Sebuah Dongeng Pengantar Bangun
Ada banyak film yang membekas lama di balik kelopak mata saya. Kebanyakan malah film non Hollywood. Dari yang klasik seperti Cinema Paradiso dari Italy. City of God nya Brazil, Innocent Voice produksi Mexico , Welcome To Dokmakgol dari Korea, atau yang terbaru The Teacher Diary yang editingnya keren banget dari Thailand.
Dari sedikit film Hollywood yang berkesan, saya masih mengingat Lord Of War yang dibintangi Nicholas Cage. Keren banget jadi pedagang tapi yang dijual tank dan pesawat☺
Ternyata di dunia nyata, ada seseorang yang mirip Yuri Orlov yang diperankan Cage. Tapi yang ini dari cerita yang beredar, bukan cuma jualan senjata dan ‘membantu’ perebutan kekuasaan lewat perang, tapi juga berada di balik kemenangan seorang presiden lewat pemilu. Tidak hanya itu, setelah pemilu berakhir, dia dengan kekuatan modalnya bisa memonopoli konsesi mineral termasuk minyak dan poyek-proyek infrastruktur dari negara-negara itu.
Yuri Orlov perlu belajar banyak dari Sam Pa yang punya banyak nama alias: Sampa, Samo, Sam King, Sa Muxu, Xu Songhua, Xu Jinghua, Ghui Ka Leung.
Konon, dia anak seorang yang punya link berpengaruh di Partai Komunis China, yang pernah menerima pendidikan Soviet academy di Baku. Di sekolah inilah dia mengenal Jose Eduardo Dos Santos, yang di masa depan menjadi Presiden Angola. Saat perang sipil Angola, SP mulai memasok senjata. Persis koneksi Yuri Orlov dengan diktator Liberia Andre Baptiste Sr, kalau dalam film. Ketika perang sipil selesai dan Jose jadi presiden, Sam Pa kemudian menguasai minyak dan memonopoli proyek2 infrastruktur di Angola.
Sam Pa diduga menjadi presdir dari holding company yang sering hanya dijuluki “88 Queensway Group” karena kantornya ada di Two Pacific Place, 88 Queensway, Admiralty, Hong Kong. Majalah The Economist malah menyebutnya “Queensway Syndicate”. Seperti orangnya, perusahaannya pun misterius. Saat ini dunia ‘bisnis’ lebih mengenal mereka sebagai China International Fund (CIF) atau China Sonangol.
Sepak terjang CIF menemukan ladang di Afrika seperti tumbu ketemu tutup. Investor yang sangat ambisius mencari pasar bertemu dengan negara-negara miskin, korup, dan lemah yang butuh modal dan hutang. Dari Angola, meraksasa China Sonangol yang menikmati banjir minyak di lepas pantai Angola. China Sonangol membeli minyak dari Angola dengan kontrak jangka panjang harga murah dan fixed sejak 2005. Mengingatkan kita pada kontrak gas Tangguh yang sampai hari ini begitu menyesakkan dada kita. Kontrak ini menjadikan Angola suplier minyak terbesar Cina selain Saudi.
Setelah Angola, CIF melanjutkan ekspansinya ke Guinea dan mendirikan African Development Corporation (ADC) dengan 85% saham, 15% sisanya dimiliki pemerintah Guinea. Kerjasama ini membuat CIF mempunyai hak ekslusif pada konsesi tambang termasuk minyak di Teluk Guinea. Imbal baliknya, CIF menginvestasikan $ 7 miliar pada infrastruktur. Template.
Selain bermain di ladang bisnis, CIF diduga jadi beking rejim Robert Mugabe di Zimbabwe. Kemenangan Robert Mugabe dalam pemilu terakhir 2013, ditengarai berkat sokongan dana yang besar dari CIF. Menurut Global Witness, Dana sebesar $ 100 juta disumbangkan untuk merusak karir politik kandidat pesaing melalui misi rahasia dengan sandi ‘Spiderweb’ dan ‘Blackhawk’. Sukses besar. Mugabe meneruskan kediktatorannya sampai hari ini. Lalu dengan template yang sama seperti China Sonagol dan ADC, CIF membesarkan Sino Zimbabwe yang punya hak ekslusive mengekstrak minyak dan gas, emas, platinum dan kromium dari tanah Zimbabwe. Imbal baliknya, CIF menjanjikan pembangunan rel, bandara dan perumahan rakyat senilai $ 8miliar. Template.
Apakah CIF ini lembaga resmi pemerintah China? Ternyata kebalikannya, CIF adalah sebuah private company yang dijauhi pemerintah. Bahkan Menlu Li Zhao Zing pernah mengingatkan Presiden Argentina, Kirchner untuk berhati-hati melakukan kesepakatan bisnis apapun dengan CIF. Dari bocoran wikileaks kita juga bisa membaca komentar Dubes untuk Angola Bolum Zhang yang menjaga jarak dengan CIF dan mengomentari CIF “weak management and lack of leadership have stalled many… projects”.
Tapi bagaimana sih kualitas proyek-proyek CIF di Afrika? Ceritanya panjang sekali. Salah satu versinya bisa dibaca langsung di sini: http://www.foreignpolicy.com/articles/2008/04/10/when_china_met_africa
Ambil contoh satu saja, proyek rel kereta api di Angola antara Mobito-Zaire, Setelah sebulan membangun camp, para pekerjanya bukan melanjutkan membangun rel tapi membongkar camp, memakan anjing mereka lalu pergi. Kontrak senilai 2 miliar dolar dibatalkan begitu saja.
Kesimpulan dari berbagai proyek CIF di Afrika: Hubungannya terus memburuk karena kualitas proyek yang rendah, proyek-proyek yang dicancel, juga sumber daya alam yang dibeli dengan harga yang terlalu murah. Bahkan di Angola, berdasarkan klaim Jenderal Fernando Miala sang kepala intel, ada dana investasi infrastruktur 2 milyar dolar yang hilang dan ditranser ke sebuah rekening pribadi di Hongkong.
Karakter SP ini maya atau nyata? Sam Pa yang diduga presiden dari CIF tak pernah ada dalam dokumen resmi perusahaan. Dalam dokumen yang menjadi director adalah Veronica Fung, yang diduga adalah istrinya. Direktur-direktur lainnya pun misterius, bahkan ada direktur yang alamat rumahnya dalam dokumen perusahaan ternyata kantor the Ministry of Public Safety (MPS).
Cerita tentang SP dan CIF yang misterius ini mirip dongeng memang, tapi dongeng seperti ini bisa jadi tamparan kita untuk tetap waspada.
Apa hubungannya dengan kita? Dengan Indonesia?
Ini karena awal November pemerintah kita berencana mengimpor minyak dari Sonangol dan secara ‘kebetulan’ sehari setelahnya CIF menandatangani MOU misterius di depan beberapa menteri dan dirut BUMN. Proyek pembangkit listrik, tol dan rel kereta api akan diberikan oleh Pemerintahan Jokowi-JK ke CIF!
Templatenya sama, menjanjikan pembangunan infrastruktur. Yang jadi pertanyaan: Apa yang mereka incar dari Indonesia?
Setelah membaca dongeng ini, mohon jangan tidur. Kucek-kuceklah mata Anda dan pastikan lebih waspada.
Wake Up Indonesia!
source:
The Queensway Syndicate and the Africa Trade
Made In China: The Secret of Mugabe Success