Semangat Juang Kambing Hitam

(Surat Suporter Untuk Jusuf Kalla)

‘’Bukan salah PSSI, mau diganti kayak apapun, semangat juang dan tempat latihan yang kurang,’’ Jusuf Kalla tentang wacana pembekuan PSSI.

___________

Pak JK yang saya hormati. Saya memahami kalau Pak JK tidak setuju PSSI dibubarkan berdasarkan pemahaman bapak. Pak JK lebih menyoroti masalah semangat tanding sebagai penyebab utama kekalahan timnas, mungkin karena pengaruh menonton kekalahan 0–4 atas Filipina saja.

Tapi ijinkan saya menyampaikan apa yang selama ini saya pahami. Pemahaman karena kesetiaan mengikuti perkembangan kompetisi sepakbola lokal dan nyaris tak pernah melewatkan berita dan pertandingan timnas. Di segala jenjang usia.

Benar bahwa semangat tanding timnas tampak payah pada AFF tahun ini. Apalagi saat kalah 0–4 dari filipina yang juga ditonton Pak JK. Tapi kenapa pemain fisik dan staminanya kedodoran mungkin Pak JK belum tahu.

Para pemain itu kepayahan karena tenaganya sudah terkuras habis oleh kompetisi panjang yang baru selesai 2 minggu sebelum AFF. Kompetisi kita bisa jadi merupakan kompetisi terpanjang di dunia. Dimulai 1 Februari, dan diakhiri pada 7 November 2014.

10 bulan!

Itupun dengan jadwal amburadul dan dipenuhi banyak perubahan yang tak penting. Contohnya, meskipun tidak ada satupun pemain yang bermain di Piala Dunia, kompetisi kita diliburkan selama 1 bulan. Kompetisi kita melelahkan bukan hanya karena sering libur, tapi juga di beberapa waktu terlalu rapat menggelar pertandingan dengan lokasi yang berjauhan. Seringkali jarak antar pertandingan hanya 2 hari. Jadwal yang jauh dari kata profesional.

Siapa yang menyusun jadwal kompetisi? Tentu saja PSSI.

Kenapa kompetisi dihentikan selama Piala Dunia? Mudah ditebak, langkah ini dilakukan demi kepentingan stasiun TV pemegang hak siar. Biar spot iklan tetap terisi. Biar atensi penonton tetap tercurah ke ISL. Bersaing dengan tayangan piala dunia sama saja bunuh diri buat TV. Pak JK pasti tahulah TV mana yang kita maksud. TV yang memonopoli penyiaran kompetisi lokal selama tahun-tahun terakhir. Pertimbangan kualitas kompetisi selalu kalah oleh kualitas tayangan dan kepentingan televisi. Bukan hanya karena piala dunia, kick off pertandinganpun sering mengalah menyesuaikan selesainya tayangan reality show atau sinetron unggulan.

Siapa yang menentukan pemegang hak siar kompetisi? Tentu saja PSSI.

Pak JK, semangat juang atau stamina dalam sepak bola modern hanya satu faktor dari banyak faktor yg menentukan. Di kompetisi lokal kita, semangat juang malah sering menyajikan pemandangan negatif. Tebas sana tebas sini yang melenceng dari sportivitas. Praktik itu tumbuh subur karena buruknya penerapan regulasi dan kualitas wasit kita. Perlu Pak JK tahu, saat ini Indonesia hanya ada 5 wasit yang memiliki lisensi FIFA. Karena buruknya kualitas wasit kita, tidak ada satupun wasit Indonesia yang ditugaskan memimpin laga di AFF Cup atau pertandingan international lainnya.

Siapa yang bertanggungjawab terhadap pembinaan wasit? Tentu saja PSSI.

Pak JK, Indonesia tidak pernah kekurangan pemain-pemain bertalenta tinggi. Pemain-pemain itu juga tak pernah kekurangan semangat nasionalisme. Tapi ada yang perlu ditambahkan dari sekedar bakat. Sekedar semangat juang. Para ahli sekarang lebih sering membahas pentingya game intelligence sebagai faktor kunci permainan tim sepakbola level atas. Game intelligence adalah kecepatan untuk memproses informasi, mengaplikasikan aturan dan strategi juga membuat keputusan yang cepat dan tepat di atas lapangan. Kecerdasan membaca permainan lalu mengeksekusi keputusan. Executive function inilah yang menurut para peneliti membedakan pemain-pemain yang layak bertahan di level profesional teratas, dan mana yang tersingkir ke level di bawahnya.

