuatu yang sederhana, pun akan menjadi rumit untuk mereka yang memilih tidak percaya Tuhan dan agama. Tentang ini, aku jadi teringat bait puisi pak sapardi dalam bukunya yang berjudul hujan di bulan juni, iya juni, bulan kelahiranmu, juga bulan yang aku sukai. Begini puisinya,
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.
Skip, lalu di hari esoknya aku bertanya seperti ini “kak, kk pernah nggak bohongin diri sendiri?” terus kamu balas, “iyah” aku penasaran, “gimana contohnya?” kamu bilang, “Sperti pokonya gua g mau bohong lagi. Eh besok ny bohong” haha. Jawaban itu plin plan sekali, menunjukan sisimu yang lain. Yang ternyata tidak sejujur itu dengan dirimu sendiri. Tapi tak apa, semua orang begitu. Semua orang, selalu lebih mudah jujur dengan orang lain daripada jujur dengan dirinya sendiri.
Pada pertanyaanku selanjutnya, kau memilih untuk menjadi langit, dan tidak berminat ku ubah menjadi bumi.
Katamu, “langit tuh luas. Ada 1–7 lapis langit. Dan langit memberikan keindahan ke bumi. Tp bumi ga ada dampaknya ke langit”
Kujawab “tapi ya… bumi transfer doa terus loh ke langit, jadinya itu bikin langit ngga lupa buat jagain bumi wkwk baik kan bumi jadi pengingat langit”
Kau bilang, “iya kan itu bagaimana bumi. kalau bumi baik, langit akan baik. kalau bumi tdk baik ya langit akan sama” iya, aku belajar dari sana. Bahwa kebaikan akan selalu bertemu dengan kebaikan. Dan itu, akan selalu, begitu. Tetapi mungkin kau memang cocok jadi langit, yang begitu jauh dan sulit untuk direngkuh. Sementara aku lebih nyaman menjadi bumi, menjadi pengagummu dari jauh.
“kak, kenapa manusia harus sayang sama dirinya sendiri dulu baru boleh sayang sama orang lain?” di suatu hari aku bertanya itu.
“Simple sih. Ama diri sendiri aja g sayang, apa lagi sama org lain. Cuma dimulut aja kali”
Tapi kali ini, aku nggak begitu suka dengan jawabanmu. Seolah olah, orang yang belum tahu dan belum menemukan celah untuk mampu mencintai dirinya sendiri tak layak untuk menyayangi orang yang di luar diri dia. Sementara kita tau, cinta itu bisa berentuk apa saja, dan sayang bisa sama siapa aja. Kalau dengan menyayangi seseorang jusru membuat ia makin menyayangi diri sendiri, kenapa tidak? Segala hal yang aneh itu mungkin terjadi, termasuk tentang bagaimana cara seseorang menemukan cara menyayangi dirinya sendiri sekalipun pada cermin orang lain.
Hm, berikutnya aku menanyakan hal yang klise tapi mengganggu. Itu tentang uang. Tentang apa artinya uang bagimu.
Hm, ternyata untukmu, uang adalah hal yg menyebalkan sekaligus menyenangkan. Menyebalkan krena semua perlu duit dn merubah seseorang dengan cepat bila … Bila ia tdk dalam lingkaran tarbiyah atau iman yang kuat.Menyenangkan karena dengan uang kita bsa beli barang atau makanan yang ingin kita beli. intinya uang bukanlah segalanya. Tp segalanya butuh uang.
Pertanyaanku dan jawabanmu memang benar-benar klise. Tetapi kadang, yang klasik itu benar. Seapa adanya itu memang. Uang merubah banyak hal dalam diri manusia. Tetapi manusia harusnya selalu lebih mampu mengendalikan uang, karena manusia jauh lebih bernilai dan berharga dari sekedar hitungan angka.
ah, aku bingung mau bilang apa lagi
terimakasih ajadeh, karena sudah singgah dan bermakna. hehe