Tidak seperti anugerah bakat, executive function ini bisa dikembangkan melalui pelatihan yang tepat pada masa kanak-kanak sampai remaja. Artinya, hanya bisa dilatih pada umur 3 sampai 19 tahun. Inilah kenapa federasi negara lain memusatkan investasi masa depan sepakbolanya pada pembinaan usia dini. Qatar misalnya, baru saja meneguk sukses melolosakn timnasnya ke Piala Dunia U20 setelah serius membangun Aspire Academy.

Sayangnya itu tak terjadi di negara yang Anda pimpin ini Pak JK. Jangankan mendirikan akademi sepakbola, menciptakan sebuah kompetisi berjenjang usia dini untuk akademi dan SSB swasta saja tidak pernah dilakukan serius oleh PSSI. Pembinaan usia dini inilah yang Pak JK sebut sebagai tempat latihan.

Siapa yang bertanggung jawab pada pembinaan usia dini? Tentu saja PSSI.

Tanpa adanya pembinaan usia dini dan kompetisi yang terstruktur, menyulitkan kita untuk melakukan talent scouting mencari pemain-pemain terbaik saat membentuk timnas. Seringkali timnas usia muda kita didominasi oleh pemain-pemain sekitar Jakarta saja. Timnas U19 kemaren terlihat menjanjikan berkat kegigihan pelatihnya blusukan. Effort yang memakan tenaga, waktu dan biaya. Hasilnya tetap saja bukan timnas yang diisi pemain-pemain terbaik dari seluruh indonesia. Di luar sana ada banyak pemain luar biasa yang bernasib sial hanya karena tidak bertemu Coach Indra Sjafrie. Anugerah alam yang kita sia-siakan hanya karena tidak adanya kompetisi dan sistem talent scouting yang baik.

Anak-anak muda usia siap asah yang kita punya, kalo ditotal jumlahnya lebih banyak dibandingkan yang dipunyai Brazil Pak JK. Tapi karena tak terurus, jangankan berprestasi, bermain sepak bola modern pun masih tertatih-tatih.

Siapa yang membentuk timnas? Tentu saja PSSI.

Di level senior, timnas yang kuat berasal dari kompetisi yang baik. Kompetisi profesional yang mengikuti rule of the games FIFA. Sayangnya aturan baku itu hanya ada untuk dilanggar di Indonesia. Sampai sekarang, belum ada satu pun klub di Indonesia yang bisa memenuhi 5 syarat lisensi klub profesional yang ditetapkan AFC. Jadinya kompetisi kita adalah kompetisi seolah-olah profesional yang diikuti klub-klub yang pura-pura profesional. Kompetisi yang menghasilkan para pemain tercitrakan terbaik yang gampang kalah menghadapi negara-negara tetangga. Negara-negara yang dulunya jadi lumbung gol kita.

Prestasi timnas kita terus menurun Pak JK. Lupakan menjadi macan asia mengalahkan Jepang, Korsel atau Iran. Kita sekarang sudah terbiasa kalah dari Myanmar, Filipina dan Brunei Darussalam.

Sudah terlalu lama PSSI tak pernah juara Pak JK. Terakhir di Sea Games 1987. Sudah 28 tahun! Kita memang pernah juara piala kemerdekaan tahun 2008. Sayangnya gelar itu kita raih setelah lawan kita menolak melanjutkan pertandingan karea officialnya mendapat bogem mentah di lorong menuju ruang ganti.

Siapa yang bertanggung jawab atas prestasi timnas? Tentu saja PSSI.

PSSI yang ogah-ogahan membina usia dini. PSSI yang kurang darah mencetak wasit dan pelatih. PSSI yang malas menerapkan aturan AFC dan FIFA. PSSI yang membiarkan mafia suap merusak kompetisinya. PSSI yang tak pernah transparan membuka laporan keuangannya. PSSI yang lebih fokus memikirkan keuntungan penjualan hak siar dibanding prestasi. PSSI yang tahunya hanya berkelit dan mencari alasan saat timnas kalah lalu memecat pelatih.

Pak JK, kanker yang menyerang persepakbolaan kita sudah sangat kronis. Bukan hanya menyerang semangat juang pemain, tapi sudah menyebar ke seluruh organ.

Penyakit itu sudah stadium akut. Dan Pak JK pasti tahu cara bijak melawan itu adalah dengan tidak membiarkannya tumbuh dan bertambah kuat.

#BekukanPSSI

Tulisan ini dipicu berita ini: http://bola.republika.co.id/berita/sepakbola/liga-indonesia/14/12/11/ngeknr-wapres-jk-tak-setuju-pssi-dibekukan

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Zzzeen’s story.